BagiKata.com – Perkenalkan teman saya, Arnold (nama samaran karena beliau pemalu sedari kecil). Kuliahnya cemerlang, sebagai first jobber/fresh graduate pun saya dengar ia bersinar di tempat kerja barunya. Satu hal yang agak kurang dan diakui sendiri oleh beliau adalah: kebiasaan makannya yang kurang dapat dikontrol. Badan Arnold dapat dikatakan lumayan ‘besar’ di luar ukuran proporsional, jika dibandingkan dengan tingginya. Baru saja kurang dari seminggu lalu saya bertemu dengan Arnold.

“Udah Januari aja ya, cepet banget. Resolution lo apa?”

Whaa?

Di saat saya baru saja mau merespon, Arnold sudah mulai merocos bagaimana ia akan:

  1. Workout lagi minimal sejam dalam sehari mulai Januari
  2. Mengurangi konsumsi karbohidrat harian
  3. Mengurangi rokok hingga tiga bungkus per minggu

I call it bullshit. Bukannya tidak percaya bahwa Arnold tidak dapat mencapainya—dia salah satu teman saya yang paling cemerlang—namun karena hal-hal tersebut ia jadikan resolusi tahun baru. Kemungkinan besar ia tidak akan mulai workout bulan ini (Januari), dan di bulan Juni sudah mengajak saya ngemil di Hanamasa lagi.

Berapa orang yang kamu kenal menciptakan resolusi tiap baru, setiap tahun? Journal of Clinic Psychology menyatakan bahwa rata-rata 50% dari populasi dunia menciptakan resolusi setiap akhir tahun. Yang berhasil? tidak cukup banyak hingga bisa dihitung dengan angka yang substansial. Menurut Timothy Pychyl ( Carleton University of Canada), resolusi tahun baru merupakan bentuk dari kemasalan yang mengakar secara budaya. Kita menggunakan tahun baru lebih sebagai kambing hitam atas buruknya perkembangan diri kita selama 12 bulan kebelakang, alih-alih sebagai motivasi. Itulah mengapa hal-hal yang kita jadikan resolusi tahun baru kemungkinan besar tidak berjalan mulus: karena di lubuk hati terdalam, kamu tahu bahwa resolusi tersebut hanya merupakan buah pelarian dari diri kamu saat ini.

Resolusi atau tidak, ada satu hal poin yang ingin saya sampaikan: tahun ini, kamu akan gagal.

Dietmu akan berantakan atau hubunganmu tak berjalan mulus. Batal beasiswa atau gagal masuk universitas idaman. Bisnismu retak. Akan ada hal-hal yang ingin kamu miliki, mungkin kamu butuhkan—tanpa kamu punyai uangnya. Kamu akan bingung dengan pilihan hidup yang telah dan bisa kamu ambil, menerka-nerka arah nya. “What am i doing?”

Kamu akan terpukul, mungkin menangis kering di malam hari. Akan berat rasanya saat kamu sadar esok pagi kamu sudah harus beraktivitas lagi, berpura seakan tidak terjadi apa-apa bahkan di depan orang-orang terdekatmu.

Dan bukan, ini bukan tulisan yang mengatakan bahwa kamu harus bersabar, karena pasti ada hikmahnya. Bukan tulisan yang meyakinkan kamu bahwa pasti ada rencana besar di balik kegagalanmu.

Namun saya ingin mengingatkan, mumpung tahun belum berjalan jauh: ada hikmahnya atau tidak, ada artinya atau tidak, dan bisa dijadikan pelajaran atau tidak, kamu adalah satu-satunya yang bisa memaknai kegagalanmu. Hanya kamu yang bisa memaknai kegagalanmu sebagai pelajaran, menggunakannya sebagai fondasi untuk apapun yang akan datang. Kesuksesan tidak dicapai dengan bertubi-tubi mengambil langkah yang tepat, tetapi ia berdiri di atas ribuan kegagalanmu sebelumnya.

Salah satu penulis favorit saya, Scott Adams, pernah bilang: “If you want to succeed, figure out the price… then pay it.” Jika dibutuhkan 10 kali gagal untuk sekali sukses, maka bayarlah harga tersebut.

Tak peduli berapa kali kamu salah, kamu hanya perlu berhasil sekali. Walau terluka, berjalanlah. Di saat kamu berhenti, baru kamu benar-benar kalah.

Maju terus, jangan patah arang. Saya juga sedang belajar. Mari belajar dari kegagalan bersama-sama :^)
Selamat tahun baru 2017!

Foto: Pexels


Baskara Putra merupakan pendiri BagiKata. Sehari-hari menulis lagu serta bekerja di Unit Seni dan Ekonomi Kreatif British Council. Mulai sekarang akan menulis di Kolom Pribadi BagiKata seminggu sekali.


YANG TERBARU

Overlooked Movies 2017

www.bagikata.com – Bagi kalian yang gemar nonton film ke bioskop, pasti tahu bahwa banyak sekali judul film bagus dan telah ditunggu-tunggu


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 21

www.bagikata.com – Jejak misoginis dapat ditemukan di mana-mana, begitu pula dalam musik—baik di industrinya maupun dalam trope dan tradisi berbagai genre.


Hindia’s Year In Music 2017 : Rank 22

www.bagikata.com – Dalam jangka waktu satu tahun, salah satu negara yang menjadi kiblat dunia dalam kebudayaan barat berhasil mengganti presiden kulit