BagiKata.comSaya baru saja menyelesaikan masa studi saya di bangku kuliah pada bulan Februari di tahun 2017 lalu. Lulus dari dunia kuliah membuat saya merasa wajib untuk langsung bekerja dan belajar untuk tidak bergantung pada orang tua secara finansial. Tapi ternyata, modal lulus dalam waktu 3.5 tahun dari universitas ternama, meraih predikat cum laude, memiliki beberapa pengalaman organisasi dan magang ternyata tidak serta-merta membuat saya merasa percaya diri untuk menghadapi cita-cita itu. Bahkan saya merasa minder dan mulai mempertanyakan banyak hal di hidup ini.

Perasaan tersebut semakin buruk ketika satu persatu teman di inner circle saya mulai terlihat berkembang dan mendapat pekerjaan di perusahaan bonafit. Sedangkan saya justru masih mempertanyakan apa saja yang mau saya raih, dan sangsi atas rencana yang sudah saya susun sebelumnya. Kesepian dan insecure adalah dua kata yang tepat menggambarkan saya beberapa bulan lalu.

Setelah membaca berbagai macam artikel tentang self-help, saya menemukan bahwa perasaan saya tersebut bernama quarter-life crisis. Menurut Varci Vartanian di artikel berjudul Powering Through Your Quarter Life Crisis, quarter-life crisis adalah periode pencarian jati diri antara umur 20-an hingga 30-an. The Guardian juga menyebutkan bahwa 86% generasi millennials rentan terpengaruh oleh insecurities, kekecewaan, kesepian, dan depresi.

Dari situ, saya mulai merasa lega, ternyata fase hidup tersebut normal. Seorang John Mayer pun pernah merasakannya. Fans pemusik ganteng yang pernah memenangkan Grammy Award ini pasti tahu bahwa lagu ‘Why Georgia’ berisi curhatannya saat melalui masa pencarian jati diri.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Oliver Robinson dari University of Greenwich di London menunjukkan bahwa fase hidup tersebut bisa menjadi pengalaman yang positif. Quarter-life crisis terdiri dari empat tahap, yaitu:

    1. Merasa terkurung di dalam suatu pekerjaan atau hubungan dengan orang lain. Kamu merasa bahwa kamu tidak bisa keluar dari situasi tersebut.
    2. Mulai menyadari bahwa perubahan dapat terjadi. Kamu mulai mencari beberapa alternatif untuk keluar dari situasi tersebut. Mayoritas orang mulai sadar akan fase ini ketika ia berada pada masa-masa sulit. Masa sulit terebut menjadi katalis untuk perubahan yang positif.
    3. Membangun kehidupan yang baru. Di fase ini kamu mulai menemukan apa yang kamu inginkan dan menyusun kembali rencana hidup. Kamu akan sadar dan tahu apa tujuan hidup yang kamu cari selama ini.
    4. Mengaplikasikan komitmen baru yang mencerminkan minat, aspirasi, dan nilai diri.  Karena sudah sadar dan tahu tujuan hidupmu, kamu mulai mengaplikasikan komitmen baru tersebut ke hidupmu. Kamu juga mulai mengerti dirimu sendiri lebih baik dari sebelumnya.

Tentu tahap awal adalah tahap yang paling susah. Saya mengerti perasaan kalut yang hadir di fase itu membuat orang-orang yang sedang melewatinya merasa terisolasi dari dunia luar dan kesepian. Padahal, semakin menutup diri maka semakin banyak perasaan dan pemikiran negatif yang muncul. Perasaan negatif itu juga dapat memburuk ketika membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Tips yang paling manjur bagi saya ketika melewati masa itu adalah berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Saya belajar bahwa semua orang memiliki waktu terbaiknya sendiri. Ada kutipan menarik yang pernah saya baca meski saya lupa sumbernya dari mana. Inti dari kutipan tulisan itu adalah Presiden Obama selesai menjabat menjadi presiden pada umur 55 tahun, sedangkan Presiden Trump mulai menjabat pada umur 70 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap orang bekerja pada zona waktunya mereka sendiri.

Setiap orang berkompetisi dengan dirinya sendiri pada zona waktu masing-masing. Cara terbaik untuk meredakan depresi dan overthinking adalah dengan melatih pikiran untuk selalu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik tanpa membandingkan dengan orang lain. Satu-satunya orang yang perlu saya bandingkan adalah diri saya yang kemarin dan hari ini.

Tenang. Ambil nafas panjang. Percayalah bahwa ke mana pun arah yang dituju akan selalu membawa pribadi kita masing-masing menjadi lebih baik.


Difa Raksa Annisa memiliki hobi membaca buku sejak kecil. Buku-buku karya Enid Blyton telah menjadi temannya sebelum tidur. Berpetualang dan memasak menjadi kegemarannya selain membaca dan menulis. Saat ini, Difa tengah sibuk bekerja di sebuah perusahaan start-up serta menjalani bisnis yang akan mulai ia rilis.

Disunting oleh tim BagiKata.

Semua foto diambil dari situs www.unsplash.com


  • Dita Agustin

    Tentu tahap awal adalah tahap yang paling susah. Saya mengerti perasaan kalut yang hadir di fase ity
    Typo, Kak? Hehe.

    • Admin BagiKata

      Wah iya, terima kasih sudah memberitahu ya! 🙂

YANG TERBARU

Ternyata Ini Rahasia Yang Dilakukan Jokowi Ketika Kedatangan Tamu Negara!

BagiKata.com – Kebanyakan orang mungkin asing dengan konsep diplomasi, padahal sehari-hari kita itu berdiplomasi lho… Mulai dari tawar-menawar harga barang di


Survey Mengenai Kekerasan Dalam Pacaran

BagiKata.com – Halo Kawan BagiKata! Salah satu anggota dari tim penulis kami, Abhyani Prastika, sedang mengadakan sebuah survey seputar topik Kekerasan Dalam


Bosan di Kampus? Coba Lakukan Hal-Hal Ini, Semoga Nagih!

BagiKata.com – Menurut salah satu artikel Odyssey Online, kebanyakan mahasiswa menghabiskan waktunya melakukan hal-hal yang kurang produktif. Mulai dari makan,