www.bagikata.com – Selama satu tahun kebelakang, sulit rasanya menemukan album lain yang lebih kelam dibandingkan rilisan terakhir Obaro Ojimiwe (nama asli Ghostpoet). Ada sesuatu dalam Dark Days + Canapes yang membuatnya begitu gelap: kemungkinan besar karena kombinasi bebunyian, aransemen dan pemilihan suara yang digunakan dengan ciri khas spoken word milik Ojimiwe.

banner-ghostpoet

Karya terbaru milik Ghostpoet ini jauh lebih terasa bernuansa alternative rock dibandingkan trip hop atau electronica seperti ketiga album beliau sebelumnya. Keputusan untuk membanting arah musik yang ia ambil mulai satu album silam ini, di mata saya, merupakan langkah yang brilian: suara Ojimiwe terdengar lebih nyaman ‘duduk’ di atas instrumental kasar dan mentah seperti dalam Freakshow atau Live>Leave, dan perpaduan antara ciri khas vokal serta arahan musik barunya membuat Ghostpoet menjadi sebuah anomali: ia tak perlu bertanding dalam kolam trip hop/spoken word maupun rock—ia berdiri sendiri.

Tidak seperti kebanyakan album lain yang berusaha keras untuk menggambarkan kesuraman hidup, Ojimiwe berhasil mendorong musiknya untuk berbicara sendiri. Lirik-lirik yang ia gunakan pun bermain halus; tidak memaksakan kehendak agar saya tertekan dengan realita kehidupan, namun seusai kelar mendengar selalu mengingatkan saya akan rutinitas yang banal dan segala usaha sia-sia dalam memaknai apa yang saya lalui pada hari itu.

Mungkin memang benar adanya bahwa nama adalah doa. Sama seperti judulnya, Ghostpoet tak perlu berusaha keras, hanya perlu melantunkan vokal dengan santai—dan tanpa hentakan sama sekali sepanjang album—untuk mengingatkan saya, bahwa pada akhirnya mungkin hidup itu memang hambar, dan masyarakat memang dangkal… tapi jangan lupa mencicip sedikit hidangan canapé sembari melewatinya.

Kenapa album ini penting:

Seringkali kita mendengar ungkapan bahwa sekarang genre dalam musik sudah tidak relevan, namun jarang ada orang yang dapat memberikan contoh kasus dengan cepat saat diminta menjelaskan. Dark Days + Canapés merupakan contoh modern sempurna bagaimana perpaduan banyak warna musik dapat menciptakan mood yang baru secara spesifik.

Dengar jika kamu:

Merasa harimu berjalan terlalu mulus dan ingin mengalami sedikit moodswing.


Baskara Putra merupakan founder BagiKata. Sehari-hari menulis lagu sendiri dan juga bersama Ffeast, mencari nafkah tetap sebagai Brand Manager di Double Deer Records.

Disunting oleh Tim BagiKata


YANG TERBARU

Warga Lokal : Feminis Berkelas

BagiKata.com – Feminist Fest Indonesia, acara yang akan diselenggarakan oleh Jakarta Feminist pada 23-24 November 2019, sempat viral di media sosial


Perempuan dalam Industri Teknologi

BagiKata.com – Dalam era globalisasi, peran dan posisi perempuan dalam dunia kerja semakin meningkat signifikansinya, tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia


Sebuah Surat Untuk Kandidat

Teruntuk para kandidat yang telah berhasil membuat kami terkesan dan dipenuhi harapan namun terpaksa kalah oleh ia yang lebih cuan;