BagiKata.com – “Saudara mesti ingat, menjadi Antropolog itu pasti melawan arus, perangkat ilmu kita mengajarkan kita untuk setia pada masyarakat. Kalau sudara tak jadi macan, macan itu hewan soliter, sudara hanya akan jadi ilmuwan-ilmuwan yang bisa dibeli proyek, mengerti sudara?”

-Parsudi Suparlan-

Sebelum anda terlalu jauh membaca “keluh kesah” saya ini, ada baiknya saya memberikan sedikit gambaran mengapa saya memasukkan kutipan dari buku Corat-Coret Parsudi Suparlan diawal tulisan saya ini. Saya sendiri memilih untuk mengambil jurusan antropologi, karena saya tertarik terhadap pola pemikiran yang ditawarkan oleh beliau di dalam buku ini.

Bagaimana seseorang harus bisa mendedikasikan diri sepenuhnya untuk masyarakat dan karena alasan yang cukup simpel, kemanusiaan. Namun setelah saya menenggelamkan diri dalam dunia perkuliahaan antropologi selama empat tahun, saya semakin sadar bahwa pada kenyataannya untuk di masa seperti ini  atau setidaknya beberapa tahun kedepan pemikiran beliau belum tentu bisa diterapkan secara ideal.

Pada masa semacam ini, bisa dikatakan perkembangan ilmu antropologi di Indonesia hanya mendapatkan sedikit kemajuan. Salah satu faktor yang membuat perkembangan ini terasa jalan di tempat adalah kurangnya minat lulusan antropologi untuk tetap mengaplikasikan ilmu yang ia pelajari. Saya sendiri, mungkin karena telalu malas dipusingkan dengan ritus kerja 9-5, lebih memilih opsi untuk menjadi antropolog/etnografer yang lebih sering menghabiskan waktunya di lapangan dan bisa sedikit bebas mengatur jadwal sendiri, baik jadwal untuk bertemu dengan informan, jadwal FGD (Focus Group Discussion), dan lain-lain. Mungkin yang sedikit tidak bebas dari menjadi peneliti lapangan hanyalah ketika pulang dari lapangan dan kita dituntut untuk segera menyelesaikan laporan (tapi saya rasa itu bukan masalah karena sepanjang perkuliahan saya selalu berkutat dengan deadline).

Credit: Wellcome Library, London. Wellcome Images

Menjadi antropolog/etnografer di masa seperti ini pun bisa dikatakan tidak mudah, dan pada kenyataannya hal ini sedikit berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan oleh Parsudi di dalam buku yang saya sebut di paragraf pertama. Yang pertama, hal ini karena untuk saat ini regenerasi para antropolog/etnografer semakin sedikit, sementara itu kami tetap diharapkan untuk melawan arus dan setia terhadap masyarakat.

Selain itu tawaran proyek-proyek yang bersifat non-antropologis dan memiliki dana  yang cukup menggiurkan lebih banyak dibanding dengan proyek-proyek yang bersifat antropologis dan sesuai dengan kriteria yang diberikan oleh Parsudi Suparlan mengenai bagaimana menjadi seorang antropolog/etnografer yang ideal.

Mungkin untuk sekarang kami masih bisa menahan diri dan tetap berpegang teguh terhadap nilai-nilai yang ditanamkan oleh beliau, tapi apakah 10-20 tahun mendatang sikap ini masih menjadi nilai-nilai yang dapat dipertahankan oleh generasi selanjutnya?

 

Foto: Wellcome Library, London. Wellcome Images.

 


Aria Atyanto Satwiko

Disunting oleh tim BagiKata


  • INTAN PUTRI

    Bahkan dalam dunia kerja pun sulit menemukan lembaga yang membutuhkan seorang antropolog 🙁

  • Valentina Wijayannto

    ketika idealisme ilmu di benturkan oleh realita dan kebutuhan pasca wisuda 🙁

YANG TERBARU

Warga Lokal – Bunuh Diri: Tak Pandang Bulu

BagiKata.com – Beberapa tahun lalu, saya mendapat pesan singkat dari teman dekat saya. Bahwa dirinya ingin bercerita. Tumben, pikir saya. Kondisi kami


Serba-Serbi Menstruasi

BagiKata.com – Siklus menstruasi merupakan siklus yang dinamis. Setiap perempuan bisa mengalami siklus yang berbeda dengan perempuan lainnya. Variasi ini biasanya normal.


Warga Lokal – Hidup Lebih Positif dengan Rutin Bersyukur

BagiKata.com – Hidup positif (baca: bahagia) itu tidaklah sulit. Terkadang hal-hal kecil yang tidak kita sadari membuat kita bahagia loh. Sayangnya,