Sudah siapkah kamu menghadapi lebaran? Jika keluargamu termasuk keluarga yang memegang teguh tradisi perayaan bersama keluarga besar, baik dengan mudik ke kampung halaman maupun sekedar silaturahmi, kamu akan menerima “serangan-serangan” tidak terhindarkan dari keluarga besar.
Meski tidak semua dari pertanyaan ini menyebalkan -bahkan mungkin beberapa betul ditanyakan dengan niatan tulus- tidak jarang pertanyaan-pertanyaan ini menyergapmu saat
Penjelasan: Menerima pertanyaan ini, kamu tidak perlu langsung tersinggung atau
Jawaban: “Iya, Tante. Aku emang lagi program
Penjelasan: Meski kamu adalah manusia tercerahkan yang sudah cukup imun dan dewasa menghadapi mitos-mitos “Kampus Unggulan dan Kampus Non Unggulan”, “PTN Bagus, PTS Bapuk”, serta mitos-mitos lainnya terkait universitas, banyak dari keluarga kamu yang masih mempercayai mitos tersebut dan akan menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap PTS lewat raut muka atau perlakuan yang berubah. Jangan khawatir. Gunakan trik psikologi “Benjamin Franklin Effect” dan buat pembicaraannya lebih menyenangkan.
Jawaban: Jawab jujur saja, apapun kenyataannya. Kuncinya bukan pada apakah mereka setuju dengan kampus dan program studi pilihanmu atau tidak, melainkan ke arah mana pembicaraan berikutnya mengalir. Kuncinya: buat mereka merasa berguna dengan banyak-banyak bertanya mengenai program studi yang kamu sasar, tanyakan apakah mereka punya teman yang pernah berkuliah di jurusan tersebut. Jika jawaban mereka kurang memuaskan, beri penutup pamungkas yang mengalihkan beban pembicaraan pada mereka: “Kalau nanti om ada info, kasih tahu aku, ya!”
Penjelasan: Menikah dan beranak-pinak merupakan tradisi yang sangat esensial dalam lembaga keluarga. Karenanya, jangan heran kalau ini menjadi pertanyaan langganan. Intervensi keluarga tidak akan berhenti meski kamu membawa gandengan. Karenanya, jangan langsung tergiur dengan tawaran jasa “pacar sewaan” yang beredar di FJB Kaskus. Salah-salah, kedokmu terbongkar dan kamu jadi malu sendiri. Lebih baik, beri jawaban jujur dan banyak-banyak bertanya untuk mengalihkan fokus pembicaraan pada mereka.
Jawaban: “Wah, belum punya pacar, Tante. Tante waktu kuliah apa triknya, sih, koq bisa banyak pacar? Dulu, jaman Tante, kalo anak muda pacaran, ke mana, sih?”
Kadang, anggota keluarga yang usil dengan pertanyaan-pertanyaan menjebak hanya ingin ngobrol panjang-lebar dengan kamu. Karenanya, alihkan beban pembicaraan ke mereka, supaya kamu hanya perlu mengangguk-angguk saja atau melontarkan pertanyaan-pertanyaan pancingan supaya mereka lebih banyak bercerita.
Bagaimana dengan kamu? Apa kamu juga punya siasat-siasat unggulan untuk “menangkis” pertanyaan-pertanyaan berpotensi menyebalkan yang sering diutarakan saat lebaran? Atau, kamu punya pertanyaan-pertanyaan lebaran yang lebih menyebalkan?