BagiKata.com – Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional setiap tahunnya, disahkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 44 tahun 1984 yang menetapkan tanggal 23 Juli setiap tahunnya sebagai peringatan Hari Anak Nasional dengan tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan anak, baik dari segi jasmani, rohani, dan sosial. Menurut Keppres tersebut, anak-anak merupakan generasi penerus bangsa dan oleh karenanya harus dibina dan dikembangkan demi kesejahteraan mereka di masa depan.

Image result for anak indonesia

Pemerintah menetapkan tema pentingnya kualitas keluarga dalam perlindungan anak untuk Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2019. Dalam rangka memperingatinya, KPPAI (Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia) mengizinkan seluruh lapisan masyarakat untuk mengadakan berbagai kegiatan yang difokuskan untuk memberikan penyadaran mengenai tema HAN tahun ini. 

Sebagai institusi pertama dalam masyarakat yang ditemui seorang anak dalam masa hidupnya, keluarga merupakan komponen penting dalam mendorong tumbuh dan kembangnya anak-anak. Keluarga memiliki peranan penting dalam membimbing juga melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik, verbal, maupun seksual. Di Indonesia sendiri, hak anak dilindungi dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Menurut UU tersebut, hak anak wajib dilindungi, dijamin dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara. Lalu, bagaimana situasi perlindungan anak di Indonesia saat ini?

Dilansir dari situs resmi KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), kasus kekerasan terhadap anak-anak di Indonesia pada tahun 2019 didominasi oleh kasus kekerasan psikis atau bullying (perundungan), kemudian disusul oleh kasus kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Selain itu, pelanggaran terhadap perlindungan anak juga meliputi kekerasan yang disebabkan oleh kebijakan. Data mengenai kasus pelanggaran tersebut diperoleh dari pengaduan dari masyarakat.

Contoh kasus perundungan yang viral di tahun 2019 adalah kasus pengeroyokan seorang siswi SMP di Pontianak berinisial A oleh 12 orang siswi SMA. Pertikaian antara kedua belah pihak diawali oleh saling menyindir di media sosial yang berujung penganiayaan meliputi pemukulan, penjambakan rambut dan mendorong hingga jatuh oleh 3 dari 12 siswi SMA tersebut kepada korban. Kasus ini mendapatkan perhatian besar dari masyarakat bahkan sempat viral di berbagai media sosial. Presiden Jokowi dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy sempat menyatakan keprihatinannya dan memberikan dukungan moral bagi korban.

Kasus kekerasan terhadap anak juga dapat dilakukan oleh keluarga sendiri. Tak jarang kita mendengar pemberitaan mengenai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua atau sanak saudara kepada anak-anak yang seharusnya diberikan perlindungan. Data yang dihimpun oleh KPAI menunjukkan pada 2018 terdapat 4.885 kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan. Lalu, dari 5.680 kasus yang dilaporkan hingga April 2019 kepada KPPA (Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak), sekitar 54,8 persen korbannya adalah anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak masih sering menjadi objek kekerasan di negara ini. Padahal, ada hukum yang melindungi mereka namun penegakannya masih terhambat. Mirisnya lagi adalah banyak pelaku kekerasan terhadap anak berasal dari keluarga sendiri.

Image result for keluarga indonesia

Lalu, bagaimana keluarga seharusnya menyikapi fenomena ini? Keluarga sebagai unit terkecil dalam sebuah masyarakat sejatinya menyadari bahwa anak-anak merupakan manusia yang juga memiliki hak asasi dan harus dilindungi. Perlu adanya peningkatan kesadaran mengenai pentingnya pola asuh dan pendidikan karakter, tidak hanya bagi anak-anak, namun juga bagi para orang tua agar tidak terjadi penyelewengan bahkan penindasan terhadap hak anak. Selain itu, perlu juga kesadaran bahwa anak-anak bukanlah properti orang tuanya.

Adanya suatu kebiasaan dalam masyarakat Indonesia yang membungkam aspirasi serta pendapat sang anak. Keluarga seharusnya dapat mengayomi keinginan anak, bukan mengendalikannya. Kekerasan terhadap anak baik secara fisik, psikis, atau seksual, dapat menyebabkan trauma yang berkepanjangan bagi sang anak. Ketika keluarga mampu menjadi pelindung dan pengayom bagi anak, maka proses tumbuh kembang anak akan terjamin. Kasih sayang menjadi komponen utama dalam sebuah hubungan keluarga dan harus selalu terjaga.

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang harmonis dapat menuntun mereka menjadi aset penerus bangsa yang berkarakter dan bermanfaat. Semoga peringatan Hari Anak Nasional tahun 2019 ini dapat meningkatkan kesadaran kita semua akan betapa berharganya anak-anak Indonesia dan hal tersebut dapat dimulai dari tingkat keluarga.

Untuk kalian yang mengalami permasalahan, dari keluarga ataupun lingkungan sekitar, dan merasa membutuhkan tempat yang aman untuk bercerita, yuk jangan sungkan untuk menyapa kami melalui akun Line BagiKata! Klik bit.ly/addbagikata untuk menambahkan BagiKata sebagai teman kamu ya!


Artikel ini ditulis oleh Annisa Rohmaniah selaku kontributor dari BagiKata.


YANG TERBARU

Perempuan dalam Industri Teknologi

BagiKata.com – Dalam era globalisasi, peran dan posisi perempuan dalam dunia kerja semakin meningkat signifikansinya, tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia


Sebuah Surat Untuk Kandidat

Teruntuk para kandidat yang telah berhasil membuat kami terkesan dan dipenuhi harapan namun terpaksa kalah oleh ia yang lebih cuan;


Layanan Antar Makanan di Indonesia

BagiKata.com – Pertumbuhan aplikasi teknologi yang menawarkan jasa transportasi seperti Go-Jek dan Grab terus meningkat hingga saat ini. Perusahaan jasa berbasis