BagiKata.com – Sedari dulu kita sudah terbiasa dengan anggapan, asumsi, atau peraturan kasat mata yang membedakan perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut kemudian dinilai sebagai bentuk validasi: perempuan sama dengan ini, laki-laki sama dengan itu. Era industri membesarkan kita dalam pengertian dogmatis karena hanya ingin mengenal hitam dan putih, abu-abu terlalu rumit. Berbeda dengan era informasi yang menganggap abu-abu sebagai bentuk liberasi, dan liberasi adalah sebuah hak istimewa.

Sedikit berkaca pada masa lalu. Indonesia, meskipun bersandar pada konsep demokrasi, adalah negara yang lekat dengan tradisi patriarki. Tradisi ini melahirkan konstruksi sosial yang cenderung menempatkan laki-laki pada posisi dominan dan menepikan perempuan, menjadikannya tidak lebih dari makhluk domestik dan fungsi reproduksi. Aspek historis dan budaya mendorong perempuan untuk tunduk pada hubungan yang dilandaskan sifat patriarkat, baik dalam ruang personal maupun publik. Selama sekian tahun perempuan dikategorikan sebagai second-class citizen, bahkan di Indonesia. Pada era penjajahan Belanda dan Jepang, perempuan dijadikan pemuas hasrat seksual tentara-tentara asing yang tengah bertugas. Kaum perempuan semakin termarjinalkan kala itu dengan adanya larangan bagi perempuan yang bukan dari kalangan priayi untuk mengenyam pendidikan. Peraturan tersebut berhasil membungkam sebagian besar kaum perempuan, sampai akhirnya seorang perempuan Jepara menyuarakan aspirasinya dan menuntut keadilan melalui kumpulan tulisan pribadi yang kemudian dirangkum dalam sebuah buku berjudul Door Duisternis tot Licht atau lebih dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang.

Raden Adjeng Kartini merupakan lambang feminisme di Indonesia, pelopor pergerakan kaum perempuan yang berhasil meruntuhkan dinding pembatas antara femininitas dan pendidikan. Namanya, bersama dengan tokoh penggerak feminisme dari berbagai belahan dunia lainnya, kerap kali muncul dalam diskursus emansipasi perempuan. Jarang sekali terdengar nama laki-laki. Kejanggalan ini berujung pada sebuah pertanyaan sederhana yang melintas di benak: mungkinkah laki-laki menjadi seorang feminis? Membela hak dan aspirasi perempuan, seperti yang telah dilakukan oleh Kartini? Sejak zaman SM (Sebelum Masehi), buah pikir filsuf laki-laki tentang perempuan sebenarnya sudah diproduksi dalam bentuk literatur. Plato adalah salah satu diantaranya, dan disebut-sebut sebagai feminis laki-laki pertama dengan penilaiannya akan kemampuan perempuan untuk berfungsi secara utuh sebagai warga negara. Melalui bukunya, The Republic, Plato menyebutkan bahwa perempuan tetap berkemampuan untuk berpartisipasi sepenuhnya meskipun dianggap lebih lemah daripada laki-laki. Sedangkan di Indonesia, Soekarno menuangkan buah pikirnya dalam buku berjudul Sarinah, terbit tahun 1947, terkait peran integral perempuan dalam kemajuan bangsa. “Banjak orang jang tidak mengerti apa sebabnja saja anggap kursus-kursus wanita itu begitu penting. Siapa jang membatja kitab jang saja sadjikan sekarang ini,-jang isinja telah saja uraikan di dalam kursus-kursus wanita itu dalam pokok-pokoknja-akan mengerti apa sebab saja anggap soal wanita itu soal jang amat penting. Soal wanita adalah soal-masjarakat!”

Dewasa ini, ternyata tidak hanya perempuan saja yang merasakan dampak negatif dari fenomena ketidakadilan gender. Salah satu contoh konkret adalah kasus pemerkosaan yang hanya dianggap serius apabila korbannya perempuan. Kasus pemerkosaan dengan laki-laki sebagai korban seringkali diabaikan, bahkan terkesan didiskriminasi. Hal ini memotivasi Feminist Majority Foundation, kelompok feminis asal Amerika Serikat, bersama Ms. Magazine untuk mengadakan kampanye ‘Rape is Rape’ dan mengirim 160.000 surel kepada Federal Bureau Intelligence (FBI) untuk mengikutsertakan laki-laki dalam kategori korban kekerasan seksual di Amerika Serikat. Terlepas dari itu, laki-laki adalah korban mutlak ideologi patriarkisme. Patriarkisme membentuk sekaligus menguatkan cara pandang laki-laki sesuai dengan peran sosial yang telah dibentuk tanpa diberikan kesempatan untuk mengkaji ulang. Tidak jarang situasi ini menekan laki-laki dan berujung pada krisis maskulinitas. Oleh sebab itu, gerakan feminisme tidak hanya memperjuangkan hak perempuan saja. Gerakan feminisme diciptakan untuk mencapai kesetaraan yang dibahas Soekarno dalam Sarinah. Kesetaraan dapat dicapai melalui kerjasama secara menyeluruh dan tidak menitikberatkan perjuangan pada salah satu gender saja.

