BagiKata.com – Sering kali adaptasi diartikan sebagai proses menyesuaikan diri dengan perubahan di lingkungan baru yang belum pernah sama sekali kita singgahi. Pertanyaannya, apa yang terjadi jika Anda keluar dari suatu lingkungan dan menetap di lingkungan lain dalam waktu yang cukup lama, kemudian kembali ke lingkungan asal Anda? Apakah kembali ke lingkungan asal akan membutuhkan adaptasi kembali?

Jawabannya adalah iya. Dan saya mengalaminya sendiri.

walk-home

Sejak lahir hingga berumur 12 tahun, saya tinggal di rumah bersama keluarga saya. Baru kemudian pada umur 12-18 tahun ketika saya menempuh pendidikan SMP dan SMA, saya disekolahkan di sebuah boarding school yang cukup jauh dari rumah. Enam tahun tinggal di sana membuat definisi pulang bagi saya adalah asrama dan perasaan jauh dari orang tua. Tinggal bersama teman-teman dan melakukan hal apapun yang saya sukai tanpa ada yang terlalu memperhatikan telah menjadi rutinitas saya.

Singkat cerita saya lulus SMA dan diharuskan untuk kembali ke rumah untuk melanjutkan kuliah. Awalnya, saya merasa tidak akan ada proses adaptasi terhadap suasana rumah karena saya pikir “Ah ini kan rumah saya, adaptasi apa yang dibutuhkan?”

Tetapi setelah beberapa hari saya berada di rumah, saya mulai menyadari bahwa tidak hanya saat pergi, tapi saat kita kembali setelah sekian lama pergi pun butuh proses adaptasi. Sewaktu di asrama dulu, tidak ada yang mengingatkan saya untuk tidak tidur terlalu larut selain ibu asrama yang sesekali berkeliling memeriksa.

Tidak ada yang menegur ketika saya terlalu banyak nonton drama korea. Tidak ada omongan mengiris hati seperti “gimana sih lulusan pesantren kok begini”. Rumah menjadi terasa asing bagi saya. Butuh waktu bagi saya agar bisa kembali menganggap rumah ini sebagai tempat untuk pulang.

Saya mulai beradaptasi terhadap lingkungan yang familiar tapi juga sekaligus asing ini. Membiasakan diri kembali dengan adanya orang yang selalu memperhatikan, membiasakan diri dengan ekspektasi orang tua terhadap hasil didikan boarding school, dan juga membiasakan diri dengan tidak adanya teman-teman yang selalu bersama 24 jam disekitar saya.

Dan setelah saya melewati semua proses adaptasi ulang, saya pun mendapat satu pelajaran lagi bahwa pada dasarnya, rumah ini tidak berubah apa-apa.  Letak barangnya masih sama, rutinitasnya masih sama, justru saya yang berubah. Tetapi proses adaptasi inilah yang membuat saya menjadi saya yang sekarang, mengajarkan saya bahwa pulang terkadang memang mengantarkan kita ke tempat yang sama, tapi tidak mengantarkan kita ke situasi yang kita kenal.

Foto: Yahoo, WDish


Khansa Khairunnisa

Tulisan ini dimuat sebagai hasil seleksi Open Call ‘Ruang Risalah’ edisi kedua.


YANG TERBARU

BagiKata Telaah #2 : How To Craft Successful Branding

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah acara


BagiKata Telaah #1 : Basic Songwriting & Music Branding for Bedroom Musician

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu