BagiKata.com – Tahun 2011 saat Game of Thrones (GoT) keluar saya masih di bangku SMA. Saya ingat menonton episode pertama langsung di HBO pada saat itu dan kesan pertama yang saya rasakan ialah acara ini kurang menarik. Mungkin karena pada beberapa episode awal masih sedikit konteks yang diberikan terhadap dinamika keluarga-keluarga yang terlibat dalam cerita serial ini. Mungkin saya juga terdistraksi dengan tingkat ketelanjangan yang ditampilkan di serial ini. Setelah tiga episode pertama, saya menyerah dan tidak ada ketertarikan untuk mengikutinya. Sayangnya, beberapa bulan kemudian, serial ini menjadi hits di kalangan pertemanan saya.

Kisah cinta

Kisah cinta ini akan segera usai, akankah mereka menemukan kebahagiaan yang selama ini dicari? – Gambar dari sini

Delapan tahun kemudian, GoT akan mengeluarkan enam episode terakhirnya dalam musim kedelapannya dan merupakan salah satu serial televisi paling ditunggu dengan jumlah pengikut yang sangat tinggi tahun ini. Disaat orang-orang sibuk mengatur nobar untuk episode perdana di musim final ini, saya dan segelintir teman saya tidak dapat berpartisipasi. Tidak sedikit teman-teman saya yang berusaha meyakinkan saya untuk kembali mengikuti GoT, tetapi saya terus menolak dan tidak pernah bergabung dalam hype ini. Mungkin kalian di luar sana yang sangat fanatik terhadap serial ini bertanya-tanya, apakah saya bisa memiliki kehidupan sosial tanpa mengikuti GoT?

Jawabannya, ya, tapi memang sulit. Seperti fenomena kultural lainnya, memang tidak mudah untuk menyesuaikan diri ketika kita tidak paham apa yang banyak dibicarakan. Terkadang sampai di titik ekstrim dimana kita merasa terasingkan saat pembicaraan seputar hal tersebut muncul di meja makan kita. Tentu saya masih berusaha untuk mengikuti tren ini walau saya tidak terlalu paham, seperti mengambil tes Spotify untuk “Playlist berdasarkan karakter GoT manakah kamu?” Saya benar-benar buta mengenai perkembangan cerita yang cukup rumit dalam serial ini. Jadi mungkin saya hanya bisa memberikan analisa seperti playlist Daenerys yang dipenuhi dengan lagu-lagu disko upbeat bertemakan naga dan api artinya beliau adalah perempuan tangguh yang memiliki seekor naga? Atau playlist Khal Drogo yang dipenuhi lagu metal artinya karakter ini sangat hardcore? FYI, playlist yang saya dapatkan adalah Jon Snow dengan lagunya banyak dari genre rock di dalamnya (jadi, saya orangnya seperti apa ya berdasarkan hasil ini?). Jadi pada akhirnya, hal-hal seperti ini tidak ada signifikansinya dalam menambah wawasan saya mengenai GoT. Bahkan membaca sinopsis setiap episode di Wikipedia juga tidak banyak membantu.

Apakah Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya?

Apakah Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya? – gambar dari sini

Walaupun saya tidak mengikutinya, saya setuju bahwa GoT adalah sebuah karya kultural yang signifikan. Paralelnya dengan sifat manusia paling mendasar seperti mudah tergoda dan keserakahan beserta simbolisme agamanya yang memiliki banyak kesamaan dengan kondisi manusia sejak beribu tahun yang lalu, membuat penonton pada umumnya berempati tinggi dengan serial ini. Tapi pada akhirnya, seperti segala hal yang pernah di atas, fase GoT pasti akan redup dan suatu hari akan ada generasi yang tidak mengetahui serial televisi fenomenal ini. Dan saya akan merangkul orang-orang tersebut.


Sismita merupakan Chief Operations Officer (COO) dari BagiKata. Lulusan dari Universitas Indonesia saat ini sedang menimba ilmu untuk gelar Master di salah satu universitas di Negeri Kangguru.


YANG TERBARU

Kamu Sudah Sampai Di Mana, Kesetaraan Gender?

www.bagikata.com – Kalau bicara tentang feminisme, sebenarnya peraturan dan hukum yang berlaku di negara demokrasi ini sudah menyetarakan hak laki-laki dan


Warga Lokal : Kartini, Melawan Arus Gender dan Agama

BagiKata.com  – Raden Ajeng Kartini atau dikenal sebagai R.A Kartini adalah salah satu feminis pertama di Indonesia dan pada tanggal 21


Telaah #5 : The Branding Tinder – Audience Matchmaking 101

BagiKata.com – Telaah akhirnya kembali lagi! Setelah absen beberapa bulan, karena desakan para user yang meminta Telaah diadakan kembali, akhirnya beneran