BagiKata.com – Sekitar satu setengah tahun yang lalu, Ibu saya mengalami stroke keduanya yang meninggalkan dirinya tanpa kemampuan berjalan dengan normal. Segala macam pengobatan tradisional maupun modern sudah dilakukan, namun apa daya, tidak banyak menghasilkan perubahan. Maka dari itu, sudah satu setengah tahun ini beliau terpaksa kami bantu dengan kursi roda. Namun, ternyata hal ini tidak mempermudah gerak beliau seperti harapan awal kami anak-anaknya. Mayoritas tempat umum di Jakarta tidak memiliki akses disabilitas yang layak ataupun sama sekali.

Saya ingat pada saat debat Pilkada DKI Jakarta yang lalu kedua calon gubernur dan wakil gubernur saat itu pernah membahas mengenai peningkatan pelestarian akses disabilitas di tempat umum. Rencana tersebut memang sudah dijalankan dengan adaptasi yang sangat lambat dan tidak merata karena hambatan yang banyak, mulai dari struktur hingga pendanaan. Akses pejalan kaki adalah salah satu tempat umum yang dibenahi, tetapi tempat publik lainnya seperti bandara, mall dan rumah sakit (ironisnya) masih banyak yang tidak menerapkan strategi yang sama untuk akses penyandang disabilitas.

Beberapa saat yang lalu saya dan keluarga – termasuk Ibu – pergi makan di sebuah restoran Jepang ternama di salah satu mall Jakarta. Ketika kami masuk, tempatnya sangat bagus, Instagramable banget, dan kekinian. Lantainya bercampur antara marmer dan kerikil yang ditata dengan sedemikian rupa untuk pejalan kaki lalui. Namun tempat ini indah tanpa makna saat Ibu saya masuk dengan kursi rodanya. Kursi roda Ibu saya bahkan tidak bisa melalui jalanan menuju meja kami sehingga beliau harus diangkat oleh saya dan kakak-kakak. Kemudian akses menuju mejanya pun turun tangga, sehingga beliau sudah terlanjur lelah dibopong.

Hal ini membuat saya mempertanyakan literasi masyarakat Indonesia terhadap penyandang disabilitas. Sejak kondisi ini menimpa Ibu saya, saya semakin melek saat pergi-pergi, melihat banyaknya orang tua yang sudah berumur lansia kesulitan jalan di berbagai tempat umum maupun tempat rekreasi. Mereka yang kemampuan motoriknya sudah lemah, tidak menjadi konsentrasi tempat-tempat hits di Jakarta. Oh mungkin mereka berpikir Bapak-Ibu ini tidak ingin hits juga di media sosial – lantas buat apa mereka dibuatkan akses khusus?

Sudah saatnya untuk kita angkat isu ini dan bersama-sama membangun literasi tersebut. Ketika memasukan kritik dan saran untuk tempat-tempat seperti bandara, mall, maupun rumah sakit dan tempat umum lainnya, saya selalu memberi masukan untuk memberikan akses khusus bagi penyandang disabilitas. Ini adalah langkah utama yang saya lakukan untuk meningkatkan kesadaran orang-orang sekitar, terhadap pentingnya akses penyandang disabilitas bagi minoritas di Ibukota. Mungkin dengan usaha ini, kedepannya akan lebih banyak tempat yang bisa mengakomodir penyandang disabilitas seperti Ibu saya. Minimal, ini adalah sebuah langkah yang positif.


Sismita merupakan Chief Operations Officer (COO) dari BagiKata. Lulusan dari Universitas Indonesia ini sehari-hari juga bekerja di salah satu advertising agency multi-nasional di Jakarta Selatan. Sesekali Sismita juga akan mengisi kolom Warga Lokal, jika tidak dipenuhi kesibukan lainnya.

Disunting oleh tim BagiKata


YANG TERBARU

Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 22

www.bagikata.com – Dalam jangka waktu satu tahun, salah satu negara yang menjadi kiblat dunia dalam kebudayaan barat berhasil mengganti presiden kulit