BagiKata.com – Masih ada yang ingat asal-muasal ricuh isu penistaan agama oleh Ahok dan aksi Bela Islam beberapa waktu lalu? Di tengah maraknya kesimpang siuran, sempat tersebar kabar akan terjadinya kerusuhan besar-besaran di Jakarta (dilengkapi bom!) dan bahwa beliau akan mengundurkan diri dari Pilkada DKI 2017 guna mencegah kekacauan ini. Tentu, pada akhirnya terungkap bahwa kabar ini merupakan kabar palsu (hoax) setelah Kepala Divisi Humas Polri memberikan pernyataan—namun hanya setelah kabar tersebut dibagikan ribuan kali di media sosial.

Kabar serupa seringkali membuat saya merasa miris, menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia masih berkutat di isu agama —di saat China telah berubah dari salah satu negara penyumbang emisi karbon terbesar menjadi negara dengan peraturan perlindungan lingkungan paling ketat di dunia dan Finlandia sedang mendorong maju konsep pendidikan (lagi) dengan pertimbangan untuk menghilangkan mata pelajaran di sekolah.

Pun hal tersebut hanyalah gejala, dan bukan permasalahan. Permasalahannya adalah bagaimana banyak di antara kita yang masih tidak bisa membedakan mana berita benar dan mana berita bohong—terima kasih kepada tingkat literasi Indonesia yang sangat rendah, urutan 64 dari 65 negara, baik di kalangan menengah ke bawah maupun atas.

Secara fundamental, mungkin karena memang sifat dasar kita semua—termasuk saya—untuk memilih informasi yang sesuai dengan nilai-nilai yang kita percayai. Julia Galef dalam TED Talk nya menyebut fenomena ini sebagai motivated mentality, atau soldier mindset. Jika saya percaya bahwa Kanye West merupakan orang paling hebat di dunia ini, saya hanya akan membaca pemberitaan tentang beliau yang bersifat baik—atau setidaknya, melihat pemberitaan buruk tentang Kanye West dengan sudut pandang yang lebih positif. Mungkin ini mengapa teori flat earth yang jelas-jelas sudah dipatahkan ratusan tahun lalu muncul lagi: karena orang-orang percaya dan mencari sumber yang menguatkan kepercayaan mereka tersebut (terima kasih, LINE Today!).

Tetapi jangan sedih, walau kita tetap lebih buruk dari yang lain, ternyata bukan hanya Indonesia yang mengalami polemik ini. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 80% pelajar di Amerika Serikat tidak dapat membedakan antara berita dan advertorial. Beberapa pengamat mengatakan bahwa berita hoax memberi andil besar pada kemenangan Donald Trump dalam pemilu AS, hingga mencapai titik di mana dua raksasa IT mengambil tindakan: Facebook menerapkan kebijakan baru untuk terus menyaring berita hoax, dan Google Ads tidak akan lagi masuk ke dalam situs-situs berita hoax.

Walau saya yakin kita tidak dapat meyakinkan monyet-monyet ini untuk tidak menciptakan berita bohong, setidaknya kita sebagai audiens bisa menjadi lebih bijak. Seharusnya sejarah cukup dapat menjadi contoh yang baik dalam menunjukkan bahaya hoax: silakan baca bagaimana berbagai pihak menyalahgunakan hiruk-pikuk drama radio War of the Worlds oleh Orson Welles (1938).

Niscaya terdapat banyak sekali hal yang bisa kita lakukan untuk menyaring informasi dengan baik. Ragu dengan gambar yang kamu dapat di grup WhatsApp keluarga? drag ke Google Images. Ia akan mengeluarkan gambar-gambar lain serupa. Kamu bisa lihat asalnya darimana.

Ragu dengan berita yang baru saja kamu baca? Cek darimana berita tersebut berasal. Ketik kata kunci di Google. Apakah dari blogspot dan wordpress orang-orang antah berantah? jika dari situs berita, berafiliasi dengan siapakah situs tersebut? apakah benar ia berafiliasi dengan perusahaan media yang ia klaim di situsnya?

Mohon, mohon, mohon, mohon… pikir dua, tiga, empat kali sebelum membagikan konten di internet dan media sosial. Kita tidak tahu berapa banyak orang yang akan merasa terganggu dan takut dengan konten yang baru saja kamu bagikan. Kegundahan banyak orang bukanlah sesuatu yang patut kita main-mainkan. Kadang bisa menjadi masalah hidup dan mati.

Media sosial itu layaknya kelas kuliah. Boleh berpendapat, selama kamu bertanggung jawab atas yang kamu katakan… NAMUN hanya setelah kamu membaca apa yang semua orang lain baca di kelasmu—dalam kasus ini, di lingkaran sosialmu. Lakukan cross-reference, jika belum mengerti sebuah kasus secara holistik, tanya orang yang sekiranya lebih paham, dan jangan asal ceplas-ceplos… mungkin hanya membuat kamu terlihat bodoh di hadapan banyak orang lain.

Demikianlah juga salah satu alasan mengapa saya menciptakan BagiKata. Terlalu banyak saya melihat orang-orang menanyakan pertanyaan sensitif ke figur di media sosial yang (seringkali) salah, terkadang karena masalah kredibilitas, terkadang karena figur tersebut kredibel namun di bidang yang jauh berbeda dari apa yang ditanyakan, dan terkadang hanya karena figur tersebut, menurut saya, (maaf), sok tahu, dan sering mengada-ngada sumber yang tidak ada.

Ini berbahaya.

Kami menciptakan kanal di mana kamu bisa menanyakan hal apapun yang membuatmu bingung, tidak terkecuali kejadian-kejadian terkini. Teman-teman di BagiKata selalu melakukan kroscek sumber sebelum memberikan kamu jawaban.

Jadilah pengguna internet yang bertanggung jawab. Silakan bicara, silakan menjadi subjektif, asal sumbernya jelas dan tidak menyerang pihak-pihak lain secara berlebihan dan irasional. Tidak ada salahnya berpendapat di media sosial—yang sekarang (mungkin) telah menggantikan fungsi taman-taman kota sebagai ruang publik.

Saya pun sedang melatih kebiasaan itu sekarang: mulai saat ini, setiap satu minggu sekali saya akan mengeluarkan tulisan di kolom internal pribadi (yang akan bersifat subjektif—kamu telah diperingkatkan!) situs Bagikata.

Bagi yang suka, silakan baca terus. Bagi yang tidak suka, silakan tutup halaman ini dan open new tab, lihat konten lain. Akhir kata, saya ingin mengutip salah satu username akun yang cukup populer di Twitter: hati-hati di internet.

Foto: Pexels


Baskara Putra merupakan pendiri BagiKata. Sehari-hari menulis lagu serta bekerja di Unit Seni dan Ekonomi Kreatif British Council. Mulai sekarang akan menulis di Kolom Pribadi BagiKata seminggu sekali.


YANG TERBARU

Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 22

www.bagikata.com – Dalam jangka waktu satu tahun, salah satu negara yang menjadi kiblat dunia dalam kebudayaan barat berhasil mengganti presiden kulit