Salah satu mahasiswa yang berpartisipasi dalam Women's March Jakarta 2018 - sumber: Kaskus

Salah satu mahasiswa yang berpartisipasi dalam Women’s March Jakarta 2018 – sumber: Kaskus

Meskipun demikian, argumen bahwa laki-laki tidak cukup kredibel untuk menjadi seorang feminis dengan alasan tidak memiliki pengalaman kebertubuhan perempuan masih kerap terdengar. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa keterlibatan laki-laki dalam gerakan feminisme dapat menjadi upaya strategis untuk menghapus stereotype bahwa isu feminisme adalah wilayah kerja perempuan saja. Keterlibatan laki-laki mampu menguatkan kesadaran publik terhadap isu feminisme serta meningkatkan komitmen feminisme di kalangan laki-laki dan membentuk relasi sosial yang setara dan koordinatif. Secara umum dan prinsip, dalam agenda gerakan feminisme tidak ditemukan perbedaan signifikan antara peran laki-laki dan perempuan. Bertentangan dengan paham sex based division of labor, pembagian tugas dan peran dalam konteks feminisme disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan, bukan jenis kelamin.

Bagi saya, laki-laki dan perempuan hanya bagian dari konstruksi sosial yang didasari kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Hal ini menjadikan feminisme sebagai suara yang mewakili semua dan lebih dari sekadar organisasi khusus perempuan. Feminisme adalah sebuah bentuk komitmen dan tanggung jawab untuk memisahkan dunia dari opresi, dominasi, dan diskriminasi.  Feminisme merupakan perubahan praktikal dan tidak hanya bertumpu pada tataran pemikiran, sehingga untuk menjadi feminis perlu dibekali kerangka berpikir, logika, dan analisis yang konsisten serta konsekuen – bukan hanya sekadar keterpesonaan kepada perempuan, glorifikasi, atau ingin mengikuti trend. Lebih dalam lagi, menjadi seorang feminis itu lebih dari persoalan mampu atau tidak mampu, perempuan atau laki-laki, tapi kewajiban dan tanggung jawab kemanusiaan. Setiap individu memegang andil yang sama dalam usaha melawan lingkungan yang bias gender. Menghapus ketimpangan adalah tanggung jawab perempuan dan laki-laki, dan ditujukan untuk perempuan dan laki-laki. Sehingga, istilah ‘feminis laki-laki’ tidak lagi menjadi relevan untuk diperdebatkan dalam persoalan ini; there is no male feminist or female feminist – there is only feminist.


Savira Ralie selalu memiliki ketertarikan dengan literatur. Topik tulisan yang menjadi favorit Savira antara lain kemanusiaan, kesetaraan gender, dan psikologi. Savira berbagi pengalaman hidupnya atau pendapatnya mengenai isu-isu yang sedang diperbincangkan melalui blog pribadinya di saviralie.wordpress.com. Selain menulis, Savira suka membaca novel psikologis thriller atau menonton dokumenter dan melukis.

Disunting oleh tim BagiKata.


YANG TERBARU

Laki-Laki Dalam Feminisme

BagiKata.com – Sedari dulu kita sudah terbiasa dengan anggapan, asumsi, atau peraturan kasat mata yang membedakan perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut


Kamu Sudah Sampai Di Mana, Kesetaraan Gender?

www.bagikata.com – Kalau bicara tentang feminisme, sebenarnya peraturan dan hukum yang berlaku di negara demokrasi ini sudah menyetarakan hak laki-laki dan


Warga Lokal : Kartini, Melawan Arus Gender dan Agama

BagiKata.com  – Raden Ajeng Kartini atau dikenal sebagai R.A Kartini adalah salah satu feminis pertama di Indonesia dan pada tanggal 21