BagiKata.com – Ini tentu fiksi, saya kira tak pernah ada orang yang benar-benar bisa move on. Kamu tahu? Sebelum membaha lebih jauh, baiknya kita sepakati dulu, move on itu kata yang overrated. Ada padan kata yang lebih sesuai untuk menggambarkan “peristiwa di mana kita mampu melewati duka dan bertahan hidup dari peristiwa itu” dan itu bukan move on. Saya lebih suka menggunakan kata menyintas.

Lima tahun lalu saya menulis tentang seorang teman yang tak bisa menyintas. Ia perempuan mandiri yang lebih mirip serdadu daripada barbie. Bukan berarti ia maskulin atau semacam itu. Seperti prajurit ia menolak untuk menyerah, kerap kali ekspektasi yang diberikan padanya bisa dicapai berkali-kali libat lebih baik. Dengan pesona yang punya, sebenarnya bisa saja mendapat lelaki yang ia mau. Toh diam pun sudah banyak lelaki yang mengejarnya lintang pukang. Tapi ya dasarnya perasaan, ia bilang tak bisa memilih salah satu. Ia masih sayang dengan mantan pacarnya itu. Lelaki yang membuatnya mabuk kepayang sampe menahun menahan rindu. “Kadang kala aku cape, ditelikung perasaan sendiri. Belum tentu mantanku kepikiran seperti yang aku lakukan. Ini sia-sia,”

Sudah tahu sia-sia mengapa kau lakukan menahun?

Sampai hari ini saya masih percaya bahwa jatuh cinta itu perkara mudah, tapi untuk melupakan kau perlu kerja keras. Duduk sendirian berkelahi dengan perasaan sendiri, bayang-bayang masa lalu lantas yang muncul seenaknya, lantas saat lengah kau akan digerogoti kesunyian yang kau ciptakan sendiri. Kita kerap kali direpotkan oleh keinginan-keinginan yang kita buat sendiri, lantas ketika ia tak bisa dipenuhi kita mengutuk nasib dan menyumpahi segalanya. Seolah takdir adalah peristiwa terberi yang tak bisa kamu ubah ujung akhirnya.

Ketika menjadi tamu untuk jadi admin BagiKata, sebagian besar mereka yang bertanya pada saya penasaran tentang cara move on atau cara menyintas dari masa lalu. Lagipula memangnya mengapa jika tak menyintas? Toh perasaan melankoli berlebihan tak melulu buruk. Mengapa harus takut dikatakan manusia yang gagal karena tak mampu menyintas perasaan sedih?  Haruskah kita menyintas? Saya kira tidak. Jika menyintas hanya karena paksaan atau lelah diolok-olok kawan, itu sama seperti kau pindah agama hanya karena tuhanmu tak lagi populer.

Menyintas adalah persoalan pilihan. Jika tak ada yang salah atau tak ada alasan tepat menyintas mengapa memaksakan diri? “Tapi kan gak mau move on itu kan gak sehat. Masokis,” satu dua temanmu akan berkata demikian. Tapi sadar gak sih sebenarnya manusia memang masokis. Mereka bekerja 8 jam sehari untuk mencari uang dengan keras. Lantas menghabiskan seluruh penghasilannya itu dalam waktu yang singkat. Mereka menyesali keputusan itu namun tetap mengulang bekerja lagi 8 jam sehari untuk bersenang-senang dengan cara yang sama.

Untuk kalian yang selalu bertanya mengapa banyak orang yang memilih tidak untuk menyintas, barangkali karena sebagian dari kita percaya jika penderitaan adalah jalan lain kebahagiaan. Ia membuat manusia menyadari kedaifan diri, bahwa ia adalah hina dan kebahagiaan seharusnya diraih oleh perjuangan. Menyintas adalah perkara proses yang seringkali digawat-gawatkan keberadaannya. Tapi menyintas kadang tidak sesederhana melupakan seseorang yang pernah kita sayang. Move on adalah perkara memberikan kelegaan terhadap orang yang kita sayang melanjutkan hidup tanpa terbebani nasib kita sendiri.

Teman saya itu menolak ini. “Kejauhan Dhan, ini gue lagi ngomongin mantan gue. Gue pengen balikan tapi ditolak. Gengsi dong ngemis-ngemis,” katanya. Beberapa dari kita memilih untuk menjilat lubang dubur ego sampai bersih ketimbang menyerah pada perasaan yang mungkin akan membuat kita bahagia. Kita memilih untuk menelan batu ketimbang berkata jujur tentang perasaan sendiri. Konstruksi patriarkis membuat laki-laki dan perempuan tunduk pada label. Bahwa satu jenis kelamin punya karaktersitik yang partikular sehingga tak boleh menunjukkan perasaannya sendiri.

Laki-laki tidak boleh cengeng, jangan menangis, jangan mengemis perasaan, kamu laki-laki mestinya jangan mau memohon di depan cewek. Sementara si perempuan harus menunggu. Kamu itu perempuan, jangan ngejar cowok, jangan nunjukin kalo kamu suka, jual mahal sedikit. Tak ada yang waras dari dua argumen tadi. Kebahagiaan, seperti juga restu, semestinya direbut. Kamu tak bisa berharap orang lain memberikan kebahagiaan untukmu, ia adalah usaha apa boleh bikin dari tiap-tiap tembok yang kamu hancurkan dengan keras kepala.

“Ngomong mah gampang Dhan. Ini gue yang ngerasain,” sergahnya lagi. Tentu benar. Manusia tak pernah benar-benar bisa memahami perasaan orang lain. Kita hanya bisa meraba, mencoba mengerti, atau pura-pura mengerti. Toh perasaan, seperti juga nasib, adalah kesunyian masing-masing. Perasaan adalah manusia selalu unik. Ia bisa hadir seperti seorang maling, kamu tahu? Mereka bisa berulah seperti begal. Dalam kenangan, rintik hujan, wangi nasi goreng, potongan lagu atau bahkan wajah orang asing. Kenangan membuat manusia untuk terus hidup manusiawi.

Menyintas semestinya adalah sebuah berkah. Seperti juga luka yang membuat manusia sadar bahwa dirinya lemah. Menyintas akan menyisakan tanda. Barangkali semacam epitaph ketika momen perubahan diri telah selesai dilakukan. Tapi bagi saya menyintas adalah sebuah proses tanpa akhir. Kamu tahu? Ia adalah bahan bakar yang selalu membuat manusia dinamis. Ketika menyintas usai, selesai pula tugas manusia untuk hidup.

“Kalo udah kangen gini gue cuma bisa nangis. Gak enak tahu nahan kangen belum tentu yang dikangenin ngerasa juga. Kalo gini gue suka kesel ama Tuhan, dia itu jodoh gue bukan sih?” ujar kawan saya itu. Berapa dari kita yang menyalahkan tuhan saat nasib jadi brengsek, tapi berapa dari kita yang berterima kasih pada tuhan saat nasib kita mujur? Kita mengutuk nasib buruk tapi lupa caranya bersyukur dengan apa yang telah dimiliki saat ini.

Manusia mengembangkan kemampuan untuk tidak peduli saat ia merasa bahwa hati nuraninya tak lagi bisa menerima kebebalan. Kita hidup dan bekerja secara otomatik seperti gigi roda. Lantas berinteraksi seperlu dan sebutuhnya saja. “Garing amat idup kalo cuma begitu,” potong kawan saya itu. Kau akan dikejutkan oleh kemampuan manusia untuk berubah pendapat dan berubah keinginan. Saat ini kau bersedih karena kehilangan, besok kau akan bersorak merayakan pertemuan. Barangkali manusia hanya mencintai kegetiran itu sendiri. Ia mencintai harapan yang tak tuntas. Ketika harapan itu terkabul manusia senantiasa dikelabuhi rasa bosan. Ia ditelan oleh keinginan-keinginannya sendiri.

Lalu bagaimana cara menyintas? Saya tidak tahu. Tapi bagi kalian yang sedang menunggu, sedang bertahan, sedang berharap, dan sedang berusaha.

I want you to repeat after me:

And so I wish for patience, grace and the strength to see you love him (or her). I don’t want to alter your life and your joy because of what I feel and what I want. Because despite what happened between us, all I want is for you to be happy.


Arman Dhani

Disunting oleh Tim BagiKata


YANG TERBARU

Ulasan : Marvel’s Avengers: Infinity War

BagiKata.com – EPIC. Hentikan apapun yang kalian lakukan dan pergi ke bioskop terdekat di sekitar kalian. Ada 1 post-credit scene yang


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.