BagiKata.com – Tahun 2010 lalu, saya diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Setelah menghabiskan dua tahun mempersiapkan diri, tentu saat itu saya sangat senang. Rasanya seperti di atas awan; diterima salah satu PTN terbaik di Indonesia, di jurusan yang bidangnya merupakan passion saya, rasanya pada waktu itu hidup tidak bisa lebih baik.

Namun setelah itu saya disadarkan secara pahit. Ekspektasi saya terhadap PTN dan kenyataan yang ada sangat berbeda.

Bukannya ingin menyalahkan sistem pendidikan Indonesia, tetapi saya ingin membuka tabir yang kerap menutupi muka remaja tanggung yang baru saja diterima di PTN—atau baru saja gagal SNMPTN. Tabir yang dulu juga menutupi muka saya. Berikut adalah beberapa hal yang saya harap sudah saya ketahui ketika diterima di PTN dahulu.

Kamu Tidak Spesial

Sewaktu masih SMA, saya dikenal sebagai anak yang “sangat nyeni” oleh teman-teman seangkatan. Melalui hobi fotografi, saya sudah memiliki penghasilan dengan cara menjadi tukang foto di ulang tahun teman-teman. Pun aktif, rekam nilai saya selalu berada di peringkat 10 besar kelas.

Saya merasa wajar jika bisa masuk ke PTN yang saya mau. Saya merasa spesial, saya merasa berbakat.

Delusi ini hancur di hari kedua kegiatan belajar-mengajar.

Teman sebangku saya bisa menggambar sebuah daun dengan presisi yang melebihi mesin pemindai. Sementara teman yang lain menggambar daun dengan gugahan emosi yang membuat Van Gogh pun malu. Ketika saya melihat daun yang saya gambar dan melihat bentuknya tidak jelas, saya sadar bahwa saya tidak spesial. Teman-teman saya yang lain pun banyak yang merasa demikian.

Masih banyak orang yang lebih hebat.

Kamu Bertanggung Jawab Penuh Terhadap Karir Akademi Kamu.

Waktu sekolah dulu, akan ada guru BK yang mengejar jika saya cabut kelas ke kantin. Guru akan mengingatkan jika nilai ulangan saya kurang, atau tugas saya tidak lengkap. Tidak jarang mereka memaksa saya untuk mengambil remedial. Di rumah ada orangtua yang menghentikan saya ketika saya bermain The Sims lebih dari enam jam. Saya hanya perlu mengikuti perkataan mereka, dan semua akan baik-baik saja.

Di perkuliahan, dosen tidak akan peduli apakah kamu masuk kelas atau tidak, bahkan jika kamu tidak pernah masuk sekalipun.

Tugasmu tidak lengkap? Tidak ada peringatan, nilai kamu langsung berkurang. Nilai ujianmu jelek? Sampai bertemu lagi di kelas yang sama semester depan. Kamu harus mengingatkan, mengendalikan, dan mendorong diri sendiri untuk mencapai target akademis.

Tidak akan ada yang menolongmu agar kamu tidak gagal. Tidak ada remedial dadakan, tidak ada ‘dongkrak’ nilai, tidak ada ruang konseling. Saat kamu gagal, kamu gagal—akhir cerita.

Passion Saja Tidak Cukup

Saya memilih jurusan seni rupa karena seni adalah passion saya. Termakan pepatah “Ambilah pekerjaan yang kamu suka dan kamu tidak akan perlu bekerja seumur hidupmu”, saya berpikir bahwa jika memilih jurusan ini, maka semuanya akan baik-baik saja.

Tapi ternyata tidak.

Passion tidak cukup ketika saya harus terus mengerjakan tugas nirmana sedotan yang selalu hancur saat tahap terakhir, 2 minggu setelah batas tenggat pengumpulan. Passion tidak cukup ketika saya harus menggambar di 7200 lembar kertas dalam 10 hari untuk ujian semester animasi tradisional. Passion juga tidak cukup ketika saya harus mengulang mata kuliah tugas akhir dua kali. Passion harus diiringi oleh kerja keras, tekad, dan kecerdikan.

Nasib Ditentukan Oleh Dirimu Sendiri, Bukan Kampusmu

Waktu saya menginjakkan kaki di kampus untuk pertama kalinya, saya merasa masa depan saya sudah pasti. Saya akan dikelilingi rekan-rekan yang pintar, dosen-dosen terbaik di bidangnya, dan fasilitas kampus yang lengkap. Saya pikir hidup akan mudah dan lancar.

Lagi-lagi, kenyataannya tidak demikian.

Kamu akan belajar kalau rekan-rekan yang pintar tidak ada gunanya jika kamu tidak berusaha untuk bekerja sama dengan mereka, dosen-dosen terbaik tidak akan memberikan banyak ilmu jika kamu tidak rajin bertanya dan berdiskusi dengan mereka, fasilitas kampus yang lengkap tidak ada artinya jika kamu tidak pernah masuk kelas atau bekerja di studio kampus.

Semoga cerita pendek ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda kepada kawan-kawan yang akan memasuki jenjang perkuliahan, baik yang berhasil maupun gagal dalam SNMPTN.

Perguruan Tinggi Negeri bukan berarti kesuksesan, dan tidak pernah berjanji demikian. Pengumuman hasil seleksi bukan akhir, melainkan awal perjalanan.

Sebaliknya, kegagalan dalam seleksi masuk PTN bukan berarti kamu akan gagal seumur hidupmu.

Pada akhirnya, kesempatan sebanyak dan sebagus apapun tidak akan berguna jika kamu tidak bisa memanfaatkannya dengan baik.


Tulisan ini pertama kali dimuat di linimasa LINE BagiKata di sini dan ditulis oleh salah satu kontributor kami Harits Rasyid Paramasatya.

Disunting oleh tim BagiKata.


YANG TERBARU

BagiKata Telaah #2 : How To Craft Successful Branding

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah acara


BagiKata Telaah #1 : Basic Songwriting & Music Branding for Bedroom Musician

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu