www.bagikata.com – Saat sekumpulan remaja dari Reading bernama Sundara Karma keluar beberapa tahun silam dengan single narco-minimalis Indigo Puff, mereka diterima dengan sangat baik oleh para pothead, padahal jika dibilang para pemadat ini kekurangan stok musik ngablu, ya sebenarnya tidak juga. Namun Indigo Puff memang lagu yang baik, dan terlebih-lebih menyuguhkan melodi yang catchy, sesuatu yang sulit saya temukan dari ragam musik ngablu serupa.

banner-sundara-karma

Lanjut ke awal 2017, Sundara Karma akhirnya merilis debut album mereka yang berjudul Youth Is Only Ever Fun In Retrospect. Banyak pendengar lama yang kecewa, lantaran musiknya sekarang lebih mass, alias dianggap sell out. Kebanyakan orang melihat Sundara Karma sebagai versi makanan cepat saji dari The Killers, dan sejujurnya susah bagi saya untuk mematahkan sudut pandang tersebut. Suara Oscar Pollock (vokalis) cukup mirip dengan suara Brandon Flowers (The Killers), dan walau tak di semua lagu, bunyi-bunyian serta arahan mixing yang mereka ambil juga banyak yang serupa. Namun musik Sundara Karma jauh lebih ringan, dan keseluruhan 15 lagu dari album debut mereka memang memberikan kesan bahwa band ini sengaja menciptakan lagu-lagu yang mudah meledak dan diketeng satu per satu. Beberapa lagu berusaha masuk ke dalam ranah kritik sosial, namun (setidaknya menurut saya) kurang bermuatan dalam memberikan komentar yang substansial. Ada juga titik-titik di mana Oscar terpeleset dan menulis lirik yang terlalu generik, bahkan untuk orang seumurannya (“Wild eyes,  skinny jeans, disengaged at just 19”).

 

Toh begitu, kita tetap harus mengapresiasi usaha Sundara Karma, karena faktanya menciptakan lagu rock catchy yang memiliki daya tarik untuk pendengar umum secara luas adalah hal yang sulit, dan mereka berhasil menciptakan 15 lagu seperti itu di umur yang masih sangat muda. Mungkin ciri khas yang mereka bawa dari masa-masa Indigo Puff adalah kemampuan mereka menciptakan musik ringan.

 

Akhir kata, hal terpenting yang dibuktikan album ini adalah bagaimana trope umum dalam musik rock sedang mati perlahan—aspek maskulinitas konvensional tak lagi diperlukan untuk menjual musik serupa. Sundara Karma datang membawa citra androgyny yang kental dan masih dapat membuat ribuan anak muda berjingkrak di Reading + Leeds Festival.

 

Kenapa album ini penting:

Britania Raya belum kekurangan stok musik rock gitar, namun dalam beberapa tahun silam hanya sedikit yang mampu berhasil menjadi sorotan media sembari melawan arus musik kulit hitam yang semakin dikomodifikasi secara global. Walau tak dapat dibilang penyelamat, melalui album ini Sundara Karma menunjukan bahwa musik mereka masih dapat menjadi relevan untuk anak muda.

 

Dengar jika kamu: 

Suka dengan The 1975 tapi menurutmu musik milik LANY kurang agresif, dan musik Circa Waves terlalu agresif. Sundara Karma berada tepat di tengah-tengahnya.

 


Baskara Putra merupakan founder BagiKata. Sehari-hari menulis lagu sendiri dan juga bersama Ffeast, mencari nafkah tetap sebagai Brand Manager di Double Deer Records.

 

Disunting oleh Tim BagiKata


YANG TERBARU

Ulasan : Marvel’s Avengers: Infinity War

BagiKata.com – EPIC. Hentikan apapun yang kalian lakukan dan pergi ke bioskop terdekat di sekitar kalian. Ada 1 post-credit scene yang


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.