www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre. Salah satu musik modern yang paling kentara ditempeli karakteristik ini adalah hip-hop, di mana masih dianggap ‘lumrah’ oleh pendengar (dan pemain veterannya) untuk seorang rapper pria menggunakan kata bitch secara derogatory sebagai kata ganti perempuan. Tentu hal ini tak membuat jalan bagi rapper perempuan lebih mudah. Beberapa kali terdapat diskursus tentang sulitnya menjadi seorang rapper perempuan; bagaimana kamu akan selamanya dikotakkan ke dalam kategori khusus dalam rap.

banner-rapsody

Banyak yang melawan arus di tahun 2017, sebagaimana kita melihat kemunculan rapper perempuan kelas berat permukaan, baik secara internasional (Cardi B) maupun secara lokal (Ramengvrl), yang tidak adil rasanya menurut saya untuk dikotak-kotakkan ke dalam kategori tertentu hanya karena mereka perempuan, karena kualitas mereka tak kalah dengan rapper-rapper pria lain—bahkan lebih baik. Rapsody, melalui albumnya Laila’s Wisdom merupakan contoh terbaik untuk kasus ini.

Secara teknis, Rapsody tidak dapat dikatakan sebagai pendatang baru. Sudah hampir satu dekade beliau aktif dalam skena hip-hop Ameriak Serikat. Namun baru di album keduanya ini Marlanna Evans (nama asli Rapsody) mendapat perhatian publik yang lebih luas. Menggunakan kearifan lokal yang ia dapat dari neneknya sebagai inspirasi album, Rapsody berhasil menggambarkan apa yang lalai digambarkan oleh para pemain lain di genre yang didominasi laki-laki ini: kejujuran dalam menggambarkan latar belakang dirinya sebagai seorang manusia. Saat perempuan kedatangan Snow Hill, North Carolina ini berbicara, ia tak hanya melontarkan kata-kata penguatan khusus untuk perempuan, atau khusus untuk mereka yang berkulit hitam, datang dari North Carolina dan diperlakukan secara tidak adil di Amerika Serikat. Lirik-liriknya universal, dan saya dapat mengamini apa yang beliau katakan saat ia berbicara tentang mengalahkan pesimisme (“when haters come around look ‘em down, tell them: we don’t owe you” –Laila’s Wisdom), atau saat ia meyakinkan saya sebagai pendengar untuk sesekali berusaha ikhlas dan menyadari bahwa tak semua orang dapat diselamatkan (“we all got somebody in our family that we can’t save from hell” –Ridin’).

Statusnya sebagai rapper kelas berat diperkuat dengan jajaran nama yang memilih untuk ikut berkontribusi dalam Laila’s Wisdom, mulai dari Anderson .Paak, Kendrick Lamar, hingga Terrace Martin. Kedalaman lirik milik Rapsody yang kentara dalam album kedua beliau sangat sulit untuk ditemukan di lautan lagu-lagu hip-hoplit’ yang bernaung di playlist-playlist club kota besar, bahkan di album-album milik rapper lain yang sama-sama membawa muatan dan kritik sosial. Kebijaksanaan Rapsody menyematkan namanya sebagai salah satu pemilik album hip-hop terbaik di tahun 2017 yang dibanjiri dengan rilisan musik serupa, berdiri kuat di antara banyak rapper laki-laki lain.

Kenapa album ini penting

Walau bukan yang pertama, Rapsody berhasil masuk ke jejeran pendek nama-nama musisi yang berhasil mendobrak stigma dan stereotype dalam musik. Membawakan muatan seperti yang ia miliki dalam Laila’s Wisdom sebagai seorang perempuan dalam hip-hop bukanlah hal yang mudah, dan dalam prosesnya ia membuktikan bahwa dirinya merupakan salah satu penulis hip-hop terbaik saat ini.

Dengar jika kamu

Suka dengan musik hip-hop namun lelah dengan muatannya yang seringkali hanya berbicara tentang perempuan, narkoba, dan mobil sport.


Baskara Putra merupakan founder BagiKata. Sehari-hari menulis lagu sendiri dan juga bersama Ffeast, mencari nafkah tetap sebagai Brand Manager di Double Deer Records.

Disunting oleh Tim BagiKata


YANG TERBARU

Ulasan : Marvel’s Avengers: Infinity War

BagiKata.com – EPIC. Hentikan apapun yang kalian lakukan dan pergi ke bioskop terdekat di sekitar kalian. Ada 1 post-credit scene yang


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.