Wuwusekang wus ing ngelmi. Kaprawolu wanudyo lan priyo. Ing kabisan myang kuwate. Tuwin wiwekanipun,” demikian bunyi dari sebuah karya sastra Jawa kuno yang saya baca dalam jurnal milik adik dari nenek saya. Dengan polos saya bertanya apa makna dari tulisan tersebut. Kemudian dijelaskannya dengan singkat, ‘katanya yang telah selesai menuntut ilmu, wanita hanya seperdelapan dibanding pria dalam hal kepandaian dan kekuatan serta kebijaksanaannya’. Mungkin sastra Jawa kuno itu yang menjadi salah satu faktor pendukung beliau rela dinikahi tanpa dasar cinta. Masih berusia belasan tahun, beliau tidak mampu mengelak, terlebih melawan. Maklum, pada masa itu wanita adalah wani tata bukan wani nata.

meghan-duthu-114575

Dalam bahasa Jawa, kata ‘wanita’ berasal dari wani ditata atau dalam bahasa Indonesia ‘berani ditata’ – berlawanan dengan wani nata yang artinya ‘berani mengatur’. Dalam perkawinan, wanita juga identik dengan istilah kanca wingking – teman di dapur. Secara garis besar, istri adalah wadon atau secara istilah dititahkan di dunia ini sebagai pengabdi lelaki yang bersedia diatur-atur. Tetapi kini era telah bertransformasi. Tanpa unsur ingin menjatuhkan adat manapun, jika diharuskan memilih saya tidak bersedia diperlakukan selayaknya wadon yang setiap saat harus manut, terlepas dari salah atau benar perilaku sang suami.

Saya memang memilih untuk menganut agama yang memiliki kepercayaan bahwa surga seorang istri ada di bawah telapak kaki suami, namun saya tidak akan mengizinkan hal tersebut membatasi langkah saya dalam berpikir dan berkarya.

jake-melara-30681

Keinginan untuk berkembang, selama dieksekusi dengan baik dan benar, tidak akan membawa dampak kerugian atau kerusakan bagi pihak manapun – malah berpotensi menjadi sumber inspirasi. Pemikiran seperti ini tergolong dalam paham feminisme, sebuah paham yang saya yakini benar adanya dikarenakan saya menghargai konsep emansipasi dan kesetaraan gender. Pemahaman feminisme sendiri, pun, masih sering disalahartikan sebagai bentuk perlawanan dari kaum wanita terhadap kaum pria, sedangkan perlawanan itu sedianya ditujukkan untuk sistem keadilan.

Perlu dipahami, feminisme (selama tidak berlebihan) bukanlah komunitas anarki melainkan sebuah pergerakan yang mengadvokasi publik untuk menyediakan ruang bagi golongan yang termajinalkan secara politik, sosial, ekonomi, dan lainnya. Bukan perkara siapa yang lebih berkuasa, feminisme mengarah pada perjuangan untuk mendapatkan keadilan yang merupakan hak konkret setiap individu dan penghapusan teori degradasi yang menyudutkan lawan jenis. Lalu karena saya menganut paham liberal feminism, lantas saya memandang non-feminis sebagai minoritas dan pihak merugi? Tidak.

emily-morter-188019

Menjadi feminis atau non-feminis adalah pilihan hidup masing-masing orang, dipengaruhi lingkungan yang kemudian mengacu pada daya pandang dan cara hidup. Perbedaan daya pandang dan cara hidup ini kemudian berujung pada para individu dan kelompok yang masih memandang feminisme sebagai aliran menyesatkan. Beberapa dari mereka masih beranggapan bahwa feminisme melahirkan sosok wanita modern yang hidup dibawah pengaruh budaya Barat, tidak becus menjalankan hakikatnya, cenderung tidak membutuhkan lelaki, dan sebagainya.

Orang tua saya sejak dulu mengatakan bahwa menjadi seorang istri jangan hanya andal dalam urusan dapur, namun juga dalam menerapkan norma-norma kehidupan melalui pendidikan terhadap anak. Wanita patut mendapat pendidikan yang setara dengan pria agar tidak dipandang remeh dan diperlakukan semena-mena. Sejak kecil saya selalu diingatkan, untuk tidak pernah berhenti belajar selagi berkesempatan. Kenapa? Sehingga kelak saya mempunyai bekal untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup, yang didalamnya termasuk pernikahan.

Meskipun patut diakui bahwa pria memang unggul dalam beberapa hal, namun bukan berarti wanita tidak mampu melakukan apa yang mereka sebut dengan ‘pekerjaan pria’. Saya menolak untuk menjadikan pria sebagai sumber ketergantungan satu-satunya, melainkan sebagai bentuk dukungan. Prinsip saya pada akhirnya kita hanya memiliki diri sendiri untuk bertumpu dan bersandar, sehingga percaya pada kemampuan diri dan memiliki pendirian yang kuat menjadi komponen-komponen penting untuk menjalani hidup yang seimbang. Walau jumlah pria yang merasa terintimidasi oleh wanita berpendidikan sudah berkurang, istilah seperti ‘pemimpin wanita’ atau ‘wanita yang berani bersuara’ masih belum lazim di beberapa bilangan. Bukan hanya di dunia korporat, namun juga di lingkup pernikahan.

rawpixel-com-196464

Kata ‘feminis’ dan ‘pernikahan’ nyatanya masih ditempatkan dalam ruang terpisah ketika sebenarnya dua hal tersebut dapat bersinergi dengan baik apabila dipersatukan. Dari yang saya ketahui, untuk meraih kesetaraan dalam hubungan antar pria dan wanita tidak melulu harus dengan cara agresif seperti menjatuhkan lawan dengan bersikap lebih dominan atau lain sebagainya; cukup dengan berjalan berdampingan dan tidak saling mendahului, toh segala sesuatu yang dijalani bersama dan dibarengi toleransi akan terasa lebih ringan. Bila dianalogikan, saya dan pasangan adalah rekan kerja satu divisi.

Tidak perlu semuluk menjadi wani nata. Memiliki keberanian untuk mengejar mimpi atau menyuarakan pendapat saja sudah merupakan gerakan-gerakan yang terkesan kecil namun mampu berpengaruh besar dalam misi mendapatkan hak sebagai wanita, yaitu diperlakukan secara seimbang dan adil tanpa hujatan dari lawan jenis. Karena nyatanya, saat ini kompetensi wanita tidak hanya dinilai dari dalam dapur saja. Seperti bunyi sepenggal lafal dari sosok wanita sejati yang teramat saya kagumi, R.A. Kartini – “gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.”


Savira Ralie selalu memiliki ketertarikan dengan literatur. Topik tulisan yang menjadi favorit Savira antara lain kemanusiaan, kesetaraan gender, dan psikologi. Savira berbagi pengalaman hidupnya atau pendapatnya mengenai isu-isu yang sedang diperbincangkan melalui blog pribadinya di saviralie.wordpress.com. Selain menulis, Savira suka membaca novel psikologis thriller atau menonton dokumenter dan melukis.

Disunting oleh tim BagiKata.


YANG TERBARU

Ulasan : Marvel’s Avengers: Infinity War

BagiKata.com – EPIC. Hentikan apapun yang kalian lakukan dan pergi ke bioskop terdekat di sekitar kalian. Ada 1 post-credit scene yang


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.