Bagikata.com – Oktober 2016, dalam sebuah perjalanan pulang setelah menonton konser si raja dangdut, teman saya yang bernama Sahid bercerita “Sekarang di Jakarta Timur lagi ngetrend banget tuh bocah-bocah nungguin klakson telolet bis di pinggir jalan”.

Saya sih waktu itu tertawa saja, sambil setengah  percaya setengah enggak.

Siapa sangka dua bulan setelah obrolan itu, fenomena itu malah jadi sebuah trend yang mendunia?

Ratusan video orang-orang menunggu bis di tepi jalan tersiar kemana-mana, bahkan beberapa pelaku musik internasional pun ikut berpartisipasi dalam fenomena ini dengan mengunggah beberapa musik remix racikan mereka dari video-video yang beredar di kanal video daring.

Fenomena “om telolet om” bisa go-international jauh lebih cepat daripada Agnes Monica. Menarik kan?

Jika dipikir, sulit untuk menemukan dimana serunya diklaksonin sama bis. Lucu engga, bermanfaat apalagi.  Benar-benar tidak ada alasan yang jelas kenapa ada segerombolan orang yang mau berdiri di pinggir jalan hanya untuk menanti datangnya si telolet ini. Sudah panas, bau asap pula. Cuma orang Indonesia yang bisa bikin nungguin bis lewat jadi seheboh ini.

Tapi mungkin, memang itu intinya. Menunggu telolet seolah menjadi pengingat bahwa untuk bahagia, kita tidak butuh banyak alasan. Untuk sekedar tertawa gembira kita tidak perlu banyak bertanya kenapa.

Tertawa itu mudah. Bahagia itu murah. Asal kita mau.

Rasa senang tidak harus melulu hadir hanya dari kita beli gadget baru atau saat pacar kita mengunggah foto kita dengan caption romantis di media sosial. Rasa senang banyak bentuk dan penyebabnya.

Mencuatnya fenomena ini di penghujung tahun 2016 ini pun seolah menjadi tandingan dari banyaknya orang yang berbondong-bondong mengeluh bahwa tahun ini tahun yang buruk. Fenomena telolet bisa menjadi refleksi akhir tahun bagi kita, dan kita bisa belajar dari mereka yang setia menunggu klakson bis di tepi jalan. Mereka tidak mengeluhkan terik yang panas atau asap dari kendaraan lainnya, mereka mengabaikan itu semua karena sedang sibuk menunggu kegembiraan selanjutnya.

Bisa jadi sepanjang tahun ini ada banyak hal-hal baik kecil yang kita abaikan karena kita terlalu sibuk mengeluhkan kesialan kita. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengeluh, tapi malas dalam bersyukur.

Dalam menunggu telolet pun, pasti ada juga supir rese yang pelit klakson, melaju kencang mengabaikan kita yang sudah menunggu di pinggir jalan. Tapi di belakang bis itu, bisa jadi akan ada supir bis baik hati lain yang bersedia membunyikan klaksonnya agar kita bisa bersorak.

Mirip kan sama hidup?

Di setiap ada hal buruk yang tejadi, sebenarnya ada banyak hari baik lain yang sedang antri giliran untuk datang.

Sebentar lagi bis nomor 2016 akan berlalu, di ujung jalan sudah nampak bis 2017 akan lewat.

Mari kita tunggu sambil memengurangi mengutuk terik atau memaki asap.

Kita sibuk saja ketawa-ketiwi, sambil menunggu kehadiran telolet berikutnya.

Foto: Pexels.com


Gilang Kharisma

Disunting oleh BagiKata


  • farhan ahmaddaffa

    Ya begitulah. Menurut gue manusia itu diciptakan untuk bahagia namun yaaaa kitanya sendiri yang membuat hidup jadi susah

YANG TERBARU

BagiKata Telaah #2 : How To Craft Successful Branding

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah acara


BagiKata Telaah #1 : Basic Songwriting & Music Branding for Bedroom Musician

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu