BagiKata.com  Kebanyakan orang mungkin asing dengan konsep diplomasi, padahal sehari-hari kita itu berdiplomasi lho… Mulai dari tawar-menawar harga barang di pasar hingga membujuk orang tua untuk ini itu, karena pada dasarnya diplomasi  adalah proses negosiasi. Banyak sekali jenis diplomasi dari yang sangat santai sampai yang paling kaku. Salah satu contoh soft power diplomacy atau diplomasi non-formal yang dapat dilakukan sebuah negara adalah melalui makanannya. Memang bisa berdiplomasi pakai makanan? Tentu saja bisa. Seperti kata Fanny Fern, “A way to a man’s heart is through his stomach”, negara pun dapat menemukan tempatnya di hati banyak orang melalui makanan. Diplomasi melalui makanan sudah lama digunakan oleh Korea Selatan dengan program bernama ‘Kimchi Diplomacy’. Diplomasi makanan itu sendiri dinamai Culinary Diplomacy atau bisa juga disebut dengan Gastro Diplomacy.

        Presiden Indonesia saat ini yaitu Joko Widodo, merupakan presiden Indonesia yang cukup aktif melakukan diplomasi melalui jamuan makan dengan tamu-tamu internasionalnya. Sebetulnya sebuah jamuan makan santai dapat menghasilkan lebih banyak kesepakatan-kesepakatan negara yang kemudian hanya perlu ditindak lanjuti secara formal. Saat ini, Rendang asal Padang pun telah menduduki peringkat 11 dalam ‘World’s 50 Best Foods’ menurut CNN Travel. Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadikan makanan sebagai destinasi wisata karena kekayaannya akan rempah-rempah.

          Menurut Thanon Aria Dewangga, Staf Ahli Bidang Hukum dan Hubungan Internasional dalam Sekretariat Kabinet, ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh Indonesia untuk meningkatkan branding melalui Gastro Diplomacy. Yang pertama yaitu melalui acara diplomatik dimana kepala negara berkumpul dalam sebuah perjamuan. Saat ini Indonesia sudah lebih banyak menyajikan makanan-makanan lokal dibandingkan makanan western. Cara kedua yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan festival kuliner yang cukup besar sehingga dapat dijadikan objek pariwisata dengan menjurus kepada trend wisata kuliner. Yang ketiga dan terakhir disarankan adalah memberikan penyuluhan serta pelatihan bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar “wajah” street food Indonesia menjadi lebih baik dan dapat lebih dikenal masyarakat internasional.

         Selain Gastro Diplomacy, masih banyak lagi jenis-jenis diplomasi lainnya yang juga santai dan bersifat non-formal seperti diplomasi film, musik, budaya dan masih banyak lagi. Jadi, menurutmu apakah kuliner Indonesia siap untuk menjajaki dunia internasional?


Zena Aqilla adalah mahasiswi Hubungan Internasional yang memiliki ketertarikan dalam dunia musik, khususnya bernyanyi dan bermain ukulele. Saat ini Zena menyalurkan ketertarikannya melewati akun YouTube yang sudah ditekuni selama kurang lebih 2 tahun. Selain bermusik, Zena juga suka menonton film dan memasak.

Disunting oleh tim BagiKata.


YANG TERBARU

Keseleo

BagiKata.com – Terkilir atau keseleo pasti nyaris pernah dirasakan oleh semua orang. Terkilir atau yang biasa disebut dengan sprain disebabkan oleh trauma yang


Monday Blues?!

BagiKata.com – Hari Senin adalah hari yang umumnya paling diantisipasi oleh mereka yang memulai kegiatan di hari tersebut. Hampir setiap orang


Podcast Itu Apa?

BagiKata.com – Tanyalah orang disebelahmu, berapa banyak buku yang sudah ia selesaikan  dalam sebulan ke belakang ini. Kalau ia sudah menyelesaikan