BagiKata.com – “Bagaimana caramu memaafkan perselingkuhan?” perempuan itu bertanya. Saya gugup tak menjawab, sebagai pria yang berkali-kali berkhianat, berulangkali selingkuh, dan dikenal sebagai mata keranjang, saya merasa tak punya hak menjawab itu. Saya lebih sering berada dalam posisi meminta maaf bukan memberi maaf. Tapi tatapan mata perempuan masih menunggu, ia meminta jawaban, dan saya hanya bisa diam.

Untung pelayan datang, membawa sebotol bir dan segelas wedang jahe. Saya sedang tak enak badan. Jakarta yang beberapa hari ini hujan tanpa sebab, kerap membuat tubuh ringkih saya mudah terserang flu. “Jadi bagaimana?” kata perempuan itu, semakin memelas. Ia tak pernah seperti itu. Menunjukkan kelemahan diri, memohon, dan menyerah. Perempuan itu biasa berjalan dengan kepala tegak, punggung lurus, berbicara efisien, dan pengetahuan yang luas. Tapi malam itu ia butuh didengar dan butuh jawaban.

“Begini. Kukira maaf, seperti juga kepercayaan tidak diberi. Ia diperjuangkan dan kamu tahu benar ini,” saya berusaha membuat perempuan itu ingat segala nilai yang ia pegang selama ini. Tapi kita tahu, bahkan manusia paling kuat juga akan jatuh pada saat-saat tertentu. Ia menyerah dan memutuskan untuk menegak bir pahit, lantas membakar sebatang rokok yang tak pernah ia sentuh sejak lima tahun lalu. “Kukira aku akan baik-baik saja. Can you imagine? He cheat on me,” katanya.

Conflict between the man and the woman

Perselingkuhan tak mengenal kasta. Ia bisa terjadi pada siapapun dan sialnya mereka yang paling rentan perselingkuhan adalah mereka yang merasa hubungannya baik-baik saja. Kamu tahu? Mereka yang merasa paling kenal dengan pasangannya dan berseloroh “Ah ga mungkin dia begitu, gua tau banget siapa cowo gua,” dan seterusnya dan seterusnya. Seram? Tentu saja. Selama ini perselingkuhan terjadi, setidaknya berdasar pengalaman, kerap kali bukan soal kesetiaan, tapi soal bagaimana kita selesai dengan diri sendiri.

Ada banyak alasan orang selingkuh. Jenuh, pasangan yang tak memenuhi ekspektasi, the right person in the wrong time, those who come when you were bored, atau bahkan sekedar ingin membuktikan diri. Alasan ini klise, kerap kali menyebalkan, tapi ia ada. Apakah bisa dibenarkan? Tentu tidak, tak pernah ada perselingkuhan yang dibenarkan. Tidak bagi korban ataupun si pelaku. Saya percaya bahwa perselingkuhan merupakan akibat ketimbang sebab. Sebab kamu bosan, maka kamu selingkuh. Sebab kamu tak begitu sayang pasanganmu, kamu selingkuh. Dan sebagainya dan sebagainya.

Sampai hari ini saya merasa perselingkuhan itu konsep yang absurd. Dua orang yang memutuskan untuk pacaran harus terus menerus setia, tanpa jeda, memuliakan pasangannya dengan tidak berinteraksi romantik dengan yang lain, dan hanya menunjukkan afeksi dan relasi seksual melulu pada satu orang. Pada lingkup yang lebih luas kamu memaksakan pasanganmu untuk terus menerus tunduk dan bersamamu. Bahwa kamu punya otoritas lebih terhadap orang lain, menganggap ia milikmu, dan kamu milik orang lain.

selingkuh

Sebuah hubungan sehat semestinya membebaskan, termasuk dengan siapa ia menjalani hubungan romantik. Sebut ini gila atau mengagungkan polyamori, tapi ambil jeda sejenak lalu tanyakan, bagaimana anda ingin menjalani sebuah hubungan? Saya pribadi pernah menulis sebelumnya tentang hal ini. Tak pernah benar-benar percaya bahwa manusia bisa setia. Saya tak pernah percaya jika manusia bisa merasa cukup dengan satu orang belaka. Apapun jenis kelaminnya manusia tak pernah bisa merasa puas untuk mendapatkan afeksi dari satu orang saja. Saya menolak anggapan bahwa tiap tiap manusia dilahirkan untuk satu orang yang lain. Bahwa melulu menjadi setia dan monogamis adalah alasan paling rasional untuk bisa menjalani sebuah hubungan.

Tapi apa sebenarnya setia itu? Apa yang membedakan sebuah hubungan yang setia dengan relasi kepemilikan monopoli? Setia adalah kesadaran untuk bisa berhubungan, mencintai dan menjalin relasi sederajat dengan satu orang yang sama secara terus menerus dan konstan. Lantas beda definisi setia semacam ini dengan sebuah kontrak kerja di perusahaan out source apa? Melulu kita hanya disediakan pilihan yang tidak bisa kita bantah isinya. Apakah monogamis adalah sebuah hubungan yang sehat dan benar? Apakah bersetia sudah pasti mutlak sempurna secara moral?

