Pemerintah Indonesia vs Freeport.

BagiKata.com – Kalimat ini sedang ramai dibicarakan di berbagai macam media massa bagaikan pertarungan dahsyat yang sudah dinanti sejak lama. Sebenarnya apa sih yang terjadi? Kenapa isu mengenai pemerintah Indonesia dan Freeport terkesan sangat pelik?

Untuk memahami ini, mari mengetahui sejarah Freeport saat pertama kali masuk ke Indonesia. PT Freeport-McMoran Copper & Gold Inc, pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1967 dengan kontrak yang memperbolehkan mereka mengeruk hasil bumi dari tanah Papua. Kontrak ini dilaksanakan secara eksklusif selama hampir 20 tahun. Pada tahun 1992, kontrak ini diperpanjang hingga tahun 2014. Dari tahun 2014 hingga saat ini, Freeport bekerja berdasarkan pengecualian khusus dalam ekspor bahan mentah, di mana semua perusahaan tambang harus mematuhi ini kecuali Freeport. Jadi, sudah hampir selama 50 tahun Freeport beroperasi di negara kita dengan banyak pengecualian khusus.

 

Lalu, apa sih inti masalahnya?

Pada dasarnya, apa yang Pemerintah kita inginkan adalah kepemilikan saham milik Freeport. Saat ini Pemerintah kita hanya memiliki sekitar 9% saham dari Feeport, dan yang ditargetkan adalah 51% saham Freeport menjadi milik Pemerintah dengan pemberian saham secara berkala. Bayangkan saja, tanah Papua sekaya itu, tapi kok daerahnya tidak maju? Karena sebagian besar keuntungannya tidak untuk daerah, melainkan untuk Freeport itu sendiri.

 

Mengapa Pemerintah perlu membeli saham Freeport?

Dengan nilai saham yang lebih besar, pendapatan yang masuk untuk negara akan meningkat. Dan dengan lebih banyaknya pemasukan masuk ke negara kita, kita bisa lebih banyak membangun fasilitas untuk teman-teman kita di Papua sana. Efeknya, Papua bisa membangun lebih banyak sekolah, infrastruktur, rumah, sehingga mereka juga dapat berkembang seperti pulau lainnya. Saat ini, yang menyebabkan biaya operasional ataupun kebutuhan hidup sehari-hari di Papua mahal adalah karena minimnya infrastruktur yang memadai. Harapannya, dengan adanya adanya tambahan dana masuk tersebut, pembangunan infrastruktur di Papua bisa mengalami percepatan.

 

Wah bagus dong! Lalu masalahnya apalagi?

Sebagai perusahaan swasta, Freeport tidak menyetujui ini, karena jelas akan berpengaruh terhadap produksi mereka, padahal mereka sudah investasi banyak sekali, mulai dari membangun kota, infrastruktur, sampai ke jaringan bawah tanah. Sebenarnya, tidak sedikit pengembangan daerah yang sudah dilakukan oleh Freeport untuk tanah Papua. Jika mereka harus memberikan saham mereka lagi, jelas keuntungan mereka akan berkurang lagi.

 

Memangnya maunya Freeport apa sih?

Freeport menginginkan kontrak yang serupa dengan yang sudah mereka miliki sejak tahun 1967. Kontrak eksklusif dengan kemudahan di pembayaran pajak, aturan ekspor yang tidak diatur, kepastian operasi hingga tahun 2041, dan maksimal kepemilikan saham Pemerintah Indonesia sebesar 30%.

 

Sekarang, situasinya bagaimana?

Saat ini, Pemerintah dan Freeport sedang bersitegang. Masing-masing masih kukuh dengan persyaratan mereka dan menolak adanya negosiasi. Freeport sendiri sudah menghentikan operasi mereka dan merumahkan ribuan pekerja mereka sebagai reaksi terhadap larangan ekspor mereka dari Pemerintah. Kita tidak boleh lupa jika hampir 99% pegawai Freeport di Papua adalah orang Indonesia, jadi ya saudara sebangsa kita juga lah yang terkena dampaknya. Belum lagi jika kita melihat bahwa Freeport berkontribusi sebesar 37.5% pada produk domestik bruto Papua.

Kondisi Pemerintah dan Freeport ini bisa membawa dampak yang sangat signifikan, terutama untuk teman-teman kita di Papua.
Begitulah gambaran besar konflik yang terjadi saat ini, tentu masih banyak hal-hal mendetail yang lebih mendiktekan masalah ini yang belum bisa ditulis disini. Hingga artikel ini ditulis (23 Februari 2017), kedua belah pihak masih bersikukuh dengan pilihan masing-masing dan tidak mau merubah ketentuan mereka. Tentu saja kita harus mendukung segala kebijakan Pemerintah yang suportif kepada rakyat. Selama hampir 50 tahun, Pemerintah kita selalu tertekan di bawah Freeport, baru saat ini kita mau mengambil kesempatan untuk menekan dan mengembalikan hasil kekayaan Indonesia kepada penduduk Indonesia itu sendiri, demi Indonesia yang lebih baik.


Agdiosa Manyan

Disunting oleh Tim BagiKata


YANG TERBARU

Warga Lokal – Bunuh Diri: Tak Pandang Bulu

BagiKata.com – Beberapa tahun lalu, saya mendapat pesan singkat dari teman dekat saya. Bahwa dirinya ingin bercerita. Tumben, pikir saya. Kondisi kami


Serba-Serbi Menstruasi

BagiKata.com – Siklus menstruasi merupakan siklus yang dinamis. Setiap perempuan bisa mengalami siklus yang berbeda dengan perempuan lainnya. Variasi ini biasanya normal.


Warga Lokal – Hidup Lebih Positif dengan Rutin Bersyukur

BagiKata.com – Hidup positif (baca: bahagia) itu tidaklah sulit. Terkadang hal-hal kecil yang tidak kita sadari membuat kita bahagia loh. Sayangnya,