BagiKata.com – Kamu yang mengikuti akun saya di Ask.fm mungkin tahu cerita tentang bagaimana beberapa pekan lalu saya menjadi korban kejahatan dua kali berturut-turut. Yang pertama merupakan perampokan bersenjata, dan nyawa saya taruhannya. Yang kedua pembobolan mobil. Tetiba saja Jakarta memutuskan untuk menjadi sebuah serial situasi komedi yang tidak lucu dan juga menjadikan dua teman saya korban kejahatan dalam waktu berdekatan. Satu cukup tangkas dan berhasil selamat, satu lagi—dan kebetulan merupakan anggota BagiKata juga—kehilangan tas beserta seluruh isinya, mulai dari dompet (lengkap dengan kartu bank dan KTP), handphone, hingga laptop.

Tentu, saya sering mendengar tentang jahatnya Jakarta, dimulai sejak kecil lewat program televisi seperti Buser, hingga mendengar cerita dari teman tentang ‘temennya temen gue’ yang cukup sial untuk menjadi korban kejahatan selevel drama investigasi luar negeri. Safe Cities Index 2015 milik Economist Intelligence Unit menunjukkan bahwa Jakarta berada di posisi terbawah dalam tingkat keamanan kota. Toh selama ini hal-hal tersebut tetap terasa jauh, dan faktor utamanya adalah karena saya—atau orang-orang terdekat saya—tidak pernah menjadi korban langsung. Segala kejadian di atas akhirnya berhasil menarik ilusi yang saya miliki secara kasar. Kami baru saja ‘dibaptis’ oleh Jakarta.

Proses pemulihan kami para korban tidaklah cepat. Mungkin kamu akan berpikir “yailah, gitu doang” karena cerita kami yang terkesan sepele. Namun percayalah, melewati masa paranoid pasca-kejahatan bukan hal yang mudah. Terlepas dari berhasil atau tidaknya pelaku dalam melukai korban, tindak kejahatan dengan kontak langsung seperti yang saya dan teman saya alami menandakan bahwa pelaku sudah berada cukup dekat untuk melukai kami secara fisik. Ini traumatis. Studi menunjukkan bahwa korban kejahatan hampir pasti mengalami PTSD (post-traumatic stress disorder).

Sudah berat harus merasakan PTSD, proses penyembuhan kami dan korban-korban lain juga dipersulit oleh budaya victim blaming. Korban kejahatan seringkali disalahkan atas kejadian yang menimpa mereka. Ini juga terjadi dalam kasus lain di luar kejahatan seksual atau kekerasan dalam rumah tangga. Menurut Barbara Gilin (profesor di Widener University, Pennsylvania), kita menyalahkan korban agar dapat melanjutkan kegiatan sehari-hari sembari tetap merasa aman. Kurang lebih, bunyinya begini: “Ah, dia kerampokan karena ceroboh. Gue sih nggak kaya gitu, gapapa.” Temuan Laura Niemi dan Liane Young yang dimuat dalam Personality and Psychology Bulletin juga menambahkan bagaimana victim blaming jauh lebih sering terjadi dalam masyarakat yang memiliki banyak keseragaman dalam nilai sosial dan keagamaan (binding orientation), terlebih jika korban memiliki nilai moral yang berbeda. Kurang lebih, bunyinya begini: “Dia kena musibah karena jarang sholat, tuh”.

Kami yang korban ini tahu kok, bahwa ada banyak hal yang bisa saja kami lakukan agar kejahatan tak terjadi. Kami hanya ingin memberi catatan kecil saja, bahwa menyalah-nyalahkan kami tidak membantu keadaan jadi lebih baik. Mungkin bisa dipertimbangkan saat lain waktu orang terdekatmu kena musibah.

Kami sadar bahwa masih sangat lama menunggu tindakan menyalahkan korban dalam kasus non-seksual menjadi sesuatu yang diangggap politically incorrect (bahkan di Indonesia, korban pelecehan seksual masih disalahkan). Jadi, kami hanya ingin mengingatkan saja: orang jahat itu ada, sampai kapanpun ada. Dan kejahatan terjadi. Mungkin kamu yang selanjutnya.

Kunci pintu, tutup kaca.

Ah, atau tidak usah. Mungkin hanya saya saja yang kurang sedekah :^)


Baskara Putra, Februari 2017.


YANG TERBARU

Warga Lokal – Bunuh Diri: Tak Pandang Bulu

BagiKata.com – Beberapa tahun lalu, saya mendapat pesan singkat dari teman dekat saya. Bahwa dirinya ingin bercerita. Tumben, pikir saya. Kondisi kami


Serba-Serbi Menstruasi

BagiKata.com – Siklus menstruasi merupakan siklus yang dinamis. Setiap perempuan bisa mengalami siklus yang berbeda dengan perempuan lainnya. Variasi ini biasanya normal.


Warga Lokal – Hidup Lebih Positif dengan Rutin Bersyukur

BagiKata.com – Hidup positif (baca: bahagia) itu tidaklah sulit. Terkadang hal-hal kecil yang tidak kita sadari membuat kita bahagia loh. Sayangnya,