BagiKata.com – Ketika saya belajar sejarah di Sekolah Dasar, saya seringkali mendengar istilah “Insinyur” (Engineer dalam Bahasa Inggris ) sebagai gelar dari founding father bangsa ini. Dan semenjak itu, saya selalu beranggapan insinyur dan arsitek itu bidang profesi yang sama. Pola pikir tersebut terus melekat dan membuat saya tidak pernah berandai menjadi bagian dari mereka. Citra arsitek yang identik dengan jago menggambar tidak sesuai dengan saya yang pada saat itu jika menggambar karakter Doraemon hasilnya justru lebih mirip donat berkumis dibandingkan tokoh kucing lucu. Dulu, saya lebih memilih bermimpi menjadi sosok berjubah putih yang dielu-elukan para pasiennya.

Menjadi seorang System Engineer, bagaimana?

Tapi takdir berkata lain, empat tahun yang luar biasa di Bandung membuat saya paham akan banyak hal mengenai bidang profesi teknok yang beragam, dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda-beda. Berbekal gelar Sarjana Teknik, akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba mengikuti seleksi sebuah perusahaan di Jepang. Dan setelah beberapa tahap seleksi saya lewati, saya akhirnya resmi menjadi bagian perusahaan Multinasional Jepang yang berpusat di Tokyo sebagai seorang System Engineer.

Sesederhana namanya, System Engineering merupakan salah satu bidang profesi yang mengaplikasikan pengetahuan di suatu bidang keilmuan dalam merancang sebuah sistem. Tentu sistem yang dimaksud di sini bukan sistem pencernaan atau sistem reproduksi. Sistem yang dimaksud merupakan sistem yang melandasi bisnis dari sebuah perusahaan. Seperti contohnya sistem manufaktur seperti yang sedang saya jalani saat ini.

Dalam era dimana data menjadi lauk utama dalam sebuah bisnis dan informasi menjadi sebuah kekuatan, semua sistem yang melandasi sebuah bisnis tentunya harus terintegrasi dalam sebuah sistem digital yang dapat bekerja dengan cepat, akurat, dan handal. Itulah yang kita sebut dengan Sistem Informasi.

Apabila kita berbicara tentang Sistem Informasi, maka tentunya perancangannya tidak jauh dari kode kode pemrograman yang harus dapat menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi di lapangan. Tapi fokus bidang profesi ini bukan hanya terletak pada kemampuan berkomunikasi dengan komputer. Tapi juga harus diimbangi dengan komunikasi antar manusi, karena unsur paling dasar yang membentuk sebuah sistem bisnis adalah manusia. Terlebih karena perusahaan tempat saya bernaung bergerak dalam bidang IT Consulting.

Berjuang di Negeri Orang Memang Sulit, Tapi Saya Mampu Mengatasinya

Bukan besar penghasilan yang membuat pekerjaan ini menarik. Tapi budaya kerja dan tantangan tantangan yang terus menampar saya, membuat pekerjaan ini terasa begitu menyenangkan. Sebagai salah satu kiblat dalam industri manufacturing, Jepang sangat terkenal dengan berbagai ilmu untuk meningkatkan efisiensi dalam bisnis. Saya belajar bahwa waktu merupakan sumber daya yang sangat mahal di sini. Selain itu juga, dengan predikat kota dengan populasi terbesar di dunia, Tokyo sukses mengumpulkan kultur dari berbagai belahan dunia, sehingga saya bertemu dengan berbagai jenis orang dengan pola pikir yang luar biasa. Sebuah hal yang membuat mata saya terbuka akan betapa kecilnya pribadi ini.

© David Chiem 2009

© David Chiem 2009

Tentu saja, meskipun penuh pengalaman menarik, bekerja menjadi sebuah system engineer di Jepang tidak melulu menyenangkan. Banyak ketidakcocokan yang saya rasakan dalam menjadi bagian sistem kerja budaya Jepang. Meski tidak lagi menjadi yang terlama, bukan sebuah rahasia kalau negara Jepang merupakan salah satu negara dengan rata-rata waktu kerja yang relatif lebih lama dibandingkan dengan negara lain. Dimana keharmonisan dan kerja sama di atas segalanya sehingga kerap kali membuat expatriate tidak dapat mengikuti ritme dan merasa kurang cocok dalam lingkungan kerjanya.

Dampak dari ‘semangat’ itu menyebabkan berbagai macam sistem seperti senioritas yang sangat dijunjung tinggi dan kemampuan individu yang kurang dihargai. Menikmati hidup merupakan kemewahan yang cukup susah didapatkan disini. Sangat sulit menemukan orang yang tersenyum dalam padatnya kereta Tokyo di pagi hari.

Secara formil jam kerja kami dimulai dari pukul 9.00 hingga pukul 17.20, meski secara informal saya tidak pernah meninggalkan kantor sebelum pukul 19.00 apabila tidak ada sesuatu yang benar benar mendesak. Waktu overtime yang cukup tinggi di negara Jepang bukan dikarenakan innefisiensi dalam bekerja, tapi murni karena mereka merupakan bangsa pekerja keras. Belum lagi perkara kangen kampung halaman yang sering kali muncul akibat teman-teman atau saudara di tanah air yang gemar memamerkan keakraban mereka di media sosial.

Maka dari itu, hidup di Jepang mengajarkan saya bahwa hanya bermodal kemampuan kita pada bidang keilmuan saja sering kali tidak cukup. Sering kali kita harus mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar, juga bekerja dengan baik meskipun sedang di bawah tekanan ataupun ketidaknyamanan. Dan yang terpenting, bekerja di Jepang telah menunjukan pada saya bahwa kita sebagai manusia harus selalu siap untuk menghadapi tantangan di depan.


Arya Nengga

Disunting oleh tim BagiKata


YANG TERBARU

BagiKata Telaah #2 : How To Craft Successful Branding

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah acara


BagiKata Telaah #1 : Basic Songwriting & Music Branding for Bedroom Musician

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu