BagiKata.com – Ketika masih SMP, saya berteman dengan seseorang yang merupakan badut kelas saya. Kerjaannya setiap hari meledek dan mengerjai orang, terkadang terlewat sadis, tapi sekelas tetap tertawa dan memberikan dukungan penuh. Lulus SMP, dia masih suka menyapa saya melalui layanan pesan singkat dan beberapa kali menanyakan kabar adik saya dengan maksud ingin mendekati. “Mati aja lo,” balas saya setiap topik tentang adik saya mencuat ke permukaan.

Setelah sekian lama, kami tidak sengaja bertemu lagi. Pertemuan yang berlanjut menjadi obrolan ringan tentang kehidupan yang dibarengi ejekan dan tawa. Di tengah perbincangan, saya menangkap kedua bola matanya sedang memandang jauh, melamun dan seakan memikirkan sesuatu yang serius. ‘Lo lagi ngelamunin apaan, sih? Bokep, ya?’ Dia hanya tertawa, lalu balas mengejek saya. Khas.

Pertemuan yang awalnya tidak meninggalkan bekas apapun dalam diri saya. Saya menganggapnya sebagai hal wajar, tidak sengaja bertemu kawan lama, apalagi di Jakarta yang sangat sempit ini. Saya tidak menyangka bahwa kali itu adalah kali terakhir saya bertemu dengan si class clown. Karena tidak lama setelahnya, saya mendapat kabar bahwa teman saya meninggal dunia dengan cara menggantung diri karena mengalami depresi.

Pertemuan itu ternyata adalah salah satu kesempatan saya untuk memberikan bantuan dan saya tidak menggunakannya dengan baik. Masih terasa miris kalau teringat bahwa yang dia lamunkan pada saat itu, mungkin, adalah masalah yang dia hadapi. Saya menyesal suka tidak merespon chat teman saya yang berisikan keinginan untuk bercerita. Dia hanya ingin pertolongan dan siapapun bisa menolong, termasuk saya, tapi tidak ada yang menyadari dan bersedia.

Walaupun terlambat, saya mencoba membantu dengan mencari tahu mengenai penyebab teman saya mengakhiri hidupnya. Depresi merupakan faktor terbesar dan nyatanya sangat identik dengan bunuh diri. Dulu, saya pikir saya yang mudah sedih dan menangis ini pasti mengidap depresi. Bukti konkret adalah saya langganan menangis terisak-isak hanya karena menonton commercial ad perusahaan asuransi Thailand di Youtube.

Tapi berdasarkan apa yang dialami oleh teman saya, saya sadar bahwa depresi itu lebih dari sekadar tangisan haru dari menonton sebuah video yang cukup menyentuh –  it is about crying due to an unknown sadness. Rasa sedih yang terasa amat dalam namun tidak jelas penyebabnya, yang kemudian menimbulkan hasrat konstan untuk tidak merasakan apapun atau dengan kata lain, mati rasa.

Sedihnya, banyak penderita depresi yang tidak menyadari bahwa dirinya tengah mengalami depresi. Yang mereka sadari hanyalah menghilangnya rasa cinta terhadap diri sendiri dan kehidupan secara berangsur dan menimbulkan kesedihan yang bersifat terus menerus. Perasaan ini kemudian diikuti oleh keinginan untuk mati rasa saja daripada harus selalu merasakan kesedihan yang membebani diri mereka. Namun ironisnya, tidak sedikit juga penderita depresi dengan hati lumpuh yang sudah tidak mampu merasakan apa-apa lagi sehingga jalan keluar satu-satunya untuk kembali merasakan sesuatu adalah dengan menyakiti diri sendiri sampai meninggal.

Dimulai dari menghapus kebiasaan yang suka menyelipkan kata-kata ‘mati aja lo’ atau sejenisnya di obrolan sehari-hari. Bagi saya, kata-kata seperti itu sudah tidak pantas untuk dilontarkan, meskipun disertai unsur bercanda. Prinsipnya begini, kita tidak pernah tahu apa yang sedang dialami orang lain, maka dari itu merupakan kewajiban bagi kita untuk selalu berperilaku baik kepada setiap manusia yang kita temui. Bayangkan menggunakan kata-kata ‘mati aja lo’ terhadap lawan bicara yang ternyata diam-diam sedang mengidap depresi.  Lidah yang tak bertulang ini, terkadang bisa lebih tajam dari sebuah pedang. Jadi, memang tidak ada salahnya untuk berpikir lebih lagi sebelum berbicara – dan berkomentar.

Jujur, saya paling sebal ketika mendapati netizen yang melakukan online bullying dan meninggalkan kalimat berisikan perintah untuk bunuh diri di kolom komentar Instagram orang. Merasa kesal terhadap seseorang itu manusiawi, yang tidak manusiawi dan tidak perlu adalah melangkahi Tuhan dengan cara menentukan kapan orang itu harus meninggal. 

Kemudian, belajar untuk selalu mendengarkan. Kesediaan untuk sekadar mendengarkan sepenuh hati dan memandang segala jenis permasalahan yang diceritakan terhadap kita sebagai sesuatu yang penting, sama pentingnya seperti masalah sendiri. Dari hal sekecil mendengarkan dapat membantu menyelamatkan nyawa orang yang kita sayangi atau bahkan baru kenal. Kehadiran kita dapat membantu mengusir perasaan negatif yang hinggap bagai parasit pada diri penderita depresi.

Lepas dari pernyataan bahwa depresi identik dengan bunuh diri, usaha untuk membantu tidak pernah ada salahnya. Menurut saya, penderita depresi hanya membutuhkan penanganan dini yang tepat dan alhasil tidak akan selalu berakhir dengan bunuh diri. Tidak masalah bila saya atau kamu bukan psikolog atau lulusan psikologi, selama ada kemauan untuk membantu niscaya selalu ada jalan yang tersedia. Menjaga ucapan dan bersedia mendengarkan: langkah-langkah utama yang cukup mudah dilakukan untuk membantu penderita depresi.

Karena hidup terkadang bisa menjadi sebuah paradoks; mereka yang terkesan riang dan penuh canda ternyata adalah mereka yang setiap malam menangis dalam tidur mereka. Jangan melewatkan kesempatan sekecil apapun untuk menolong, bahkan sekecil membaca kesedihan yang terlipat dengan rapi di dalam lengkungan senyum seseorang. Sudah saatnya manusia yang memang tercipta sebagai mahluk sosial mulai memenuhi hakikat kita – untuk tidak berhenti berinteraksi, termasuk saling memahami dan menolong.


Artikel ini ditulis oleh Savira Ralie.

Disunting oleh tim BagiKata.


YANG TERBARU

BagiKata Telaah #2 : How To Craft Successful Branding

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah acara


BagiKata Telaah #1 : Basic Songwriting & Music Branding for Bedroom Musician

www.bagikata.com – Sudah hampir beberapa bulan ke belakang, BagiKata tidak menyelenggarakan acara. Nah, bulan ini BagiKata akan kembali lagi dengan sebuah


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu