Bagikata.com – Saya adalah seorang Muslim yang berasal dari Bekasi, dan pada bulan Oktober lalu untuk keperluan sekolah, saya pindah ke Bali, tepatnya ke Nusa Dua. Saya sejak lahir sudah hidup di kalangan orang-orang Muslim. Bahkan, saya belum pernah bertemu dengan orang Budha maupun Hindu, dan hanya beberapa kali bertemu dengan penganut agama Kristen. Oleh karena itu, sedikit sekali yang saya ketahui tentang perbedaan budaya maupun agama.

Di Nusa Dua saya tinggal di asrama dengan 25 orang lain yang berasal dari berbagai pulau di Indonesia. Ada yang dari Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Jawa, yang mana mereka membawa budaya asal mereka ke dalam satu tempat yaitu asrama kami. Saya tinggal dengan orang-orang dengan agama yang beragam, ada yang orang Muslim, Kristen maupun Hindu. Di sini saya banyak menemui perbedaan kultur dan agama, yang awalnya saya pikir bisa menjadi hal yang kurang menyenangkan.

toleransi

Awalnya, saya mengalami culture shock. Mencium bau dupa menjadi hal baru buat saya. Mendengar beberapa orang Kristen bernyanyi bersama menjadi hal asing bagi saya. Dan yang paling saya ingat, tidak mendengar suara adzan menjadi hal yang sangat mengagetkan untuk saya. Tapi, dari situ saya mulai belajar soal toleransi. Saya pikir, inilah tempat yang tepat untuk memahami perbedaan, menghargai budaya dan agama lain, juga belajar untuk tidak perlu menjadi sama dan tidak takut pada perberbedaan.

Saya berusaha belajar bagaimana budaya Bali, apa yang harus dilakukan jika menghadapi situasi ini dan itu. Hal paling besar yang harus saya pelajari adalah bagaimana menjadi diri saya di tengah perbedaan yang rasanya akan menghilangkan budaya asli saya.

Saya bersyukur saya bisa melalui ini semua dengan baik, semua kecemasan saya pada akhirnya tidak terbukti. Saya sudah mulai terbiasa untu tetap melaksanakan sholat maghrib bukan ditemani adzan terlebih dahulu, namun dengan bau dupa yang mengiringi. Saya sudah terbiasa dengan umat Kristen yang suka diam secara khidmat membaca Al-Kitabnya. Saya juga beruntung mempunyai teman-teman yang mau mengingatkan saya saat waktu-waktu sholat.

agama-indonesia

Bahkan mereka juga menghargai ketika saya sedang sholat, mereka membantu saya menjaga wudhu saya dengan tidak menyentuh kulit saya. Seiring waktu saya pun tidak lagi asing dengan aroma dupa, tidak asing lagi dengan nyanyian umat Kristen, tidak asing lagi dengan lingkungan tanpa kumandang adzan. Dan ternyatam saya baik-baik saja.

Saya dan teman-teman saling belajar agama dan budaya satu sama lain agar bisa saling bertoleransi. Saya tidak mencoba untuk sama dengan mereka, pun juga sebaliknya. Saya pun justru menjadi bertanya-tanya soal Jakarta, masyarakatnya heterogen namun berusaha keras untuk menjadi sama? Kenapa harus berkeras agar semua sama saat perbedaan yang menimbulkan toleransi lebih indah?

Di Bali, di tempat yang penuh perbedaan kultur dan agama ini, perbedaan mengajarkan kita untuk jadi selaras, bukan berkeras.

 

Foto: Kaskus


Ratih Pramesti

Tulisan ini dimuat sebagai hasil seleksi Open Call ‘Ruang Risalah’ edisi kedua.

 


YANG TERBARU

Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 22

www.bagikata.com – Dalam jangka waktu satu tahun, salah satu negara yang menjadi kiblat dunia dalam kebudayaan barat berhasil mengganti presiden kulit