BagiKata.com – Saya seorang mahasiswi program Journalism & Mass Communication di London, Inggris, United Kingdom (UK). Hidup harusnya mudah dan enak; kuliah jurnalistik di kota yang lintas medianya sudah dimulai sejak 1702. Sejarah dan budaya sekitar mendukung, fasilitas pun lebih dari memadai. Tetapi seperti pepatah berakit-rakit ke hulu memahami berenang-renang ketepian, setahun tidaklah cukup untuk saya bisa menghargai pendidikan yang saya jalani. Butuh waktu lebih dari 12 bulan untuk saya dapat beradaptasi dan aturan main kuliah jurnalistik di University of Westminster seutuhnya.

Ekspektasi:

Mempelajari jurnalistik berarti saya akan belajar cara menulis yang baik serta bagaimana menjadi jurnalis kelas dunia. Saya akan tahu hal-hal terbaru yang sedang panas dibicarakan dan bahkan mungkin berkesempatan untuk mengolah berkas-berkas pemerintah untuk nantinya dipublikasikan ke khalayak ramai.

Politik akan menjadi satu dari sekian banyak hal yang saya pelajari; Seni, budaya, sejarah, dan ilmu alam juga akan menjadi bagian dari rutinitas kuliah. Ketika lulus, saya akan menjadi seseorang yang bukan hanya well-rounded tetapi juga berwawasan luas. Saya akan siap untuk menjadi perpanjangan tangan; seorang mediator dari sumber berita ke mereka yang membutuhkan informasi. Sebab, bukankah pengetahuan adalah salah satu jendela dunia terbaik? Saya lebih dari siap untuk melakukan kebaikan-kebaikan di hidup yang entah berapa lama ini.

Realita:

Dengan kelas yang tidak setiap hari, jadwal belajar saya sempat berantakan. Terbiasa dengan jadwal sekolah yang padat, kuliah serasa membosankan dan kurang menantang. Tentu saja hal itu berubah begitu saya melihat nilai semester satu. Setiap semester diisi dengan empat sampai lima mata kuliah. Untuk tahun pertama, semuanya merupakan mata kuliah core atau wajib diikuti oleh semua mahasiswa. Sebagian dari tahun kedua diisi dengan mata kuliah wajib; Sisanya, mata kuliah pilihan sesuai minat masing-masing.

Yang menarik: walaupun terkesan santai, sebenarnya tugas kami cukup banyak dan berat. Jurusan jurnalistik betul-betul mengajar saya untuk menjadi seseorang yang well-rounded di bidangnya, karena saya harus bisa menulis, berbicara dan merekam berita dengan sama baiknya. Kurikulum di Inggris juga menganut sistem belajar yang cukup independen; satu sesi perkuliahan mungkin hanya berlangsung selama satu sampai dua jam. Namun, setiap minggunya, kami diwajibkan membaca tiga bab dari tiga buku yang berbeda untuk setiap pelajaran, 12 hingga 15 bab per minggu, sesuai yang sudah ditentukan oleh dosen masing-masing.

Nantinya setiap minggu kami wajib berdiskusi, dan tulisan-tulisan serta hasil rekaman kami akan dinilai berdasarkan bacaan sejak minggu pertama. Selayaknya, semakin banyak kriteria penilaian yang harus kami penuhi seiring dengan berjalannya waktu.

student-journalism-digital-media

Menjadi aktif, kritis dan tanggap adalah tiga kriteria yang wajib dimiliki. Kata “mendadak” resmi dihilangkan sejak hari pertama – tak jarang kami harus pergi meliput demo, berkejaran dengan waktu, maupun menghadiri konferensi pres yang dalam hitungan menit menjelang acara tiba-tiba memutuskan untuk memberi tempat kepada mahasiswa dari universitas kami.

Kesimpulan:

Orang sering bilang bahwa ketika melakukan pekerjaan kita melibatkan hobi, harusnya pekerjaan itu menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Saya harus menyangkal pernyataan di atas, karena untuk saya sendiri, akan jauh lebih mudah jika kita belajar untuk mencintai apa yang kita lakukan dan bukan hanya sebaliknya. Karena titik jenuh akan selalu ada, dan yang bisa membuat saya bertahan bukan kecintaan saya terhadap dunia tulis-menulis, melainkan visi dan misi saya.

Jumlah bacaan yang diberikan memang banyak; dan sebagai seorang yang senang membaca, hal ini tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika saya merasa tidak bisa menyelesaikan tugas dengan alasan writer’s block atau ketika saya menunda pekerjaan untuk urusan pribadi yang sebetulnya masih bisa ditunda. Semua pekerjaan memiliki tenggat waktu masing-masing; tetapi, berada di dunia media mengajarkan saya betapa pentingnya waktu. Bukan hanya di dunia pekerjaan, namun di kehidupan sehari-hari terlebih lagi.

 

Foto: USA Today, Media Shift


Abigail Megan

Disunting oleh tim BagiKata


YANG TERBARU

Warga Lokal – Bunuh Diri: Tak Pandang Bulu

BagiKata.com – Beberapa tahun lalu, saya mendapat pesan singkat dari teman dekat saya. Bahwa dirinya ingin bercerita. Tumben, pikir saya. Kondisi kami


Serba-Serbi Menstruasi

BagiKata.com – Siklus menstruasi merupakan siklus yang dinamis. Setiap perempuan bisa mengalami siklus yang berbeda dengan perempuan lainnya. Variasi ini biasanya normal.


Warga Lokal – Hidup Lebih Positif dengan Rutin Bersyukur

BagiKata.com – Hidup positif (baca: bahagia) itu tidaklah sulit. Terkadang hal-hal kecil yang tidak kita sadari membuat kita bahagia loh. Sayangnya,