BagiKata.com – Feminisme. Sebuah kata yang belakangan ini sering dilontarkan di media sosial internasional. Beberapa di kalangan remaja Indonesia menggunakan kata ini sebagai dukungan terhadap gerakan sosial, sementara yang lain menggunakannya sebagai tameng.

corinne-kutz-157291

Kaum wanita memang memiliki beberapa kelemahan seperti secara fisik dan emosional yang kunjung meluap-luap — terutama saat hampir waktunya datang bulan. Pria pun tidak luput dari beberapa kelemahan yang sering menghalangi mereka dari menjadi individual yang peka maupun bebas merasa. Feminisme adalah sebuah ideologi — yang mana kelemahan seperti ini tidak menjadi sebuah isu yang memecahkan kaum wanita dan pria namun merupakan sebuah titik pemersatu. Sebuah definisi komponen feminisme favorit saya terdapat di dalam esai karya Baumgardner dan Richards (2000) yang berbunyi; “Feminisme adalah sebuah gerakan, yang mana sebuah grup bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan tersebut mengarah kepada perubahan sosial dan politik — dengan implikasi bahwa seseorang di gerakan ini harus berinteraksi dengan pemerintah dan hukum, maupun praktik sosial dan kepercayaan. Dan juga secara implisit dalam tujuan ini, adalah akses informasi yang cukup untuk membuat wanita dapat membuat pilihan dengan pertanggungjawaban penuh.” Implikasi dari dipandang “lemah” bagi wanita adalah pilihan karir yang terbatas, diskriminasi sosial, maupun bayaran yang lebih rendah. Semua ini yang mana, dapat diatur oleh pemerintah — hanya saja mereka sadar akan isu-isu ini.

volkan-olmez-523

Feminisme di Indonesia merupakan sebuah area abu-abu. Isu sosial di Indonesia belum mencapai signifikansi atau urgensi yang dibutuhkan untuk menyadari implikasi dari ketidaksetaraan gender — coba sejenak kembali ke isu agama yang sedang panas dan katakanlah bahwa kesetaraan gender itu isu yang lebih penting. Dengan kekurangan yang cukup besar dalam urgensi dan juga pengetahuan mengenai feminsime di Indonesia, banyak wanita muda Indonesia — atau seringkali disebut sebagai Millennials — menyalahgunakan label “feminis” untuk menjatuhkan gender satunya atau secara berlebihan memamerkan seksualitas dan/atau bagian tubuhnya. Walaupun tidak ada yang salah dengan kepercayaan diri yang kuat di atas gender pria, penggunaan label yang salah ini adalah sebuah miskonsepsi makna kepercayaan feminis itu sebenarnya. Menjadi seorang feminis tidak semudah seperti memimik feed Instagram Beyonce, setengah telanjang, dan berharap bisa mewakili gerakan feminisme. Menjadi seorang feminis adalah menjadi seseorang yang mendukung satu sama lain, wanita kepada wanita, wanita kepada pria, pria kepada pria, dan menjadi perubahan yang diharapkan secara sosial maupun politik yang dapat menguntungkan keduabelah pihak.

phil-coffman-161251

Pada akhirnya, kata feminisme bukanlah sebuah terminologi yang kamu lemparkan begitu saja saat mendeskripsikan kemarahanmu terhadap seorang lelaki. Ini bukanlah sebuah kata yang kamu gunakan hanya untuk mendeskripsikan kebanggaanmu terhadap dirimu. Feminisme adalah sebuah kata yang merepresentasikan sebuah gerakan, tujuan, perubahan yang akan datang. Feminisme bukanlah sebuah hal yang hanya dari saya untuk kamu, tapi feminisme adalah kami untuk kami.

Sumber:

http://www.feminist.com/resources/artspeechwom/wha/gentisfem.htm

http://motto.time.com/4228321/gender-parity-leadership/?xid=time_socialflow_facebook

– Sismita


Sismita merupakan Chief Operations Officer (COO) dari BagiKata. Lulusan dari Universitas Indonesia ini sehari-hari juga bekerja di salah satu advertising agency multi-nasional di Jakarta Selatan. Sesekali Sismita juga akan mengisi kolom Warga Lokal, jika tidak dipenuhi kesibukan lainnya.

Disunting oleh tim BagiKata.


YANG TERBARU

Ulasan : Marvel’s Avengers: Infinity War

BagiKata.com – EPIC. Hentikan apapun yang kalian lakukan dan pergi ke bioskop terdekat di sekitar kalian. Ada 1 post-credit scene yang


Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.