BagiKata.com – Feminist Fest Indonesia, acara yang akan diselenggarakan oleh Jakarta Feminist pada 23-24 November 2019, sempat viral di media sosial Twitter. Pada 18 November 2019 lalu, aktivis Aria Danaparamita melalui akun Twitter-nya (@mitatweets), mengkritik acara tersebut. Ada beberapa hal yang ia soroti dari acara tersebut. Mulai dari harga tiket yang cenderung mahal (Rp80.000-Rp500.000), isu inklusivitas, dan kurangnya kepekaan terhadap kaum perempuan yang termarjinalisasi seperti di pelosok Indonesia. Mita menyayangkan acara ini sangat spesifik ditujukan kepada perempuan dari kalangan kelas menengah ke atas. 

Setelah beberapa kali berbalas cuitan dengan salah satu member grup Jakarta Feminist, Kate Walton melalui akunnya @waltonkate akhirnya mengakui bahwa penyelenggaraan Feminist Fest Indonesia tidak memikirkan aspek kelas dengan lebih dalam. Mereka pun akhirnya saling mengakui salah masing-masing dan memilih untuk move on dari isu ini tanpa konflik lebih lanjut. 

Dari sini saya merasa lega, karena akhirnya ada sebuah “twitwar” di Twitter yang tidak berakhir dengan men-cancel salah satu pihak. Namun sayangnya, keadaan ini hanyalah sebuah kejadian khusus, bukan sebuah norma yang lumrah ditemui. Itu sebabnya kejadian ini merupakan contoh penting bagi pergerakan feminisme: baik pengkritik maupun yang dikritik sama-sama APA NIH KESIMPULANNYA?

woman wearing helmet

Label agresif kerap disematkan kepada perempuan yang terlibat diskusi di media sosial. Salah satu contohnya adalah kejadian antara Karin Novilda, atau lebih dikenal sebagai Awkarin, dengan ilustrator Nadiyah Rizki yang juga terjadi di Twitter. Pembicaraan mereka  yang membahas penggunaan karya Nadiyah pada salah satu post Instagram Karin tanpa izin sempat viral. Di pembicaraan tersebut, Karin terlihat agresif dalam membela diri, namun setelah pembicaraan tersebut viral, ia pun mengakui kesalahannya. Reaksi agresif Karin memang kurang baik, namun apakah kita bisa menyalahkan Karin sepenuhnya? 

Pada kenyataannya, apa yang dilakukan Karin adalah reflek yang dimiliki oleh banyak perempuan. Seperti apa yang diungkapkan Clementine Ford pada bukunya Boys Will Be Boys, perempuan hampir tidak memiliki role model yang bersifat sportif. Dari usia dini, anak perempuan biasa disuapi dengan cerita seperti Snow White si Putri Salju, Cinderella si anak tiri, atau Bawang Merah yang dengki dengan Bawang Putih. 

Kesamaan dari semua cerita ini adalah semua sosok perempuan protagonis selalu diantagonis oleh perempuan lain. Si Putri Salju yang disingkirkan oleh sang Ratu (bahkan nama di kredit animasi Disney-nya pun Evil Queen). Cinderella, yang disiksa oleh Ibu Tiri dan dua kakak tirinya dan Bawang Merah yang iri menjahati Bawang Putih, adiknya sendiri. Kisah-kisah ini mungkin terkesan remeh dan tidak signifikan pada saat kita berusia muda, tapi jika ditelaah lebih jauh, itu bisa menjadi alasan kenapa para perempuan hampir selalu melihat satu sama lain sebagai ancaman.

Pertanyaannya, bagaimana agar kita lebih peka terhadap satu sama lain? Menjawabnya tentu tidak semudah itu. 

Contoh ini hanya salah satu faktor dari perilaku kita sebagai perempuan baik di dunia nyata maupun di media sosial. Banyak hal lainnya yang juga mendukung ketidakharmonisan perempuan yang kerap terjadi dalam berbagai isu. 

Itu sebabnya, apa yang dilakukan oleh @mitatweets dan @waltonkate adalah spirit feminisme yang sesungguhnya. Dimana ketika satu perempuan mengkritik perempuan lain, bukan selalu berarti ada niat buruk dibaliknya. Melainkan kritik tersebut merupakan sebuah refleksi agar kita sebagai perempuan juga bisa lebih baik dalam kehidupan secara umumnya. 

Merespon dengan hati-hati dan tidak berusaha menjatuhkan lawan bicara merupakan elemen penting yang perlu diimplementasikan pada gerakan feminisme, khususnya di Indonesia. Jika bisa dilakukan, harapan bagi perempuan dan gerakan feminisme di Indonesia untuk tidak hanya diterima secara lebih luas akan semakin kuat, baik dari kalangan bawah, menengah, maupun atas.


Sismita merupakan salah satu co-founder dari BagiKata. Lulusan sarjana double degree (dengan IPK tertinggi satu angkatan) dari Universitas Indonesia dan baru saja mendapatkan gelar Master of Global Media Communications dari University of Melbourne. Tulisan ini hadir setelah beliau melihat “Twitwar” di linimasa Twitter beberapa minggu lalu.

Edited by GilangKR


YANG TERBARU

Warga Lokal : Feminis Berkelas

BagiKata.com – Feminist Fest Indonesia, acara yang akan diselenggarakan oleh Jakarta Feminist pada 23-24 November 2019, sempat viral di media sosial


Perempuan dalam Industri Teknologi

BagiKata.com – Dalam era globalisasi, peran dan posisi perempuan dalam dunia kerja semakin meningkat signifikansinya, tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia


Sebuah Surat Untuk Kandidat

Teruntuk para kandidat yang telah berhasil membuat kami terkesan dan dipenuhi harapan namun terpaksa kalah oleh ia yang lebih cuan;