BagiKata.com – Beberapa waktu lalu, pendaftaran seleksi CPNS (akhirnya) kembali dibuka. Hingga pendaftaran ditutup tercatat jumlah pendaftar mencapai 1,29 juta orang.

Untuk sebuah peristiwa dengan skala sebesar ini, rasanya tidak lengkap jika kita tidak menengok apa kata warganet terkait fenomena CPNS tahun ini.

Di linimasa, mudah ditemui orang-orang yang menyayangkan begitu besarnya minat generasi muda untuk menjadi PNS. Tuduhan seperti “jadi PNS terlalu cari aman” dan “kerjaan PNS kurang tantangan” adalah celotehan yang  banyak muncul.

Bahkan salah satu penulis terkenal yang beberapa waktu lalu memilih berhenti mendistribusikan karyanya lewat toko-toko buku akibat perkara pajak pun ikut berkomentar lewat facebook pribadinya. Ia menuliskan bahwa generasi hari ini tidak seharusnya sedemikian tertarik pada lowongan PNS atau juga karyawan BUMN. Generasi ini seharusnya bermental pengusaha. Membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya, bukan hanya sekadar mencari kerja.

Opini-opini di atas memang ada benarnya, dan kita sah-sah saja jika mau percaya. Tapi bagi saya sendiri, menganggap kerja sebagai PNS itu tidak menantang dan kita sebaiknya berbondong-bondong menjadi pengusaha saja adalah sebuah kalimat yang ceroboh.

Hari ini, telah banyak bermunculan startup yang sukses menjadi andalan baru masyarakat Indonesia untuk menjawab kebutuhan mereka. Sebut saja Tokopedia, Bukalapak, hingga Go-Jek sebagai beberapa contoh. 

Semakin hari, ketergantungan kita terhadap startup-startup itu terus bertambah, pengguna layanan mereka akan semakin banyak, dan startup itu akan semakin melesat menjadi perusahaan yang lebih besar.

Sampai di sini, mengajak orang untuk menjadi pengusaha, atau merintis startup mereka sendiri memang terlihat sebagai nasihat yang paling bermanfaat.

Tapi tahukah kita bahwa dibalik melesatnya startup-startup itu, ada kebijakan dan regulasi pemerintah yang tergopoh-gopoh mencoba mengimbangi?

Kita rasanya masih ingat bagaimana taksi konvensional meributkan soal tidak adanya regulasi jelas yang mengatur taksi online.

Baru-baru ini Aulia Nastiti juga menuliskan di sini soal masih lemahnya perlindungan hukum untuk para relasi kerja semi informal seperti dalam kasus ojek dan taksi online.

Dan sadarkah kita seberapa banyak transaksi yang terjadi secara online setiap harinya?

Sadarkah kita bahwa tranksaksi-tranksaksi itu begitu leluasa terjadi tanpa ada sistem yang bisa mengawasi, apalagi pajak yang membebani?

Mungkin akan lebih mudah jika tranksaksi ini terjadi di wadah seperti Tokopedia ataupun Bukalapak, tapi bagaimana dengan tranksaksi yang terjadi antara online shop berbasis instagram yang langung terhubung dengan konsumennya tanpa ada perantara lain?

Seperti apa regulasinya? Apakah perlu tranksaksi ini dibebani pajak pertambahan nilai (PPn) seperti barang-barang yang dijual di Mall? Lalu bagaimana soal hukum yang melindungi konsumen semacam ini?

Di sinilah peran PNS bisa menjadi penting. Untuk mengkaji keadaan yang sedemikian cepat berubah dan menghadirkan kebijakan yang cepat tanggap.

Dalam ranah startup, ada sebuah metode operasional yang biasa disebut agile. Di mana sebuah tim diarahkan untuk bisa produktif menghasilkan inovasi baru dalam waktu yang singkat. Mindset agile inilah yang menyebabkan startup bisa tumbuh besar dan menjadi raksasa dengan cepat.

Nah sekarang, waktunya pemerintah memiliki mindset yang sama. 

Tantangan sudah hadir di depan mata, PNS seharusnya tidak lagi lekat hanya dengan pekerjaan administratif. Sudah saatnya pemerintah memberdayakan mereka untuk menggagas revolusi birokrasi agar bisa semakin lancar, serta terus mengkaji regulasi agar bisa menjawab kebutuhan yang ada. Komunikasi antar lembaga perlu diefisienkan, kerja tiap pegawai perlu diefektifkan.

Dan inilah kenapa saya anggap, menghimbau generasi ini untuk tidak lagi menjadikan PNS sebagai pilihan utama adalah sebuah kalimat yang ceroboh.

Karena jelas-jelas kebutuhan untuk PNS-PNS yang berkualitas itu ada, dan tantangan yang menunggu juga sama menyeramkannya.

Jika bekerja pada pemerintah terus dianggap jadi prioritas kesekian, ya yang terjadi adalah birokrasi berbelit yang terus terpelihara dan regulasi yang selalu terasa ketinggalan jaman.

Itu yang saya bahas baru perkara regulasi untuk industri-industri online. Belum perkara pemerataan pendidikan, kesejahteraan, ketersediaan energi, infrastruktur, atau juga soal pembakaran hutan.

Jadi makanya saya berpesan.

Untuk kalian-kalian yang merasa pintar, merasa punya kompetensi, merasa suka tantangan, jangan semuanya pada nyemplung mencari tantangan pada perusahaan-perusahaan.

Coba dong tantangan yang lebih besar: mengurus negara.

Berani?


Gilang KR adalah penulis dari buku Bahagia Setengah Hati dan merupakan salah satu bagian dari tim internal BagiKata. Perdamaian dunia antara fans Marvel dan fans DC merupakan salah satu hal yang dia percaya bisa dicapai suatu saat nanti.

Disunting oleh tim BagiKata.

Semua foto diambil dari situs www.unsplash.com


  • SuryantinaH

    Sungguh pemikiran yang tidak mainstream..
    Tulisan yang keren, Kak Gilang!!

YANG TERBARU

Warga Lokal – Bunuh Diri: Tak Pandang Bulu

BagiKata.com – Beberapa tahun lalu, saya mendapat pesan singkat dari teman dekat saya. Bahwa dirinya ingin bercerita. Tumben, pikir saya. Kondisi kami


Serba-Serbi Menstruasi

BagiKata.com – Siklus menstruasi merupakan siklus yang dinamis. Setiap perempuan bisa mengalami siklus yang berbeda dengan perempuan lainnya. Variasi ini biasanya normal.


Warga Lokal – Hidup Lebih Positif dengan Rutin Bersyukur

BagiKata.com – Hidup positif (baca: bahagia) itu tidaklah sulit. Terkadang hal-hal kecil yang tidak kita sadari membuat kita bahagia loh. Sayangnya,