BagiKata.com  – Raden Ajeng Kartini atau dikenal sebagai R.A Kartini adalah salah satu feminis pertama di Indonesia dan pada tanggal 21 April, Indonesia merayakan hari Kartini setiap tahunnya. Walaupun Kartini terkenal sebagai figur perempuan dalam gerakan penyetaraan gender – terutama dalam edukasi – perayaan hari Kartini yang saya ingat hingga saat ini sejak zaman TK adalah dengan menggunakan baju-baju tradisional berbau Jawa dan menyanyikan “Ibu Kita Kartini” karya W.R Supratman di panggung sekolah. Tentunya dilengkapi dengan doa bersama yang ditujukan kepada salah satu pahlawan ternama di Indonesia ini. Hal ini membuat saya bertanya, apakah anak-anak (atau bahkan teman-teman seumuran saya) sekarang mengetahui cakupan dari perjuangan Kartini? Dan apakah rakyat Indonesia ingat bahwa Kartini yang diagungkan secara nasional di negara mayoritas Islam ini tidak memiliki agama?

Kartini tumbuh besar di keluarga yang relatif berada. Walau hubungan beliau dengan lini darah biru sudah lama kandas, keluarganya masih berada di kelas menengah ke atas pada saat itu. Orang tuanya pun cukup liberal untuk memberikan Kartini dan adik-adiknya kesempatan bersekolah, walaupun bagi perempuan itu bukan merupakan hal yang wajar. Tetapi tentu dengan keadaan sosial pada saat itu – kolonialisme Belanda dan kuatnya pengaruh agama Islam di pulau Jawa – Kartini seperti perempuan lain harus menghadapi dilema perjodohan dengan laki-laki yang tidak ia cintai demi melengkapi tanggung jawab sosial dan agamanya. Hal ini membuat Kartini sangat skeptis dengan praktik agama Islam yang pada saat itu masih sangat kaku. Ia menganggap hal ini menghina intelektualitasnya dan sejak itu Kartini menjadi sangat peka terhadap gerakan wanita di daerahnya. Ia mulai memperhatikan kurangnya akses edukasi – terutama terhadap para wanita yang stratanya di bawah beliau – membuat perempuan pada saat itu terjebak dalam hubungan yang disahkan agama tanpa bekal primer edukasi. Ketergantungan para perempuan saat itu terhadap teks agama seperti Al-Quran juga membuat ia frustasi, dikarenakan Kartini percaya bahwa tidak ada terjemahan dalam bahasa manapun yang bisa dengan akurat menggambarkan arti dari bahasa Arab di kitab tersebut. Maka dari itu, beliau sangat menjunjung tinggi kepercayaan bahwa edukasi dalam bentuk mendasar seperti sains, matematika dan bahasa sangat penting.

Sejak pengalamannya dengan perjodohan, Kartini mulai secara intens menulis kepada beberapa kerabatnya yang merupakan orang-orang Belanda. Ia menceritakan kesulitannya dalam membuka pikiran orang tuanya dan orang-orang sekitar di Jawa terhadap pentingnya edukasi dan emansipasi wanita. Satu-satunya cara yang ia tahu untuk mengalahkan keresehannya ini adalah dengan belajar. Ia mulai belajar dan banyak membaca mengenai agama-agama lain seperti Kristen dan Buddha. Pada salah satu suratnya, ia menulis kepada Stella Zeehandelaar sebuah pertanyaan yang menangkap kegundahannya ini ‘Tetapi tanpa agama, kita masih bisa menjadi orang yang baik bukan?’ (diterjemahkan). Ini juga merupakan refleksi dari ajaran agama Islam yang pada saat itu juga merupakan alasan mengapa perempuan tidak boleh berpartisipasi di sekolah atau mendapatkan edukasi mendasar. Kartini menuliskan pada surat yang ditujukan kepada Stella juga bahwa ‘Apakah agama itu sebuah berkah bagi kami? Banyak aksi yang dilakukan atas nama agama yang tidak baik, sebuah kepercayaan yang kita pegang untuk menghindari kita dari dosa’ (diterjemahkan).

Pada akhirnya, Kartini menulis kepada teman-temannya bahwa ia tidak lagi mengadopsi agama Islam. Ia menggabungkan kepercayaannya terhadap agama Islam dan adat Jawa yang pada saat itu merupakan sebuah hal yang merefleksikan modernitas tingkat tinggi. Ia mempercayai bahwa satu hal yang sangat penting dalam kepercayaan yaitu cinta. Cintai tetangga, saudara dan diri sendiri. Digabungkan dengan kepercayaannya akan pengetahuan. Timba ilmu setinggi mungkin, siapapun berhak memilih jalan hidupnya; baik itu dalam agama maupun pernikahan. Semua harus datang dari pengetahuan yang memadai.

Bukankah ironis, Kartini yang tidak memiliki agama dirayakan oleh banyak orang di negara ini yang menggunakan agama sendiri sebagai tameng keseharian untuk mengecilkan mereka yang tidak sepandangan? Jika toleransi gender merupakan hal yang diperjuangkan Kartini dengan lensa yang netral, bisakah saat ini kita juga memperluas pengetahuan kita untuk hal-hal lainnya senetral mungkin juga? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan refleksi diri yang saya akan pikirkan dalam merayakan Hari Kartini nanti, mungkin Anda juga bisa ikut memikirkannya bersama saya.

Jika kalian ingin membaca karya-karya R.A Kartini dan analisanya, silakan cek buku “Kartini: The Complete Writings 1898 – 1904” di sini.


Sismita merupakan Chief Operations Officer (COO) dari BagiKata. Lulusan dari Universitas Indonesia saat ini sedang menimba ilmu untuk gelar Master di salah satu universitas di Negeri Kangguru. Beliau tertarik dengan isu-isu sosial yang berkaitan dengan feminisme di Indonesia.


YANG TERBARU

Perempuan dalam Industri Teknologi

BagiKata.com – Dalam era globalisasi, peran dan posisi perempuan dalam dunia kerja semakin meningkat signifikansinya, tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia


Sebuah Surat Untuk Kandidat

Teruntuk para kandidat yang telah berhasil membuat kami terkesan dan dipenuhi harapan namun terpaksa kalah oleh ia yang lebih cuan;


Layanan Antar Makanan di Indonesia

BagiKata.com – Pertumbuhan aplikasi teknologi yang menawarkan jasa transportasi seperti Go-Jek dan Grab terus meningkat hingga saat ini. Perusahaan jasa berbasis