BagiKata.com – Kita adalah pihak yang sering disebut sebagai generasi milenial. Kita tumbuh besar dengan teknologi-teknologi yang lebih canggih dari generasi sebelumnya dan oleh karena itu kita mempunyai pola yang berbeda secara sosial dengan generasi-generasi sebelumnya, sebutlah generasi X, baby-boomers, atau apalah itu.

Kita adalah generasi yang begini dan begitu dan seterusnya dan seterusnya. Tapi jujur, di sini saya justru kebingungan. Berapa banyak anak muda Indonesia yang paham dengan istilah-istilah yang kebarat-baratan ini, istilah ‘gap antar generasi’. Antara Generasi X dan Generasi Y. Antara saya dan kakak atau Ibu saya. Antara si tua dan si muda. Antara nilai-nilai yang sudah usang, seperti kisah Siti Nurbaya atau Yuli dan Romeo, dengan pemberontakan ala Awkarin. Kami generasi Y, yang katanya sudah sama sekali lepas dari nilai-nilai lama. Karena kami generasi ‘baru’ yang bersemi, seperti halnya Arab Spring.

Seberapa sering kamu meremehkan seseorang hanya karena usia mereka? Hal ini terjadi di mana-mana dan akan selalu ada dalam lembaran sejarah manusia. Generasi milenial (kelahiran 1982 – 2002) dianggap sudah mengenal dengan teknologi baru seperti internet, di mana ada banyak yang dilewatkan oleh mereka. Misal saja, karena kemudahan dalam memperoleh sesuatu, seperti adanya internet dan mesin pencarian, membuat mereka malas untuk membaca buku dan kembali ke pertemuan tatap muka ataupun diskusi organik karena orang-orang memiliki media sosial.

Multiethnic Group of People Socail Networking at Cafe

Kemudian inilah yang terjadi bahkan di dunia kerja, ketika generasi milenial dirasa  tidak memiliki nilai-nilai kerja yang baik seperti zaman mereka dulu. Sayangnya, kita juga perlu melihat dari sisi lain bahwa yang dianggap “penurunan nilai” adalah tergantung konteksnya.

Memahami konteks sangatlah penting. Misalnya begini, jika kita berbicara dalam konteks etos kerja individu, “kemalasan” generasi milenial tentu adalah sesuatu yang buruk. Salah satu yang buruk dari etos kerja generasi milenial adalah bagaimana mereka mudah bossn dalam suatu pekerjaan. Istilah kasarnya adalah bekerja seperti ‘kutu loncat’, mudah berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya dalam rentang waktu yang singkat. Tiap pekerjaan membutuhkan loyalitas, jadi akan cukup meragukan jika etos kerja tak seperti yang diharapkan. Para generasi milenial mudah berpindah tanpa memikirkan matang-matang konsekuensi yang akan menimpa karirnya ke depan.

Jika terkait kemampuan berkomunikasi, generasi milenial akan lebih mudah memahaminya, apalagi bisnis-bisnis besar juga dipengaruhi oleh perkembangan zaman. Di zaman saat ini, perkembangan internet sudah sangatlah besar hingga-hingga semua dapat dikerjakan melalui internet. Orang-orang—tanpa mengenal umur—dapat mengisi survei, petisi, atau berkomen dalam satu gambar. Marketing tak lagi hanya perkara membuat desain untuk baliho, tetapi juga digital marketing, di mana semua dilakukan menggunakan platform berbagai media sosial. Bukankah generasi milenial sangatlah memahami ini?

genrty

Ternyata gap antar generasi terjadi di berbagai ranah. Sistem yang rigid dan dengan sistem hierarkis cenderung mudah dalam menciptakan gap antar generasi. Dalam organisasi sekolah hingga kampus misal saja, tak jarang senior-senior yang sudah ‘pensiun’ dan tak lagi menjadi bagian organ menjadi konsultan hingga-hingga akhirnya malah ‘mengurusi’ kembali organisasi yang tidak ia pegang. Post-power ssyndrome. Namun, yang paling menyedihkan kembali adalah ketika kamu tidak berani untuk menyatakan kekeberatan atau berani melawan. Selama kamu hanya memilih diam, maka gap antar generasi masih akan selalu ada.

Mungkin hal paling sinisnya dari dirimu adalah seperti ini, “Gap antar generasi akan selalu ada.”

Apakah kamu menginginkan gap yang namtinya akan menghambatmu atau tidak menginginkan itu terjadi?

Bila gap antar generasi memang sebuah keniscayaan, seperti halnya hidup yang terus bergerak—entah maju atau mundur, saya tidak ingin berasumsi. Karena toh semua ini tetap harus dipahami dengan konteksnya masing-masing: sosial, ekonomi, dan politik you name it lah. Semisal, kita dapat menyimpulkan bahwa kita “pernah” menjadi generasi yang kehilangan sejarah.

Tapi, sidang rakyat di Den Haag beberapa waktu lalu, upaya rekonsiliasi sejarah antara penyintas dan pelaku Tragedi 65, film dokumenter seperti Senyap dan Jagal memperlihatkan jembatan antar generasi. Tentunya untuk tujuan baik: Pertama, agar generasi kita tidak lagi disebut menjadi generasi yang kehilangan sejarah. Kedua,  agar generasi sebelumnya juga tidak kehilangan sejarah mereka—semanis atau sepahit apapun ingatan tentang sejarah itu.

jas-merah-soekarno

Akhirnya, berhentilah kita merasa menjadi yang paling baik sehingga menciptakan gap generasi dengan penanaman nilai-nilai yang kiranya sudah tidak relevan untuk kita pribadi dan orang banyak.

Tiap generasi hadir dengan “bahasa” mereka sendiri. Seperti saya yang memiliki nilai-nilai dari berbagai lini dan berbeda dengan nilai-nilai kakek atau “orang tua” lainnya dan tidak semua nilai itu kita dapat ikuti, bukan?

 

Foto: Teads, BeritaSatu, Tumblr


Anzi Matta

Disunting Oleh BagiKata


YANG TERBARU

BagiKata Telaah #2 : How To Craft Successful Branding

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah acara


BagiKata Telaah #1 : Basic Songwriting & Music Branding for Bedroom Musician

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu