BagiKata.com – Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sering saya dengar sebagai seorang KPop fangirl. Wajar sekali untuk bertanya seperti itu karena usia saya sudah 24 tahun, saya sudah bekerja, dan teman-teman saya sudah ada yang menikah juga bahkan memiliki anak. Sedangkan saya? Masih saja menganggumi oppa-oppa yang kenal saya pun tidak.

Bukan saya saja, teman-teman saya yang lain pun ada yang seperti saya, di usia yang bisa dikatakan sudah bukan remaja pun, masih ada yang menjadi KPop fangirl dan tidak menyesal. Saya meng-interview beberapa teman kuliah saya untuk tulisan ini. Kami merupakan lulusan salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung.

Perkenalan kami, para fangirl, dengan oppa yang kami puja-puja berawal dari berbagai macam jalan yang berbeda, tapi yang paling banyak adalah karena teman. Iya, kami mencintai pria yang sama, tapi kami mau berbagi.

Teman KPop, atau yang biasa kami sebut chingu, biasanya memiliki daya juang yang tinggi untuk meracuni teman sekitarnya dan jago merayu, sehingga teman lain yang awalnya suka Linkin Park atau Metallica bisa berubah haluan menjadi pendengar Super Junior hapal lirik lagu, artinya, bahkan hingga koreografi lagunya.

Fase ketertarikan yang kami alami pun hampir serupa. Dimulai dengan kebencian, lalu berlanjut ke penolakan, pertanyaan, persetujuan, penerimaan, hingga akhirnya sampai ke fase terobsesi. Kami sudah terbiasa mendengar komentar orang bahwa yang kami sukai ini mungkin menurut mereka tidak pantas untuk disukai. Namun, kami menemukan banyak sisi menarik dari mereka selain kegantengan mereka yang absolut. Mereka memiliki budaya berinteraksi yang sefrekuensi dengan kami.

Kami tertawa saat mereka saling melempar jokes, kami menangis terharu dan bahagia saat mereka mengukir prestasi di penghargaan musik, dan kami menangis sedih saat salah seorang dari mereka merasa sedih. Kami merasa dekat dengan mereka. Mereka seperti teman sebangku waktu TK, yang kami kenal latar belakangnya sampai kegiatannya setiap hari.

Kami pernah melewati fase-fase dimana kami memperjuangkan idola kami, menganggap boyband kami yang paling keren, menghabiskan duit jajan pada tiket konser, datang jam 6 pagi untuk mengantri konser jam 8 malam, membuat hasta karya bertuliskan nama oppa supaya diakui keberadaannya, dan menyebutkan nama oppa berkali-kali seakan-akan oppa adalah sebuah doa yang bisa membuat hati kita senang dan tenang.

k-pop-fans

Banyak yang beranggapan kami berlebihan karena pernah terbang ke Malaysia setelah UAS untuk menonton Super Junior, atau antri dari sehari sebelum konser demi konser Big Bang esok harinya. Juga mengejar konser gratisannya 2PM walau hanya 3 lagu pembuka, ataupun menangis semalaman hanya karena Luhan keluar dari EXO. Itu semua memang salah satu cara kami mengekspresikan rasa suka kami pada mereka, dan di saat yang bersamaan, membuat kami bahagia.

Kenapa kami bisa suka pada mereka? Karena kami merasa mereka memberi manfaat. They can make us happy! Mood kita sehari-hari bisa terpengaruh oleh mereka, senang karena oppa atau juga sedih karena oppa. Bukan karena itu saja, mereka juga memberi kami pengetahuan mengenai budaya dan bahasa mereka. Bahkan beberapa dari kami bisa membaca tulisan Korea dan mengerti artinya sekarang. Teman kami dapat menghasilkan uang karena menjadi fangirl. Pengetahuan kami mengenai banyak hal bertambah dan tentunya pertemanan kami menjadi bertambah luas.

