bkbsk
Sebagai bagian dari kelompok generasi millennial (secara kualifikasi umur), saya sadar betul bagaimana ‘generasi’ ini seringkali dikritik, baik oleh mereka yang berada dalam kelompok umur lebih tua, atau oleh orang-orang seumuran saya sendiri. Kritikan ini membawa muatan yang berbeda-beda, mulai dari perilaku konsumsi hingga etos kerja, iya, terutama etos kerja. Loyalitas kami seringkali dipertanyakan oleh departemen sumber daya manusia. Mayoritas dari kami, sepenglihatan saya, merasa tidak memiliki kepentingan untuk tahan berlama-lama dalam sebuah institusi, organisasi atau perusahaan. Success stories yang makin mudah dikonsumsi—dan sering kali diagung-agungkan—akibat penetrasi internet membuat kami (saya salah satunya) menganggap bahwa kesuksesan berarti menciptakan organisasi, kolektif, institusi sendiri, atau membesarkan nama sendiri, dan hanya itu. Menanamkan loyalitas dalam organisasi lain sebagai karyawan berarti dengan menghabiskan paruh besar hidup untuk membangun mimpi orang lain.

Meskipun diri ini tak sepenuhnya setuju dengan pemikiran di atas, karena menurut saya tiap orang harus bisa mendefinisikan arti kesuksesan masing-masing, tetap sah-sah saja jika memang ada yang ingin membangun warisan nama dengan jalannya sendiri. Keinginan kuat ini, yang seringkali saya temukan di teman-teman sebaya saya, hampir pasti muncul dengan kegundahan yang selalu sama, “kalau gue bukan influencer, gimana caranya ide/startup/apapun yang gue buat sukses atau cepet terkenal ya?”

Lucu rasanya melihat bagaimana pola konsumsi media sosial kita dapat mereduksi sebuah ide atau dorongan berkarya seseorang menjadi sebuah kegundahan yang sangat cetek. Sekarang, tingkat kenamaan seseorang berbanding lurus dengan kemungkinannya sukses dalam bidang apapun. Ini dapat terjadi lantaran kamu otomatis sudah melewati tahap (yang mungkin) tersulit dalam memasarkan ide: mendapatkan perhatian audiens melalui orang-orang yang sudah mengenalmu sebelumnya. Pada akhirnya, kegundahan di atas menjadi valid. Lucu, cetek, namun valid.

Kegundahan tersebut, kurang lebih, merupakan kegundahan sama yang saya miliki kurang lebih dua tahun lalu, saat ingin mendirikan BagiKata. Berkali-kali ide saya ditepis, disebut mustahil, atau ditertawakan oleh orang-orang terdekat. “Lah, orang kan tiap hari udah ngobrol, ngapain juga lo bikin layanan buat orang ngobrol?”. Idenya yang sudah cukup aneh, ditambah lingkaran internal BagiKata yang tak berisikan orang-orang dengan social capital yang cukup substansial, membuat saya sadar betul bahwa melakukan langkah pertama BagiKata merupakan hal yang berat. Teman-teman kami dari lingkungan pertemanan pribadi merupakan orang-orang dengan followers sebanyak jumlah anggota ormas, namun kami tidak ingin bergantung kepada mereka untuk membangun userbase awal BagiKata, walau pada akhirnya beberapa dari mereka ada yang membantu dan kami sangat berterima kasih untuk itu.

BagiKata merupakan layanan yang mengedepankan sentuhan personal manusia, kami mengumpulkan dan bekerjasama dengan banyak handler untuk membantu penggunanya setiap hari. Cerita personal dari tiap individu unik yang datang ke BagiKata membuat kami harus melindungi mereka dengan syarat dan ketentuan penggunaan. Ini berarti kami menjaga identitas pengguna, dan merahasiakan identitas para handler. Mereka tak lebih dari sebuah ikon/gambar profil BagiKata bagi 70 ribu lebih pengguna kami, dan terkadang harus bangun sampai subuh untuk mendengarkan cerita/keluhan pengguna dan membantunya, tanpa ada satupun dari handler mendapatkan pengakuan secara sosial—atau setidaknya di media sosial. Toh, pada akhirnya, kepada merekalah BagiKata bergantung untuk membesarkan userbase. Kinerja yang baik serta kontribusi gila-gilaan para handler mengakibatkan BagiKata sebagai sebuah ide dapat dianggap baik oleh audiens, dan kabar baik akannya tersebar dari mulut ke mulut.

Saya tak bisa memungkiri fakta bahwa reputasi para handler dapat teramplifikasi (sehingga dapat menarik banyak sekali pengguna baru) karena mereka disokong oleh sistem internal dan sebuah entitas besar bernama BagiKata, namun juga tak dapat menepis kenyataan bahwa kualitas merekalah yang membuat orang merasa terbantu, dan terkadang termotivasi untuk juga ikut membantu. Mereka semua mengerjakan ini tanpa ada imbalan dalam bentuk social capital, dan dapat menciptakan dampak yang sebegitu besarnya tanpa diketahui nama dan wajah asli masing-masing oleh para pengguna, dari awal BagiKata terbentuk.

Para handler adalah antitesis dari kegundahan saya dan teman-teman sebaya lain. Mereka membuktikan bahwa berkarya di era di mana ide baru harus diberikan akun Instagram dan Facebook Page masing-masing hanyalah hak eksklusif milik selebriti internet dan influencer media sosial. Mereka membuat saya percaya, bahwa selama ada keikhlasan dalam keinginan untuk berkarya atau membantu orang lain, pasti keinginan ini akan diamplifikasi berlimpah, tumpah ruah, oleh semesta.

BagiKata tak dapat berdiri sejauh ini tanpa para handler, yang siang-malam tak berhenti membantu puluhan ribu kawan-kawan di luar sana tanpa ada keinginan untuk diketahui identitasnya. Jangan lupa ucapkan terima kasih kali selanjutnya kamu bercengkrama dengan mereka. BagiKata belum sebesar yang kami selalu bayangkan, tapi kami akan selalu bertumbuh—bersama dengan seluruh handler. Ulang tahun kedua BagiKata ini adalah untuk para handler, dan mungkin selamanya untuk mereka.

Baskara Putra merupakan founder BagiKata. Sehari-hari menulis lagu sendiri dan juga bersama Ffeast, mencari nafkah tetap sebagai Brand Manager di Double Deer Records.


YANG TERBARU

Ulasan : Marvel’s Avengers: Infinity War

BagiKata.com – EPIC. Hentikan apapun yang kalian lakukan dan pergi ke bioskop terdekat di sekitar kalian. Ada 1 post-credit scene yang


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.