BagiKata.com – 2019 merupakan tahun pesta politik bagi masyarakat Indonesia. Diadakannya pemilihan Presiden, wakil rakyat di lembaga legislatif daerah dan pusat, serta partai politik menjadi bahan utama dalam perbincangan, baik di dunia maya maupun obrolan dengan siapapun yang ditemui di jalanan. Seringkali kita mendengar orang bertanya, “Lo pilih 1 atau 2?”

Akan tetapi, atmosfir politik tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di tahun 2019, seluruh lapisan masyarakat seolah ikut turun meramaikan pesta politik lima tahun sekali ini, terutama dari aktifnya generasi muda dalam dunia maya dan media sosial untuk menunjukkan sikap dan opininya terhadap situasi yang sedang terjadi. Bahkan, jumlah politisi muda yang berpartisipasi dalam Pemilu 2019 ini terhitung besar. 

BagiKata berkesempatan berbincang dengan Dara Adinda Kesuma Nasution, wanita asal Pematang Siantar kelahiran 4 Agustus 1995, yang pada pemilihan umum tahun ini mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR usungan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara 3. Dapil ini meliputi daerah Pematangsiantar, Simalungun, Batubara, Binjai, dan enam kota/kabupaten lainnya.

Image result for dara adinda nasution

Terjunnya Dara ke dunia politik dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Pertama, Dara semakin prihatin dengan adanya ketimpangan pembangunan yang terjadi di Indonesia. Pembangunan yang selama ini bersifat “Jawa-sentris” menyebabkan ketidaksetaraan kualitas hidup masyarakat. Lahir dan tumbuh besar di Siantar, Dara merasakan betapa berbedanya hidup di wilayah yang tidak tersentuh pembangunan seperti Siantar jika dibandingkan dengan kota besar seperti Medan atau Jakarta yang lebih maju dan berkembang. Dara juga menambahkan, “Gue punya misi pribadi untuk membuat politik menjadi less scary, dengan harapan bahwa anak muda bisa relate dan nggak lagi menganggap politik sebagai sesuatu yang menyeramkan.”

Alasan kedua adalah praktik korupsi yang masih mendarah daging dalam birokrasi politik Indonesia. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tahun 2019, Sumatera Utara termasuk salah satu provinsi terkorup se-Indonesia, lalu diikuti oleh Aceh, Riau, Papua, Papua Barat, dan Banten. Dara menambahkan bahwa dalam proses melengkapi syarat administrasi, pelayanan publik di Indonesia terutama di daerah terbilang kacau dan masih banyak ditemukan praktik ‘uang pelicin’. Praktik ‘uang pelicin’ ini sangat lumrah terjadi di Indonesia. “Bahkan di Sumut itu ada istilah: ‘semua urusan memakai uang tunai’,” imbuhnya.

Lanskap politik Indonesia yang bersifat maskulin dan tua juga menjadi alasan lain bagi Dara untuk terjun ke dunia politik. Menurutnya, politik Indonesia saat ini masih didominasi oleh laki-laki dan orang tua sehingga belum mampu merepresentasikan suara perempuan dan anak muda. Keterlibatan perempuan dalam ranah politik masih terlalu rendah. Adanya perempuan dalam partai politik selama ini hanya diperuntukkan untuk mengisi syarat kuota 30%. Pada kenyataannya, suara dan kepentingan perempuan saat ini masih belum diadvokasi dengan baik.

 

Dara dan banyak calon legislatif muda lainnya pada pemilihan umum tahun ini jelas membawa angin segar bagi perpolitikan Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa anak muda kini tidak lagi bersikap apatis dan mulai ikut andil dalam situasi politik dan demokrasi negara ini. Karakter mereka yang bersifat kritis serta kemampuan yang lebih baik dalam memanfaatkan teknologi dapat membawa dampak positif bagi perubahan politik Indonesia ke arah yang lebih transparan dan menghilangkan kejenuhan publik akan tindakan politisi yang selama ini cenderung korup, kuno, dan menganggap bahwa politisi muda tidak memiliki kualitas seorang pemimpin atau pengalaman yang mumpuni untuk merepresentasikan suara rakyat. “Menurut gue, ada fenomena aneh di Indonesia ini. Namanya ‘wakil rakyat’ tapi ketika mendatangi rakyat secara langsung, rakyatnya ini nggak tahu siapa yang mewakili mereka,” ucapnya. Adanya generasi muda dalam arena politik seakan mengurangi jarak antara wakil rakyat di parlemen dengan rakyat yang mereka wakili. Sesuai data yang dikeluarkan oleh Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), pada pemilihan umum tahun 2019 ini, dari total 7.993 caleg DPR RI, terdapat 929 orang caleg berusia di bawah 34 tahun. Dari 929 orang tersebut sebesar 69,64 persen adalah caleg perempuan. 

PSI (Partai Solidaritas Indonesia) adalah salah satu partai politik yang banyak mengusung politisi muda pada Pemilu tahun ini. Parpol yang memfokuskan perjuangannya untuk pemberdayaan perempuan dan pemuda ini kemudian menarik hati Dara untuk bergabung ke dalamnya. Pada masa kampanyenya, Dara gencar menyuarakan isu kesetaraan gender, seperti mendukung adanya pelarangan poligami bagi PSN/ASN. Selain itu, pemberantasan korupsi dan mengatasi ketimpangan pembangunan yang ada di Indonesia juga menjadi dua isu yang menjadi fokus politisi muda tersebut. Sesuai dengan kriteria caleg PSI yang harus anti-intoleransi dan anti-korupsi, Dara Nasution berupaya untuk memberantas korupsi yang marak terjadi di daerah asalnya, Sumatera Utara, juga menyamaratakan pembangunan agar dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Image result for dara nasution

Meskipun kalah pada Pemilu 2019 ini, Dara Nasution mengaku bahwa dia sudah sangat senang bahwa kehadirannya dalam pesta politik tahun ini memberikan dampak dalam meningkatkan kesadaran dan ketertarikan pemuda dalam politik. Pesannya pada generasi muda adalah untuk lebih memberikan perhatian pada politik karena setiap hal dalam hidup ini berhubungan dengan politik. Partisipasi anak muda dalam politik dapat menyuarakan kepentingan dari berbagai elemen masyarakat. 

“Meski secara elektoral kita belum menang, tapi ada efek-efek lain yang tidak bisa dihitung dengan vote, seperti membuat orang semakin tertarik pada politik. Gue sendiri merasa terharu bahwa pada akhirnya hal ini berdampak dengan caranya sendiri,” ujar Dara.

*Disclaimer: Artikel ini tidak menunjukkan afiliasi politik BagiKata.


Artikel ini ditulis oleh Annisa Rohmaniah dari transkrip rekaman BagiSuara dengan Dara Adinda Nasution bulan Juni 2019.


YANG TERBARU

Warga Lokal : Feminis Berkelas

BagiKata.com – Feminist Fest Indonesia, acara yang akan diselenggarakan oleh Jakarta Feminist pada 23-24 November 2019, sempat viral di media sosial


Perempuan dalam Industri Teknologi

BagiKata.com – Dalam era globalisasi, peran dan posisi perempuan dalam dunia kerja semakin meningkat signifikansinya, tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia


Sebuah Surat Untuk Kandidat

Teruntuk para kandidat yang telah berhasil membuat kami terkesan dan dipenuhi harapan namun terpaksa kalah oleh ia yang lebih cuan;