BagiKata.com – Saya adalah pribadi yang cukup tertutup. Apalagi ketika pertama kali berkenalan dengan orang baru. Saya membangun ekspektasi tertentu dalam berhadapan, terlebih dari segi jarak. Selalu ada jarak yang saya ciptakan demi mempertahankan kenyamanan dalam berinteraksi dan mengharapkan lawan bicara saya mampu mematuhinya. Namun tidak jarang ekspektasi tersebut dilanggar dan saya hanya terdiam ketika melihat garis batas privasi yang sudah saya buat dilangkahi begitu saja. Salah? Sangat. Mengapa? Karena saya menyadari, kontak fisik atau komentar tidak senonoh yang ditujukkan kepada saya, yang telah melanggar batas privasi saya, adalah bagian dari pelecehan seksual.

Sudah saatnya melakukan perubahan, dengan menghapus anggapan bahwa pelecehan seksual itu wajar selama masih di dalam batas. Tidak ada batas untuk perilaku pelecehan seksual; setiap perilaku dalam kategori tersebut nyatanya sudah berada diluar batas. Tidak sepatutnya disisakan ruang toleransi dan kesempatan untuk menggunakan kalimat ‘masih mending, kok’ demi menyamankan diri dalam kondisi tidak nyaman.

Mungkin beberapa dari pembaca masih belum sepenuhnya mengerti tentang pelecehan seksual dan contoh perilakunya. Secara fundamental, pelecehan seksual mencerminkan kedudukan perempuan yang disubordinasikan oleh dominasi laki-laki (dapat terjadi sebaliknya). Pelecehan seksual ada dimana saja; lingkungan pertemanan, keluarga, bahkan kerja. Tidak ada lingkungan yang benar-benar bisa dinyatakan aman dari ancaman pelecehan seksual.

Namun kali ini masalah pelecehan seksual yang akan dibahas adalah yang sering terjadi di lingkungan kerja, dimana saya dan kebanyakan rekan-rekan sebaya menghabiskan sebagian besar waktu kami sehari-hari. Sebuah penelitian survey yang dilakukan oleh lembaga TUC menyatakan lebih dari 50% wanita mengalami pelecehan seksual ketika menjadi karyawan di sebuah kantor. Dari penelitian tersebut, ada beberapa jenis pelecehan seksual dalam lingkungan kerja yang dapat diidentifikasi seperti fisik, lisan, isyarat, tertulis, dan psikologis atau emosional. Sebuah perilaku dapat digolongkan dalam kategori pelecehan seksual ketika menimbulkan efek tegang, tidak nyaman, malu, atau terintimidasi. Saat merasakan hal-hal tersebut, sudah saatnya garis batas privasi diciptakan setebal mungkin untuk meghindari terjadinya pelecehan berulang kali dan menjadi rutinitas yang, lagi-lagi, ditolerir.

Tetapi tidak ada akibat bila tidak ada sebab. Sejak dulu, masyarakat sudah disuguhi dengan image sekretaris yang ‘pasrah digoda habis-habisan oleh atasan-nya dalam bentuk sinetron (bahkan ada versi yang balas menggoda) dan ini berpengaruh sedikit banyak pada dunia nyata. Lingkungan kerja pada umumnya memiliki struktur organisasi yang bersifat hierarki, baik horizontal maupun vertical, dan didasari oleh urutan otoritas atau tingkat kekuasaan. Maka dari itu, perilaku verbal maupun non-verbal berunsur pelecehan seksual sudah dianggap lazim dalam lingkungan kerja, terlebih ketika pelaku memiliki tingkat kekuasaan yang lebih tinggi dibandingkan korban (meskipun tidak sedikit pelaku yang berasal dari tingkat otoritas yang sejajar dengan korban). Garis batas privasi antar pekerja nyaris tidak lagi terlihat, dan pelecehan seksual dianggap menjadi bagian dari tradisi. Tugas pelaku dan korban hanyalah untuk mewajari dan diwajari.