Sebenarnya kerugian menjadi fangirl juga banyak. Secara finansial, cinta kami berat diongkos. Mulai dari tiket konser, album, dan merchandise, semuanya harus dibeli menggunakan uang. Secara waktu, kadang kami bingung kenapa ayam sudah berkokok padahal kami yakin waktu yang kami habiskan saat menonton video-video mereka di malam hari belum sebanyak itu. Secara psikologis, mood kami kadang dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di dunia KPop.

Tentu saja itu semua tidak baik bagi kami. Dampak yang saya rasakan adalah saya sempat 3 bulan menunda tesis saya hanya karena saya lebih memprioritaskan KPop ketimbang pendidikan saya. Bahkan, saya pernah menemukan kasus dimana ada yang sampai D.O. karena kebanyakan mengejar oppa, memikirkan oppa, dan mengharap oppa bisa menjadi pacarnya. Dengan efek seperti itu, tentu di kepala kami sempat terbersit untuk keluar dari lembah kenistaan KPop ini karena kami merasa fangirling ini sudah tidak sehat. Untungnya, kami sesama fangirl KPop akhirnya bisa saling mengingatkan agar kecintaan kami pada oppa tidak separah itu.

Saya coba menggunakan kata ‘kami’ karena memang dalam hal ini, semuanya berawal dan kembali di kata ‘teman’. Pertemanan KPop banyak jenisnya, mulai dari pertemanan KPop fancy yang kerjaannya nonton konser ke luar negeri dan ngasih hadiah mahal-mahal untuk idolnya. Pertemanan KPop gaul: yang memiliki banyak teman di circle KPop manapun Sampai pertemanan KPop kelewat obsesif hingga menyayat-sayat tangan kalo ada member boyband keluar dari grup mereka.

Jadi, jawaban dari “mau sampai kapan sih jadi kpop fangirl?” adalah “selama masih ada teman untuk berbagi.”

Saya dan teman-teman saya pun sudah bisa mulai memberi batasan, KPop adalah hobi, bukan obsesi ataupun tujuan hidup. Jadi, untuk kalian yang masih SMA atau kuliah dan merasa bahwa kalian mencintai KPop, pastikan juga lingkaran pertemanan kalian adalah pertemanan yang saling menyemangati ke arah yang lebih baik. Saya tidak bermaksud menyuruh kalian untuk pilih-pilih teman, tapi saya berani bilang bahwa KPop itu adiktif, jika tidak berhati-hati kalian bisa overdosis dan bahkan bisa menyebabkan penyesalan dalam hidup kalian. So, choose your (Kpop) friend wisely.

 

Foto: Onehallyu.com

 


Dea Chandra Marella

Disunting oleh tim BagiKata


  • Dwi Simbolon

    Saya juga seorang fangirl, tapi saya cuma mengidolakan satu boyband saja, yaitu Super Junior. Hampir semua tulisan di atas menggambarkan apa yang saya alami dan rasakan. Saya juga pernah gagal masuk sekolah favorit di daerah saya karena masih ababil dan sangat menggilakan oppa2 korea, but now, saya semakin dewasa, saya bahkan tidak lagi mempunyai teman dekat sesama fangirl dan saya tetap menjadi fangirl. Malah kegagalan saya dulu saya jadikan pelajaran dan oppa2 saya ini menjadi motivasi agar saya lebih baik lagi ke depannya, and guess what? Saya sekarang kuliah di PTN terfavorit selama 5 tahun berturut-turut di Indonesia. Dan tbh Super Junior sangat memberikan pengaruh untuk pencapaian2 saya selama ini 🙂 Jadi ga ada yang salah dengan menjadi fangirl asal bisa kontrol diri 🙂

YANG TERBARU

Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 22

www.bagikata.com – Dalam jangka waktu satu tahun, salah satu negara yang menjadi kiblat dunia dalam kebudayaan barat berhasil mengganti presiden kulit