BagiKata.com – Dalam era globalisasi, peran dan posisi perempuan dalam dunia kerja semakin meningkat signifikansinya, tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia sendiri, partisipasi perempuan dalam ranah profesi tidak terlepas dari jasa Ibu Kartini, pejuang perempuan Indonesia yang hari kelahirannya ditetapkan sebagai hari emansipasi perempuan Indonesia. Berkat beliau, perempuan Indonesia memiliki kebebasan untuk bersekolah, bekerja, bahkan dilibatkan dalam pemerintahan negara. Untuk memperingati Hari Kartini pada 21 April 2019 ini, Podcast episode pertama BagiSuara membahas tentang perempuan dalam industri teknologi dengan Arifia Ayu Zenitha, seorang alliance manager di salah satu perusahaan teknologi bonafide di Indonesia. 

Perusahaan IT (informasi teknologi) memang kental dengan stigma terhadap perempuan. Sebagai industri yang didominasi oleh laki-laki, perempuan yang bekerja dalam industri ini seringkali mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan karena adanya stereotipe gender tertentu dalam dunia teknologi. Perempuan dianggap tidak mampu (incapable), irasional, dan masih sangat underrepresented. Belum lagi terpaan realita keeksklusifan dan diskriminasi yang dihadapi menyebabkan jumlah perempuan dalam industri teknologi terhitung sedikit meski saat ini hampir seluruh negara di dunia sedang memasuki era revolusi industri 4.0.

Arifia Ayu Zenitha, atau yang biasa dipanggil Ayu, juga menyatakan hal yang sama. Adanya stigma tertentu bagi perempuan yang bekerja di industri teknologi menjadikan perempuan kurang percaya diri dengan kemampuan yang mereka miliki. Ayu menganggap bahwa profesi dalam industri yang didominasi oleh laki-laki adalah sebuah tantangan karena adanya tekanan untuk menghasilkan sesuatu berbasis data. Bagaimana seorang perempuan dalam industri teknologi mengatasi stigma negatif tersebut? Ayu mengatakan, “Kita nggak bisa kabur dari stigma itu karena stigma akan selalu ada, tapi lebih ke bagaimana kita memposisikan diri. Satu-satunya hal yang bisa mematahkan stigma tersebut adalah dengan membuktikan bahwa we can do even a better job than them.”

Podcast ini juga membahas tentang perempuan dalam politik. Melihat dari debat pemilihan presiden beberapa waktu lalu, salah satu hal yang diangkat dalam representasi perempuan di bangku pemerintahan. Di Indonesia, undang-undang yaitu UU No. 10 Tahun 2008 mewajibkan partai politik untuk menyertakan 30 persen keterwakilan perempuan agar dapat ikut dalam pemilihan umum. Ini merupakan suatu langkah untuk meningkatkan jumlah perempuan dalam dunia perpolitikan Indonesia agar perempuan juga dapat terlibat dalam penetapan suatu kebijakan. Akan tetapi, di sisi lain kemampuan dan keahlian merupakan hal yang penting untuk menjadi suatu pertimbangan. Harus ada semacam proses di mana para perempuan yang akan mengisi suatu posisi strategis di pemerintahan adalah mereka yang memang memiliki kapabilitas yang mumpuni dan tidak terpatok pada gender ataupun kuota. Masyarakat Indonesia juga sudah mulai terbuka dan menerima perempuan yang berkarir. Bahkan sudah banyak perusahaan di Indonesia, termasuk perusahaan berbasis teknologi, yang dipimpin oleh perempuan dalam posisi yang lebih teknis seperti CTO (Chief Technology Officer). Dalam dunia kerja, keahlian lebih diutamakan daripada gender seseorang. 

Di masyarakat awam terdapat dua stigma yang memandang bahwa perempuan cantik lebih mudah untuk mendapatkan sesuatu dan stigma bahwa perempuan harus berdiam di rumah atau ‘jaga kandang’. Dalam menanggapi hal tersebut, Ayu berpendapat bahwa dalam lingkungan profesional, being presentable merupakan suatu hal yang penting. “If you can present yourself well, itu akan membuat orang berpikir bahwa lo tuh profesional, terpercaya, and show that you are here to work not to slack off. Kita nggak bisa menyangkal bahwa first impression is everything.” Sementara stigma bahwa perempuan diharuskan untuk ‘jaga kandang’, hal itu bergantung pada bagaimana perempuan melakukan kompromi dengan pasangannya. Yang terpenting adalah setiap orang harus menghormati satu sama lain dan menyadari bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab masing-masing. 

Dalam rangka memperingati Hari Kartini tahun ini, Ayu memaknai Hari Kartini sebagai sebuah pengingat sederhana bahwa pada zaman dahulu ada seorang perempuan yang berjuang untuk kebebasan dan kesetaraan bagi perempuan sehingga perempuan Indonesia saat ini harus dapat memanfaatkan hal tersebut semaksimal mungkin dengan menjadi versi terbaik diri kita. Ayu berpesan pada seluruh perempuan yang berkecimpung dalam dunia teknologi untuk percaya diri dan jangan meremehkan diri sendiri. “Don’t be afraid to take a leap of faith karena perusahaan teknologi nggak seserem, mereka sangat terbuka pada perempuan dan nggak takut dengan adanya women empowerment,” pesannya.


Artikel ini ditulis oleh Annisa Rohmaniah selaku kontributor dari BagiKata.


YANG TERBARU

Warga Lokal : Feminis Berkelas

BagiKata.com – Feminist Fest Indonesia, acara yang akan diselenggarakan oleh Jakarta Feminist pada 23-24 November 2019, sempat viral di media sosial


Perempuan dalam Industri Teknologi

BagiKata.com – Dalam era globalisasi, peran dan posisi perempuan dalam dunia kerja semakin meningkat signifikansinya, tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia


Sebuah Surat Untuk Kandidat

Teruntuk para kandidat yang telah berhasil membuat kami terkesan dan dipenuhi harapan namun terpaksa kalah oleh ia yang lebih cuan;