www.bagikata.com – Kalau bicara tentang feminisme, sebenarnya peraturan dan hukum yang berlaku di negara demokrasi ini sudah menyetarakan hak laki-laki dan perempuan. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah “Apa lagi yang harus kita perjuangkan?”. Maka jawabannya adalah pemikiran, sikap, dan pandangan kita dalam menilai perbedaan gender itu sendiri yang mungkin tidak selalu kita sadari.

Mari kita tarik ke belakang lebih jauh untuk mencari tahu mengapa dari dulu perempuan dianggap lebih inferior. Saya adalah pengagum Yuval Noah Harari dan saya setuju dengan pembahasan beliau bahwa zaman dahulu kekuatan fisik adalah atribut yang paling penting untuk bertahan hidup. Secara biologis, perempuan yang akan hamil dan melahirkan anak, akan memiliki kekuatan yang lebih sedikit untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat. Hal inilah yang membuat laki-laki bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka dan mengakibatkan perempuan akhirnya bergantung kepada laki-laki untuk bertahan hidup sehingga laki-laki memiliki kuasa untuk mengontrol makanan yang akhirnya merembet ke kuasa-kuasa lainnya.

Kebudayaan inilah yang akhirnya diajarkan turun menurun dan berkembang sampai manusia modern. Mungkin hukum negara kita sudah berevolusi untuk menyetarakan hak-hak perempuan. Tapi ada sebagian orang yang pemikirannya tidak ikut berevolusi. Pemikiran bahwa perempuan lebih tidak berkuasa atau sebaiknya tidak lebih tinggi daripada laki-laki masih ada di masyarakat kita sehingga kita merasa wajar saja untuk diposisikan setingkat di bawah laki-laki.

Pernah dengar istilah “Di balik laki-laki sukses, ada perempuan yang selalu mendukung?”? Kenapa perempuan harus puas menjadi pendukung di balik seseorang? Kenapa bukan dia sendiri yang meraih kesuksesannya? Atau pernahkah dengar orang berkomentar “Dia cantik, pintar, dan mandiri. Tapi sayangnya, sampai sekarang belum menikah.”? Kenapa nilai seorang perempuan harus bergantung kepada ada atau tidaknya laki-laki dalam hidup dia? Kenapa perempuan yang memutuskan untuk tidak atau belum menikah membuat dia tidak cukup sempurna seakan-akan nilai-nilai dan kualitas yang sudah ada dalam dirinya tidak berarti? Atau, hal yang paling sering kita jumpai di setiap keluarga: kepala keluarga harus laki-laki. Kenapa menjadikan perempuan sebagai kepala keluarga terlihat tidak biasa?

Pemikiran-pemikiran yang terdengar sepele dan hanya sekedar lewat seperti inilah yang akhirnya terbentuk dan menjadi budaya kita, lalu mengajarkan bahwa laki-laki lebih bisa menjadi pemimpin dibanding perempuan. Perempuan adalah mereka yang berada di bawah atau di balik laki-laki.

Wangari Maathai, seorang aktivis lingkungan hidup dan politik yang dianugerahi Penghargaan Perdamaian Nobel, pernah mengatakan: The higher you go, the fewer women they are. Sebuah pernyataan bahwa posisi-posisi yang tinggi dan penting lebih didominasi oleh laki-laki dibanding perempuan. Contoh paling mudah adalah berapa jauh perbandingan pemimpin negara laki-laki dan perempuan?

Lalu apakah dampak pemikiran ini di masa depan? Saya jadi ingat pembahasan Kriti Sharma, seorang artificial intelligent technologist, di TED Talks tentang keputusan-keputusan AI yang didasari dan dipelajari dari manusia. Sebuah gambaran yang cukup mudah dimengerti adalah membayangkan apabila AI membantu seorang hiring manager untuk mencari seseorang untuk mengisi sebuah jabatan sebagai pemimpin di perusahaannya. Selama ini, perusahaan itu selalu menempatkan laki-laki untuk jabatan tersebut dan AI mulai mempelajari bahwa laki-laki lebih bisa menjadi pemimpin yang lebih baik dibanding perempuan. Sebuah pernyataan Kriti Sharma yang menyadarkan saya bahwa pemikiran kita soal perbedaan gender ini sangat berpengaruh terhadap masa depan adalah bahwa voice assistant yang patuh terhadap perintah pemiliknya seperti Alexa, Siri, dan sebagainya memakai suara perempuan sedangkan AI seperti IBM Watson yang membuat keputusan-keputusan dalam bisnis, Salesforce Einstein, atau ROSS the Robot Lawyer memakai suara laki-laki. Atau contoh saat kita mencari gambar ‘CEO’ di Google, yang keluar kebanyakan adalah foto laki-laki sedangkan saat kita mencari gambar ‘Personal Assistant’, yang muncul adalah foto perempuan. Hal-hal ini bisa terjadi karena bias dari kita sendiri yang mungkin tidak selalu kita sadari. Coba bayangkan apa yang bisa terjadi nanti kepada pemikiran generasi mendatang yang tumbuh besar di zaman artificial intelligence apabila kita membiarkan pemikiran seperti ini terus terjadi?

Ini bukan tentang perempuan harus lebih di atas laki-laki, tapi tentang gender equality dan tidak patriarki. Apabila kita sudah sadar bahwa ada kebudayaan di sekitar kita yang tidak adil, maka tidak ada salahnya kita ubah untuk masa depan yang lebih baik. Karena bukan kebudayaan lah yang seharusnya membentuk kita, namun kita lah yang seharusnya membentuk kebudayaan.


Selphie Usagi adalah seorang fashion designer dan stylist yang aktif di media sosial untuk mengaspirasikan pemikiran-pemikiran tentang berbagai hal. Selain itu, dia juga menjadi host di acara youtube Ngophie dan juga sebagai entrepreneur di properti dan jasa.


YANG TERBARU

Perempuan dalam Industri Teknologi

BagiKata.com – Dalam era globalisasi, peran dan posisi perempuan dalam dunia kerja semakin meningkat signifikansinya, tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia


Sebuah Surat Untuk Kandidat

Teruntuk para kandidat yang telah berhasil membuat kami terkesan dan dipenuhi harapan namun terpaksa kalah oleh ia yang lebih cuan;


Layanan Antar Makanan di Indonesia

BagiKata.com – Pertumbuhan aplikasi teknologi yang menawarkan jasa transportasi seperti Go-Jek dan Grab terus meningkat hingga saat ini. Perusahaan jasa berbasis