BagiKata.com – Sedih rasanya masih mendengar persepsi yang tidak terlalu menyenangkan tentang seorang mahasiswa pertanian. Kami bukanlah sekadar penggarap sawah. Kami adalah penyedia makan kalian.

Tidak jarang kami temui sebuah pertanyaan yang membuat kami jengah. Pertanyaan sederhana yang seharusnya bisa kami jawab dengan bangga. Namun yang terjadi justru sebaliknya, pertanyaan tersebut seakan meremehkan kemampuan kami.

“Setelah lulus, mahasiswa pertanian mau jadi apa? Petani?”

Petani, mereka bilang. Mungkin banyak yang belum memahami bidang keilmuan yang kami pelajari. Kami tidak hanya belajar mencangkul, kami mempelajari banyak hal lain yang lebih luas dari sekadar menjadi ‘penggarap sawah’.

Di tahun awal perkuliahan kami membahas kembali materi biologi SMA tentang biologi tumbuhan. Namun materi di mata kuliah kali ini tidak sesederhana menghafal teori seperti; fungsi daun untuk fotosintesis, batang sebagai jalur nutrisi dan air, atau akar sebagai pengambil unsur hara dan air dari dalam tanah.

Kami menguliti semua bagian-bagian tumbuhan dan mengenalnya dengan lebih detil, mempelajari proses fisiologis yang terjadi pada masing-masing organ tumbuhan, dan mengaitkannya dengan keilmuan lain seperti fisika dan kimia.

Kami juga banyak menghafal. Ingat di SMA dulu kalian pernah belajar dan menghafal nama-nama latin tumbuhan? Di berbagai mata kuliah pertanian, kami kembali dipertemukan dengan nama-nama latin tersebut. Di pertanian, menghafal nama latin tumbuhan tidak lagi berkisar antara Oryza sativa atau Zea mays.

Ada puluhan bahkan ratusan nama latin tumbuhan yang harus kami hafal. Tahu bagaimana dosen mengevaluasi kemampuan kami dalam menghafal nama latin tumbuhan? Kami diminta menyebutkan nama latin dari bahan-bahan yang ada dalam gado-gado, pecel, atau sayur asem. Siapa sangka menyebutkan sayuran dalam gado-gado saja bisa sesulit  ini? Hanya mahasiswa pertanian yang pernah merasakannya.

Lupakan sejenak tentang tumbuhan kalau kalian pikir hal yang kami pelajari sama saja dengan fakultas MIPA. Di saat mahasiswa lain kuliah di dalam ruangan, kami sibuk mengidentifikasi hama di perkebunan demi menemukan obat pembasmi yang tepat. Kami juga mengorek tanah demi mendapat sampel tanah untuk diteliti di laboratorium, menguji kualitasnya apakah tanah tersebut cocok untuk bercocok tanam. Tidak sembarang tanah bisa digunakan sebagai lahan pertanian. Bercocok tanam tidak semudah itu.

Belum lagi kami juga harus mempelajari ilmu ekonomi demi membantu pemasaran produk pertanian yang lebih pantas. Kami mempelajari teknik pengemasan produk, mengevaluasi rantai pasok, bahkan ikut mengawasi kebijakan pemerintah mengenai pemasaran komoditas pertanian.

Jadi kalau kalian pikir nasib kami hanya berakhir menjadi petani, mungkin memang ada benarnya. Tapi kami adalah petani berdasi. Kami adalah mahasiswa pertanian yang siap memenuhi kebutuhan pangan segenap rakyat Indonesia.

 


 

Tulisan ini dimuat sebagai hasil seleksi Open Call ‘Ruang Risalah’ yang dilaksanakan bulan Oktober 2016.

Oleh Andi Hana Mufidah, Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran



YANG TERBARU

Warga Lokal – Bunuh Diri: Tak Pandang Bulu

BagiKata.com – Beberapa tahun lalu, saya mendapat pesan singkat dari teman dekat saya. Bahwa dirinya ingin bercerita. Tumben, pikir saya. Kondisi kami


Serba-Serbi Menstruasi

BagiKata.com – Siklus menstruasi merupakan siklus yang dinamis. Setiap perempuan bisa mengalami siklus yang berbeda dengan perempuan lainnya. Variasi ini biasanya normal.


Warga Lokal – Hidup Lebih Positif dengan Rutin Bersyukur

BagiKata.com – Hidup positif (baca: bahagia) itu tidaklah sulit. Terkadang hal-hal kecil yang tidak kita sadari membuat kita bahagia loh. Sayangnya,