BagiKata.com – Sebagai seorang konsultan pendidikan tinggi, saya banyak menemui satu kriteria karier yang banyak diinginkan oleh banyak calon-calon mahasiswa dalam pertimbangan memilih jurusan.

“Pengen kerjaan yang bisa banyak jalan-jalan, kak!”

(Tentu saja ini di belakang kriteria pekerjaan “kerja santai tapi banyak uang”)

      Dari pengalaman saya, kerja yang bisa jalan-jalan ini atau lumrah disebut sebagai business trip ini tidak sesederhana dan semenyenangkan yang dibayangkan oleh orang-orang. Yang biasa mereka bayangkan adalah pergi gratis ke berbagai macam tempat di dunia menggunakan fasilitas-fasilitas kelas bisnis yang mewah. Apakah betul business trip selalu seperti itu? Ini adalah pekerjaan pada umumnya, kecuali jika kamu jurnalis traveller atau selebritis yang sedang di-endorse, atau pekerjaan-pekerjaan yang cenderung bersifat jurnalistik, maka ini tidak berlaku.

  • Ini business trip bukan leisure trip

Ada alasan kenapa ada kata bisnis dalam istilah ini. Karena pada dasarnya kita ini bekerja, melakukan pekerjaan yang serupa kita lakukan sehari-hari tapi di kota lain. Biasanya kita tetap akan berkutat dengan laptop ataupun berkas-berkas dan tetap harus bekerja dalam jam kantor dan seringkali juga di luar jam kantor. Tidak jarang saat di hotel pun masih sibuk untuk mempersiapkan presentasi besoknya. Bahkan teman yang bekerja sebagai Party Organizer di klub-klub malam berbagai kota pun bercerita bahwa jam-jamnya dipenuhi dengan menunggu perlengkapan siap, menelpon klien dan partner serta memantau jalannya operasional.

  • Sabar adalah Kemampuan Barumu

Lebih banyak waktu saat business trip habis untuk menunggu. Apakah itu menunggu pesawat, menunggu mobil jemputan, menunggu tamu, menunggu presentasi dan masih banyak lagi. Kamu akan akrab dengan ruang tunggu bandara dan segala hal yang kamu pahami mengenai kenyamanan dan ketidaknyamanan perjalanan udara akan kamu rasakan. Turbulensi, makanan-makanan dingin, ruang kaki sempit akan menjadi sehari-hari untukmu. Pernah dalam suatu kesempatan, saya harus berkelana selama 2 minggu ke 4 kota yang berbeda tanpa pernah pulang. Setelah menjalani 8 penerbangan dalam 2 minggu yang saya inginkan hanyalah satu: pulang ke rumah dan beristirahat.

  • Waktu adalah Uang

Sudah jelas jika business trip itu memakan biaya operasional yang terkadang tidak sedikit. Jadi sudah sewajarnya jika urusan sudah selesai, maka kamu akan diminta untuk pulang secepatnya. Banyak orang yang pulang pergi ke kota lain hanya untuk rapat atau presentasi. Mereka akan naik penerbangan paling pagi, dan sudah kembali ke kota mereka sore hari lagi di hari yang sama. Perusahaan jelas tidak mau mengeluarkan biaya ekstra membayar hotel kamu satu malam hanya untuk kamu bisa makan kuliner terkenal di kota itu yang hanya buka saat malam hari. Jangan lupa juga kamu saat siang akan sibuk bekerja dan hanya punya waktu jalan-jalan di malam hari. (Itupun jika tidak ada rapat lagi ataupun tidak bikin presentasi untuk besok)

       Dari semua kelelahan fisik dan mental dan keterbatasan waktu pun, terkadang ada beberapa hal menyenangkan yang bisa kamu dapatkan. Kamu bisa dapat terbang gratis, menginap di hotel gratis, makan gratis dan melihat kotanya (secara sekilas) gratis. Apalagi jika perusahaan kamu membelikan yang kelasnya di atas rata-rata untuk fasilitas-fasilitas tersebut. Satu pesan aja dari saya untuk kamu yang ingin pekerjaan yang bisa jalan-jalan, akan lebih baik jika kamu menabung untuk bisa jalan-jalan daripada kamu numpang jalan-jalan pas kerja.


Tulisan ini dibuat oleh Agdiosa Manyan

Disunting oleh Tim BagiKata.


  • Suluh Pandu Dwiartantio

    nice share for the authors!, ini hampir sama yang saya rasakan saat dapat business trip untuk mengadakan rapat atau pelatihan, diawal rasanya senang, namun makin lama akan ada perasaan muncul untuk “lebih baik dirumah saja, dan saya benci dengan bandara”

YANG TERBARU

Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 22

www.bagikata.com – Dalam jangka waktu satu tahun, salah satu negara yang menjadi kiblat dunia dalam kebudayaan barat berhasil mengganti presiden kulit