Bentuk yang paling sering ditemui, dari pengalaman saya, adalah komentar bernada seksual. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang menyadari sedang atau sudah dilecehkan secara seksual namun tidak berani melawan atau mengadu karena takut akan mempengaruhi hubungan kerja dan prospek karier, atau tidak melawan karena beranggapan bahwa pelaku hanya sekadar bercanda. Berbicara soal prospek karier sebagai salah satu faktor kuat yang menahan korban pelecehan seksual untuk bersuara, perlu dipahami bahwa lingkungan kerja yang baik tidak akan mempermalukan dan melakukan penyalahgunaan terhadap pekerja – percuma memiliki prospek karier yang baik di lingkungan yang tidak baik, hanya akan merusak prinsip dan moral yang tertanam pada diri individu.

Tidak sedikit juga kasus yang menceritakan atasan sebagai pelaku memanfaatkan otoritas yang ia miliki dan mengancam korban dengan ancaman masa kerja akan dipersulit apabila keinginan seksual-nya tidak dituruti. 9 dari 10 kasus mengungkapkan pelaku pelecehan seksual berupa pria yang menjabat selaku manager atau yang berwenang diatas mereka, dan 79% dari korban mengaku tidak melaporkan tindakan tersebut mayoritas dikarenakan faktor kedudukan. Saya tidak akan membahas kondisi mental pelaku karena sudah tidak diragukan lagi pasti terganggu. Saya hanya akan bertanya kepada korban, mau sampai kapan integritas diri harus dikorbankan demi mempertahankan sesuatu yang sebenarnya dapat dicari ditempat lain?

Lebih mudah untuk berkata daripada berperilaku, mungkin ini kesan yang pertama kali ditangkap ketika membaca pertanyaan saya di atas. Namun saya percaya: setiap perubahan membutuhkan awal, awal yang datang dari keberanian diri sendiri. Diawali dengan memahami bahwa tradisi seperti mewajarkan dan mempertahankan pelecehan seksual dalam lingkungan kerja (dan lingkungan lainnya) wajib dipatahkan karena selain melanggar pasal ketenagakerjaan UU No. 13/2003, Pasal 86 Ayat 1 serta menciptakan lingkungan kerja yang tidak menyenangkan, mampu merusak pandangan moral dan kemampuan indvidu dalam menilai diri.

Saya ingin mengajak semua orang yang membaca tulisan ini, wanita maupun pria, untuk mulai menghargai diri sendiri dengan menciptakan batasan-batasan interaksi sosial dan berlindung dalam batasan tersebut. Prinsip, pandangan moral, serta nilai diri merupakan faktor-faktor yang bersifat penting dan harus dipertahankan karena berpengaruh pada pembentukan integritas seseorang. Bagaimana kita bersikap tentunya akan mempengaruhi lawan bicara; menunjukkan sikap tidak senang ketika mendengar komentar seksual atau menolak ketika atasan atau rekan kerja melakukan kontak fisik yang berlebihan tentu akan mengubah sudut pandang pelaku pelecehan seksual. Tetapi apabila pelecehan tetap terjadi meski sudah diadakan perlawanan, berarti sudah saatnya melaporkan pada pihak berwajib atau yang sekiranya dapat membantu. Tidak perlu takut, kehilangan pekerjaan ‘masih mending, kok’ daripada kehilangan harga diri. Jangan membiasakan diri pasrah dan nyaman apabila menyadari sudah waktunya ‘keluar’ dari ‘lingkar tidak sehat’.

Ingat, satu suara kecil dapat menggema dan membawa pengaruh besar bagi suara-suara lain yang belum terdengar.


Savira Ralie selalu memiliki ketertarikan dengan literatur. Topik tulisan yang menjadi favorit Savira antara lain kemanusiaan, kesetaraan gender, dan psikologi. Savira berbagi pengalaman hidupnya atau pendapatnya mengenai isu-isu yang sedang diperbincangkan melalui blog pribadinya di saviralie.wordpress.com. Selain menulis, Savira suka membaca novel psikologis thriller atau menonton dokumenter dan melukis.

Disunting oleh tim BagiKata.


YANG TERBARU

Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 22

www.bagikata.com – Dalam jangka waktu satu tahun, salah satu negara yang menjadi kiblat dunia dalam kebudayaan barat berhasil mengganti presiden kulit