BagiKata.com – Publik Amerika Serikat sedang heboh dengan terpilihnya Presiden baru mereka, Donald Trump. Yang menarik, kehebohan tersebut bukanlah sorak sorai optimistis dari penduduknya, namun malah maraknya protes kekecewaan yang muncul dalam bentuk celotehan di media sosial hingga aksi turun langsung ke jalan. Sosok Trump yang penuh dengan pernyataan kontroversial dan sering menyudutkan kaum minoritas dan imigran dianggap akan sulit menang di pemilihan presiden ini. Itulah sebabnya banyak yang terkejut atas terpilihnya Trump sebagai presiden baru.

Lalu sebenarnya, apa yang membuat sosok sekontroversial Trump bisa menang di pemilihan presiden Amerika Serikat?

Jawaban singkatnya adalah karena sistem pemilu AS yang berpihak pada Donald Trump. Atau mungkin lebih tepatnya, Donald Trump bisa memanfaatkan sistem pemilu AS dengan lebih baik.

Sistem pemilu AS berbeda dengan sistem pemilu Indonesia. Di Indonesia, pemenang pemilihan presiden ditentukan dari suara terbanyak, atau biasa disebut dengan popular vote. Sementara AS menggunakan electoral vote. Di AS ada sebuah sistem yang bernama electoral college, dimana para pemilih mewakilkan suara mereka pada para electors, dan suara para electors inilah yang menentukan siapa kandidat yang menang.

Itu sebabnya presiden yang menang secara popular vote belum tentu menjadi presiden terpilih baru. Hal itu disebabkan jumlah electors dari setiap negara bagian berbeda, ditambah juga para electors tidak harus merepresentasikan hasil popular vote dari negara bagian mereka. Sistem inilah yang menguntungkan Donald Trump. Secara popular vote, Hillary sebenarnya unggul 668.171 suara dibanding dengan Trump. Namun secara electoral vote, Trump lebih unggul dengan mengantongi 276 electoral votes dari 538 elector di seluruh AS.

hillary-clinton-and-donald-trump-reuters_650x400_51474989324

Selain dengan sistem electoral vote, pemilu AS juga bisa ditentukan oleh Senate dan Congress. Sedangkan situasi di dua lembaga itu saat ini dominan diduduki oleh partai Republikan, yang mana lagi-lagi menguntungkan bagi Trump karena dia berasal dari partai tersebut.

Propaganda “Make America Great Again” yang diusung Trump pun berhasil merebut hati warga asli Amerika dan juga kaum pekerja buruh yang membutuhkan perubahan-perubahan yang dijanjikan oleh Trump. Sementara Hillary yang berusaha mengambil suara kaum perempuan ternyata gagal merefleksikan dirinya sesuai dengan keinginan pemilih perempuan. Sosoknya yang ambisius dan sering kali enggan disamakan dengan sosok ibu rumah tangga biasa (atau peran-peran lainnya yang ia anggap kurang signifikan) membuat Hillary gagal meraih simpati kaum yang ia coba representasikan.

Belum lagi 11 hari menjelang pemilihan, direktur FBI, James Comey, mengungkapkan adanya temuan baru atas kasus email Hillary. Hal itu seolah semakin memperkuat citra Hillary yang sering dianggap  bagian dari “the old economy” atau bisa disebut juga sebagai penganut pandangan konvensional terhadap beberapa hal, termasuk pembatasan hak rakyat untuk mengetahui apa yang terjadi di pemerintahan.

Skandal email Hillary dan sikapnya yang lebih memilih menghindari kejaran media membuat ia seperti orang yang tidak dapat dipercaya. Sementara Trump berhasil menemukan cara untuk berkomunikasi dengan para pemilihnya lewat pernyataan kontroversial, janji manis membangkitkan kejayaan AS dan serangan politik kepada lawan politiknya.

Trump juga dengan cerdik memainkan taktik kampanyenya dengan berfokus untuk mendapat dukungan dari House of Representatives di negara-negara bagian yang dianggap krusial demi mendapat suara para elector, sementara Hillary menghabiskan banyak waktu berusaha berkampanye untuk popular voters yang pada akhirnya suaranya tidak terlalu signifikan.

Donald Trump

Beberapa hal di atas menyebabkan banyak pendukung setia partai Demokrat terpaksa mengganti pandangannya dan memilih calon presiden lainnya, dengan harapan bahwa, presiden baru ini bisa memberi nafas baru bagi rakyat dengan terbuka dan memberikan AS perubahan yang dibutuhkan.

Pertanyaanya sekarang adalah, akankah Donald Trump bisa membuktikan visinya dan membawa Amerika semakin berjaya? Atau justru terpilihnya Trump menjadi awal dari keterpurukan Amerika Serikat?

Ada yang bersedia berbagi pendapat?

 

Foto: National Review, Salon.com, NDTV


Rinto Simatupang  & Indah Kusumasari

Disunting Oleh Tim BagiKata


YANG TERBARU

Warga Lokal – Bunuh Diri: Tak Pandang Bulu

BagiKata.com – Beberapa tahun lalu, saya mendapat pesan singkat dari teman dekat saya. Bahwa dirinya ingin bercerita. Tumben, pikir saya. Kondisi kami


Serba-Serbi Menstruasi

BagiKata.com – Siklus menstruasi merupakan siklus yang dinamis. Setiap perempuan bisa mengalami siklus yang berbeda dengan perempuan lainnya. Variasi ini biasanya normal.


Warga Lokal – Hidup Lebih Positif dengan Rutin Bersyukur

BagiKata.com – Hidup positif (baca: bahagia) itu tidaklah sulit. Terkadang hal-hal kecil yang tidak kita sadari membuat kita bahagia loh. Sayangnya,