Teman perempuan saya itu berada pada puncak kejayaannya. Ia cerdas, bekerja di perusahaan multinasional, lulusan luar negeri, gaji tinggi, menarik, dan nyaris tak punya alasan untuk bersedih. Tapi mengapa perselingkuhan jadi demikian berat baginya? “You tell me,” katanya menghela nafas. “Kamu kan berkali-kali selingkuh dan berkhianat. Jelaskan padaku mengapa kamu berkhianat,” katanya sedikit menuntut. Saya tahu ia butuh kanal untuk marah dan butuh jawaban, tapi saya ragu ia akan mau peduli.

landscape-1445716163-g-affair-200286591-001

“Kamu bisa saja jatuh cinta. Mempersiapkan kegembiraan, membiarkan bulu-bulu sayap kupu-kupu dalam perutmu jatuh berceceran. Menjaganya sebagai kebahagiaan tanpa jeda,” saya menjawab asal-asalan. “Kamu bisa melakukan itu. Membuat orang menjadi sayang padamu. Menjadi peduli padamu. Tapi kamu tak bisa membuat mereka bersetia atau tunduk pada kemauanmu,” saya melanjutkan. Kesetiaan itu konsep yang rumit, butuh dua orang dewasa yang sadar bahwa mereka mesti menyediakan waktu satu sama lain agar bisa bersama, mengurangi interaksi dengan yang lain agar perasaan pasangannya terjaga, ini merepotkan.

Teman perempuan saya menolak ini. Ia percaya bahwa sebuah hubungan memang seharusnya kesepakatan, perjanjian untuk selalu bersetia tanpa syarat. Kamu mungkin tak bisa memilih dengan siapa kamu jatuh cinta, dengan siapa kamu akan sayang, tapi kamu bisa memilih kepada siapa kamu rela disakiti. “Tapi kita bisa menentukan pilihan. Kepada siapa dusta akan disemat dan rasa percaya dilabuhkan. Keduanya sama-sama adil,” saya menjawab. Ia tak puas, ia mengaku telah setia, tak pernah macam-macam, tapi mengapa ia diselingkuhi? “It’s not fair,” katanya.

Siapa bilang sebuah hubungan mesti adil? Sebuah hubungan mesti bersiap akan kompromi dan kompromi dan kompromi. Sepasang kekasih yang baru jadian, pasti akan menikmati persenggamaan pertama mereka, kedua, ketiga, tapi bagaimana dengan persenggamaan ke seratus delapan puluh enam? Bagaimana dengan makan malam bersama ke tujuh puluh? Nonton film bersama untuk ke dua ratus kalinya? Intensitas komunikasi menurun, telepon berkurang, percakapan wasap semakin singkat, dan bosan adalah perasaan yang sangat akrab. Lalu kamu bicara tentang fairness?

affair

Kalau kau tak suka perselingkuhan maka berpisahlah. Tak perlu ada yang dibikin repot. Teman perempuan saya hanya terkejut, mungkin, sebagaimana banyak orang dengan jalan hidup yang lurus dan terencana, pengkhianatan seperti kegagalan. Tapi kita tahu itu penyelesaian perselingkuhan bukan perkara sederhana, bukan perkara pamit dan merayakan kepergian. Perpisahan lebih dari itu. Perpisahan lebih rumit dari itu. “Jadi gua harus apa,” katanya bertanya lagi.

“Mungkin ini waktu yang tepat buat belajar bahasa Jerman? Belajar gitar dan ukulele dan meditasi,” kata saya. Perselingkuhan mengajarkan saya bahwa tak pernah ada hal yang layak mesti dipertahankan gila-gilaan. Kamu tak perlu mempercayai pelaku perselingkuhan dan tak perlu juga menganggap setiap hubungan romantik adalah sebuah relasi sakral. Cara menikmati hidup barangkali dengan tidak terlalu ambil pusing pada hal-hal yang sepele. Menangisi seorang pengkhianat salah satunya.

 

Foto: Tumblr, The AV Club, Zimbio


Arman Dhani

Disunting oleh BagiKata


YANG TERBARU

Warga Lokal – Bunuh Diri: Tak Pandang Bulu

BagiKata.com – Beberapa tahun lalu, saya mendapat pesan singkat dari teman dekat saya. Bahwa dirinya ingin bercerita. Tumben, pikir saya. Kondisi kami


Serba-Serbi Menstruasi

BagiKata.com – Siklus menstruasi merupakan siklus yang dinamis. Setiap perempuan bisa mengalami siklus yang berbeda dengan perempuan lainnya. Variasi ini biasanya normal.


Warga Lokal – Hidup Lebih Positif dengan Rutin Bersyukur

BagiKata.com – Hidup positif (baca: bahagia) itu tidaklah sulit. Terkadang hal-hal kecil yang tidak kita sadari membuat kita bahagia loh. Sayangnya,