Pengantar

www.bagikata.com – Bagi yang mengikuti akun sosial media saya sejak 2016, mungkin ada yang ingat bahwa saya pernah merilis sebuah tulisan (sangat) panjang yang merangkum seluruh musik terbaik tahun 2016 versi saya pribadi. Tulisan tersebut dapat diunduh melalui akun Twitter @wordfangs. Motivasi saya menulis ulasan tersebut, pada awalnya, hanyalah untuk membagikan kecintaan saya terhadap musisi dan karya-karya tertentu milik mereka untuk khalayak yang lebih luas, alih-alih saya percaya bahwa karya-karya tersebut memiliki faedah yang besar jika dibagikan dan didengarkan oleh lebih banyak orang. Selain itu, saya menulis juga untuk mendokumentasikan pikiran dan preferensi saya sendiri pada masa tertentu—agar suatu saat nanti saya dapat membacanya dan mengingat kembali musik-musik apa saja yang mempengaruhi saya sebagai seorang manusia selama periode waktu tersebut.

Tak disangka, ulasan saya (yang berjumlah lebih dari 80 halaman) diunduh kurang lebih 2000 kali, dan tahun ini banyak yang meminta saya untuk menulis lagi ulasan serupa. Sejujurnya saya sempat memiliki rencana untuk mulai menulis ulasan musik secara rutin di blog pribadi saya, namun karena 2017 merupakan tahun yang amit-amit padatnya (baca: .Feast merilis album dan melakukan serangkaian kegiatan promosi selama satu tahun lebih), niat tersebut terpaksa diurungkan. Pun begitu, saya bersyukur akan keterlambatan ini, karena ternyata toh sampai 31 Desember masih terdapat rilisan album baru. Dengan merilis ulasan ini di bulan Januari, saya mendapat kesempatan untuk benar-benar menilik seluruh album tahun 2017, tanpa terlewat apapun.

Kali ini, saya bekerjasama dengan teman-teman BagiKata untuk membagikan ulasan musik tahun 2017 versi saya, dipecah-pecah dalam kurang lebih satu minggu ke depan. Dengan merangkul BagiKata, saya berharap bahwa kumpulan ulasan kali ini dapat dibaca oleh lebih banyak orang lagi, dan isinya dapat tetap memberikan manfaat (yang kurang lebih sama, atau bahkan lebih besar) dibandingkan ulasan tahun lalu.

Versi PDF lengkap akan tersedia di website BagiKata saat seluruh ulasan naik.

Selamat membaca!


30 – Relaxer

alt-J

 banner-altj

alt-J selalu terkenal karena aransemennya yang aneh, namun tetap memiliki daya pikat untuk pendengar awam pada umumnya. Pada akhirnya, dalam Relaxer alt-J mencoba nyeni mentok, alias menjadi aneh total (untuk mereka, tentunya—jangan samakan dengan Senyawa) dengan aransemen-aransemen dan durasi lagu yang rasanya makin sulit ditolerir oleh khalayak luas. Ciri khas yang sudah mereka pegang teguh selama bertahun-tahun ini memberikan alt-J banyak pujian dan olokan secara bersamaan, menjadikan mereka sebuah grup musik yang sangat polarising bagi pengamat musik.

Pun begitu, mungkin ini memang cara alt-J untuk tetap berdiri terpisah dari banyak musik sidestream komersial lainnya, di tengah-tengah serbuan teknologi yang semakin memudahkan banyak orang untuk menciptakan lagu jauh lebih cepat dan ribuan tutorial di YouTube untuk menciptakan lagu-lagu dengan format populer seperti trap dan minimalist RnB. Seperti disangka, karena kali ini mereka tak tanggung-tanggung menjadi semakin eksentrik, reaksi fans dan pembenci alt-J pun sama-sama menguat. Jarang sekali terdapat ulasan yang menganggap Relaxer HANYA cukup baik atau tak terlalu baik.

Sepintas, lagu-lagu dalam Relaxer terdengar seperti serangkaian ide musik setengah jadi yang dilemparkan secara acak ke atas kanvas putih, dan di beberapa titik jauh terdengar terasa ngasal alih-alih memberikan kesan bahwa Joe Newman dan kawan-kawan memang sengaja menciptakan aransemen serupa. Bias utama yang membantu Relaxer adalah liputan-liputan media tentang proses produksinya: bagaimana brass dan strings dalam album ini direkam di Abbey Road, bagaimana In Cold Blood direkam menggunakan Casiotone seharga Rp 20,000, atau bagaimana House of the Rising Sun benar-benar merekam 20 gitaris secara bersamaan dalam satu ruangan. Cerita-cerita ini memberikan konteks kepada album alt-J, membuat saya dapat mengapresiasi ide-ide mereka yang rangkum.

Argumen populernya adalah bahwa mengulas sebuah musik sebaiknya jangan terpengaruhi aspek-aspek lain yang tidak berhubungan dengan hasil akhir musiknya. Saya hanya tak bisa memungkiri bahwa saya menjadi bisa menikmati Relaxer setelah membaca banyak artikel-artikel serupa yang saya sebut di atas. Mungkin saya salah.

Kenapa album ini penting:

Relaxer merupakan contoh konkrit bagaimana pemberitaan di media dapat mengangkat nilai sebuah karya seni atau justru menjatuhkannya. Mungkin kamu benci sebuah karya karena ia sering diolok-olok oleh akun meme lokal. Mungkin kamu suka sebuah grup musik karena semua reviewer musik bilang bahwa grup tersebut merupakan grup yang bagus.

Dengar jika kamu:

Ingin menantang kejujuran diri kamu dalam menilai musik. Apakah Relaxer merupakan album yang baik jika dia tak memiliki reputasi sebagai karya sebuah band yang sudah sering mendapatkan pujian?


Baskara Putra merupakan founder BagiKata. Sehari-hari menulis lagu sendiri dan juga bersama Ffeast, mencari nafkah tetap sebagai Brand Manager di Double Deer Records.

Disunting oleh Tim BagiKata


YANG TERBARU

BagiKata Telaah #2 : How To Craft Successful Branding

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah acara


BagiKata Telaah #1 : Basic Songwriting & Music Branding for Bedroom Musician

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu