BagiKata.com – Nothing worth having comes easy, ujar salah satu akun quotes populer di Instagram.

Menjadi dokter adalah salah satu dari sekian banyak profesi di dunia yang membutuhkan perjalanan khusus dan panjang untuk mencapainya. Banyak yang masih beranggapan bahwa menjadi dokter adalah salah satu pilihan wajib setiap siswa pintar di sebuah sekolah menengah. Padahal, menjadi dokter tidak hanya membutuhkan siswa pintar, tapi juga tangguh dan teguh. Karena untuk sampai bisa mengucap Sumpah Hippocrates, is not quite easy.

Berdasarkan Undang-undang Pendidikan Kedokteran tahun 2013, salah satu proses yang harus dilewati mahasiswa kedokteran adalah pendidikan profesi, atau menjadi co-assistant. Seharusnya fase ini lebih sering disosialisasikan ke setiap calon mahasiswa kedokteran, karena menjadi co-ass adalah fase yang lumayan menguras tenaga, keringat, hati dan isi kepala, sehingga tidak jarang beberapa kandidat tersendat di fase ini.

Menjadi co-assistant atau co-ass, seperti namanya, adalah menjadi asistennya asisten selama kurang lebih dua tahun. Tentu bisa terbayang bagaimana tugas dan kewajiban seorang asisten dalam sebuah pekerjaan, tapi bisakah membayangkan, apa yang menjadi tugas dan kewajiban asisten dari seorang asisten?

Menjadi co-ass tidak dibayar, malah masih membayar uang SPP ke universitas. Dibilang bekerja, tapi belajar. Dibilang belajar, tapi bekerja. Kalau sudah di rumah sakit, seorang co-ass tidak mengikuti jam kerja pada umumnya, tidak juga mengikuti jam belajar di kelas. Di beberapa rumah sakit pendidikan, co-ass ada yang harus datang setelah subuh dan pulang menjelang tengah malam. Itu kalau tidak sedang tugas jaga malam. Kalau sedang jaga malam, seorang co-ass bahkan tidak pulang. Jaga malam yang dimaksud juga bukan dalam bentuk shift yang besok paginya pulang lalu berganti orang. Co-ass pasca jaga malam akan kembali mengikuti kegiatan harian biasa yang dimulai sejak pagi.

Menjadi co-ass berarti siap mengasah kemampuan mengatur waktu antara bekerja dan belajar, menangani pasien dan mengerjakan tugas, kemampuan tidur sambil duduk, berdiri, meringkuk di bawah meja, atau bahkan tidak jarang di atas trolley obat. Apalagi kalau sedang ditempatkan pada divisi yang sibuk dan banyak jaga malam. Makan akan menjadi tidak teratur, apalagi jadwal mandi.

Tapi menjadi co-ass adalah menjadi bagian dari rumah sakit yang paling dekat dengan pasien. Menemui mereka hampir setiap hari, membantu apapun yang mereka butuhkan, bahkan soal hal-hal di luar masalah medis sekalipun. Ketika sudah jadi dokter, belum tentu kami bisa sedekat itu. Tidak ada yang lebih menghapus lelah, dibanding senyum setiap pasien yang dengan tulus berkata ‘terima kasih’.

Ya, seperti yang dikatakan akun quotes  di Instagram tadi; Nothing worth having comes easy.

Really.

 


 

Tulisan ini dimuat sebagai hasil seleksi Open Call ‘Ruang Risalah’ yang dilaksanakan bulan Oktober 2016.

Oleh Rizki Ami Lavita


YANG TERBARU

Ingin Mendonasikan Barang Yang Sudah Tak Terpakai? Kesini Saja!

BagiKata.com – Belum sempat nonton Tidying Up with Marie Kondo di Netflix? Bila kamu sedang menantikan perubahan positif dalam hidupmu, series Netflix


Laki-Laki Dalam Feminisme

BagiKata.com – Sedari dulu kita sudah terbiasa dengan anggapan, asumsi, atau peraturan kasat mata yang membedakan perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut


Kamu Sudah Sampai Di Mana, Kesetaraan Gender?

www.bagikata.com – Kalau bicara tentang feminisme, sebenarnya peraturan dan hukum yang berlaku di negara demokrasi ini sudah menyetarakan hak laki-laki dan